Kisah Miris Pasutri yang 3 Anaknya Wafat Akibat Sakit di Mata

MEDAN, KabarMedan.com | Daud Alfaro Gultom (1,5) terlihat duduk di pangkuan ibunya sambil mengisap dot. Sesekali ia menangis, lalu mereda setelah diberi dot berisi air putih.

Mata kirinya diberi perban. Sementara, mata sebelah kanan melihat-lihat sekeliling seperti ketakutan dengan tiga orang asing yang ada di sekitarnya. Dia pun mendekat ke pelukan Ibunya. Daud berada di rumah Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU), Jalan Dr Mansyur, Medan, karena mengalami sakit di matanya.

Daud merupakan anak dari pasangan suami istri Husor Rumanto Gultom (32) dan Delina Hutagaol (33) warga Desa Huta Suka Dame, Nagori Tiga Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Pasutri ini mengaku mempunyai lima orang anak. Namun, tiga orang di antaranya meninggal dunia di usia 2-3 tahun. Mereka mengidap penyakit di mata. Kini, satu anaknya lagi mengalami sakit yang sama seperti kakak-kakaknya.

Penyakit yang sama, sudah merenggut tiga orang anaknya. Dia berharap satu anaknya lagi, Apoy Manahan Gultom hidup sehat dan tidak mengalami nasib yang sama dengan saudara-saudaranya. Husor menceritakan kisahnya

Ditemui di lantai 5, kamar Cendana 10 RS USU pada Rabu (27/11/2019), Husor menceritakan kemalangannya. Bermula pada tahun 2014 anak pertamanya Putri Delima Gultom yang menginjak usia 2,5 tahun mengalami sakit di mata sebelah kirinya. Husor lalu membawa putrinya ke puskesmas. Dirinya sempat mengira sakit yang diderita anaknya seperti katarak, namun ternyata tidak.

Baca Juga:  Gubernur Bobby Nasution Dorong Penambahan Event dan Skatepark di Sumut

“Seperti mata kucing. Di bagian tengah bola matanya bening, jika dipandang bisa tembus ke dalam. Jadi saya bawa ke puskesmas sebulan sekali. Tak mengira akan sampai seperti itu,” katanya.

Selain ke puskesmas, ia juga membawa putrinya ke pengobatan alternatif karena tidak memiliki biaya. Tak lama setelah itu, ia lalu diberitahu temannya untuk mengurus BPJS.

“Baru sehari dipakai, ia (putri-red) meninggal. Saat meninggal mata sebelah kanannya ada benjolan sebesar bola kasti,” ujarnya.

Saat Putri meninggal dunia, anak keduanya Renaldi Gultom sudah berumur 1,5 tahun. Ia juga mengalami gejala yang sama, mata kucing di mata sebelah kirinya.

Dari pengalaman anak pertama membuat Husor sigap dengan langsung membawa Aldi ke rumah sakit. “Dia kena saat usia 2 tahunan. Langsung dibawa ke rumah sakit, dikemo. Mata kirinya bengkak,” ungkapnya.

Terakhir kali, katanya, Aldi bermain di kolong rumah. Kepalanya terbentur dan benjol. Ia langsung membawanya ke rumah sakit di Medan dan kepala anaknya sempat dironsen. Pada hari H akan dioperasi, dokter menyatakan benjolan tidak bisa disedot.

“Tiga hari kemudian kubawa pulang. Istilahnya daripada meninggal di rumah sakit, lebih baik di rumah. Bisa bersama dulu untuk sementara. Kata dokter sudah menjalar tumornya,” cetusnya.

Baca Juga:  Pemprov Sumut Hentikan Aktivitas Tambang Ilegal di Deliserdang dan Sergai, Pelaku Usaha Diminta Urus Izin

Setelah Aldi meninggal pada 2015, Husor sekeluarga pindah ke rumah keluarga istrinya di Desa Parhitean, Kecamatan Pintu Pohan, Toba Samosir. Ia berharap, tidak ada lagi anaknya yang sakit.

Namun, kemalangan tidak berhenti menghantui Husor. Anaknya Sefania Gultom yang berusia 2 tahun juga terkena sakit yang sama. Ia pun membawanya ke puskesmas dan rumah sakit. Ia juga memutuskan penanganan Sefania dengan pengobatan tradisional. Di tahun 2017, Husor kehilangan anaknya untuk ketiga kali.

Derita Husor belum berhenti. Anaknya yang paling kecil bernama Daud Alfaro Gultom saat ini harus dirawat di rumah sakit. Mata sebelah kirinya diperban karena membengkak diawali dengan mata kucing.

“Mata kucingnya kadang hilang, kadang muncul. Pertama kali muncul saat usia 7 bulan lalu menghilang. Lalu usia 10 bulan muncul lagi,” katanya.

Ia berharap, anaknya bisa sembuh. Kedatanganya ke RS USU tidak lepas dari campur tangan Bupati Simalungun, JR Saragih yang menyuruh stafnya mengantarkan anaknya ke rumah sakit dan memberikan bantuan Rp10 juta untuk keperluan selama perawatan.

“Mudah-mudahan ini yang terbaik untuk anak saya. Tanpa orang itu, mungkin sekarang kami belum di sini. Ini rejeki Daud,” jelasnya. [KM-05]