LAPK : BBM Naik Turun, Pemerintah Terapkan “Teori Balon”

balon

KABAR MEDAN | Pemerintah resmi menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Januari 2015. Harga premium perliter sekarang menjadi Rp 7.600,-, harga solar menjadi Rp 7.250,-, dan harga minyak tanah tetap di Rp2.500,-. Langkah itu diambil sebab memang seharusnya harga BBM di Indonesia turun karena harga minyak mentah dunia turun jauh di bawah patokan harga APBN.

Catatan penting sebelumnya bahwa naiknya harga BBM beberapa waktu lalu membuat beban masyarakat semakin besar. Dengan turunnya harga BBM kali ini, diharapkan beban masyarakat juga ikut turun.

“Masalahnya harga BBM boleh turun. Tetapi, bagaimana dengan upaya menormalkan kembali harga kebutuhan pokok yang ikut naik saat kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Sebab harga barang-barang sudah terlanjur naik dan dinaikkan. Subsidi tarif kereta api juga dinaikkan. PT KAI menaikkan tarif sebesar 150 persen seiring dengan pencabutan subsidi atau Public Service Obligation (PSO) oleh pemerintah,” kata Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen, Farid Wajdi, Senin (5/1/2015).

Sementara, harga elpiji 12 Kg juga dikerek naik lebih kurang 30%. Tarif dasar listrik (TDL) juga dinaikkan secara regular. Begitu pula tarif transportasi umum yang terlanjur naik.

“Pertanyaannya, bagaimana pemerintah harus mengontrol harga-harga barang dan komoditas publik lain yang sudah terlanjur dinaikkan di lapangan?,” ujarnya.

Dilain pihak, Menko Bidang Perekonomian Sofyan Djalil, menegaskan bahwa harga barang-barang kebutuhan seharusnya ikut turun menyusul turunnya harga bahan bakar minyak. Pun juga dengan tarif transportasi umum. Bahkan harga barang-barang di masyarakat pun harusnya mengikuti dan itu terikuti. Tetapi ternyata substansi pernyataan pemerintah melalui Menko Perekonomian tidak atau belum kelihatan dampaknya.

“Jika dilihat secara teori kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM tetapi menaikkan harga komoditas lainnya, fenomena tersebut dapat dikatakan sebagai efek teori balon. Siapapun menyukai balon karet sebagai mainan. Bila balon ditiup dengan udara akan menggelembung. Udara harus distop dimasukan ke dalam balon bila kelenturan karet semakin berkurang. Balon yang berisi udara bila dipijat oleh tangan akan menggelembung ke sisi lain sesuai dengan kekuatan pijatan,” cetus Farid.

Menurutnya, bila balon tersebut di pijat di sisi lain, akan menggelembung ke sisi lainnya. Itulah kemudian yang terjadi dengan kebijakan naik turunnya harga BBM. Seolah pemerintah berusaha menyelesaikan suatu masalah. Pemerintah keinginan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cepat yakni dengan menurunkan harga BBM. Tetapi penurunan itu tidak direspon pasar.

Pelaku usaha, termasuk yang bergerak di bidang transportasi tidak menyesuaikan harga atau tarif dengan harga baru BBM. Harga barang-barang tidak ikut turun menyusul penurunan harga BBM. Penyesuaian harga barang-barang itu cuma ada saat dinaikan, tapi tidak saat BBM diturunkan. Itulah teori efek balon, karena tanpa disadari penerapan teori balon tidak menyelesaikan masalah sebenarnya, pemerintah melakukan tindakan secara parsial saja

“Pelajaran pentingnya adalah keputusan pemerintah kembali menurunkan harga BBM menjadi pelajaran dalam mengambil setiap kebijakan. Sebab ini menunjukkan kesan pemerintah yang terburu-buru dalam membuat kebijakan. Setiap mengambil kebijakan harus dikaji dan dipikirkan terlebih dahulu secara matang dan dalam. Artinya, biaya hidup sudah pasti naik. Sedangkan penghasilan kebanyakan rakyat masih tetap begitu saja. Penurunan harga BBM kali ini tak begitu berpengaruh apapun bagi masyarakat,” pungkas Farid. [KM-01]

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.