Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 1.000 Pohon Khas Melayu Ditanam di Bantaran Sungai Deli

MEDAN, KabarMedan.com | Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati dengan berbagai cara. Di Kota Medan, momentum tersebut diwujudkan melalui penanaman 1.000 pohon khas Melayu di bantaran Sungai Deli, Sabtu (6/6) di Kawasan Hutan Kota, Jalan Eka Sama, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor.

Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia Sumatera Utara (PW ISMI Sumut), Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.A. mengatakan, penanaman 1000 pohon merupakan bentuk aksi nyata dalam merespons krisis lingkungan yang saat ini terjadi, mulai dari polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya risiko bencana banjir.

“Kegiatan tanam seribu pohon ini dalam rangka menunjukkan aksi nyata kita terhadap kecintaan kita terhadap alam. Hari ini kita melihat di mana-mana terjadi krisis lingkungan yang berdampak negatif terhadap kehidupan, salah satunya banjir,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa dipandang secara terpisah karena memiliki keterkaitan antara kondisi sungai, tutupan vegetasi, dan kawasan resapan air. Karena itu, ISMI bersama GJI menginisiasi program penghijauan dengan menanam pohon-pohon khas Melayu seperti sukun, matoa, dan rambutan.

Pemilihan kawasan Sungai Deli, lanjut dia, juga dinilai memiliki nilai historis dan ekologis. Dalam catatan sejarah, Sungai Deli pernah menjadi jalur transportasi penting dan menjadi bagian dari perkembangan Kesultanan Deli.

“Ini jantung Kota Medan dan menjadi ikon peradaban Melayu. Jika kawasan ini dibenahi, saya yakin wilayah hilir Kota Medan dapat mengurangi risiko banjir,” katanya.

Program penanaman akan dilakukan secara bertahap di sepanjang bantaran Sungai Deli hingga kawasan Marelan. ISMI menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak berhenti pada seremoni, tetapi akan terus dipantau agar pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.

Baca Juga:  Bobby Nasution Minta OJK Perkuat Sinergi di Sumut Dukung Program Tiga Juta Rumah

“Kita pastikan seribu pohon ini dikawal dan dirawat sehingga benar-benar menjadi bagian dari penghijauan Kota Medan,” ujarnya.

Menanggapi berbagai tekanan terhadap Sungai Deli, seperti pencemaran, permukiman, pembangunan properti, hingga perubahan alur sungai, ISMI menyatakan akan terus memberikan masukan berbasis kajian ilmiah untuk mendukung penataan kota yang lebih berkelanjutan.

“Kita akan melakukan kajian terus. Tidak hanya sampai pada penanaman pohon, tetapi juga memikirkan pengembangan ekosistem yang terkait dengan lingkungan,” katanya.

ISMI menegaskan bahwa sebagai organisasi non-profit, pihaknya berupaya mengambil peran sosial dengan membantu pemerintah dan masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk di bidang lingkungan.

“Kalau Kota Medan ini asri, hijau, dan sehat, maka yang merasakan manfaatnya bukan hanya kotanya, tetapi seluruh masyarakat yang hidup di dalamnya,” pungkasnya.

Hal senada diungkapkan Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo. Dikatakannya, Sungai Deli beserta daerah aliran sungainya merupakan benteng perlindungan bagi warga Kota Medan di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan cuaca ekstrem.

“Tanpa melindungi, melestarikan, dan memulihkan sungai beserta daerah alirannya, keselamatan warga akan selalu terancam,” ujarnya.

GJI menekankan upaya normalisasi sungai sebaiknya dilakukan dengan mengembalikan fungsi alaminya, bukan melalui modifikasi yang mengubah karakter sungai, seperti pelurusan alur atau pembangunan yang mempersempit bantaran.

Menurutnya, pembangunan di kawasan bantaran telah mengurangi ruang gerak air sehingga meningkatkan potensi luapan saat curah hujan tinggi.

“Sungai pada masa lalu memiliki ruang yang cukup untuk menampung debit air besar. Saat ini ruang tersebut menyempit akibat pembangunan di bantaran, sehingga banjir lebih mudah terjadi,” ujarnya.

Baca Juga:  Peringatan Hari Lahir Pancasila, Bobby Nasution Tegaskan Pancasila Jadi Jawaban Tantangan Global

Selain perlindungan kawasan hilir, GJI juga menegaskan pentingnya menjaga kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan di wilayah hulu dinilai akan berdampak langsung terhadap kemampuan sungai di hilir dalam mengendalikan aliran air.

“Oleh karena itu, sungai secara utuh, baik hulu maupun hilir, harus dilindungi. Keutuhan fungsi hidrologi sangat bergantung pada kondisi hulu DAS,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, GJI juga menyoroti minimnya ruang terbuka hijau di Kota Medan. Dengan luas wilayah hampir 30 ribu hektare, tutupan ruang hijau dinilai masih jauh dari ideal dan tersebar secara sporadis.

Karena itu, upaya pemulihan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat yang tinggal di sekitar sungai, tetapi membutuhkan dukungan seluruh warga Kota Medan. Masyarakat di bantaran sungai harus menjadi subjek dalam upaya pemulihan karena mereka yang terdampak langsung.

“Namun, seluruh masyarakat Kota Medan juga perlu mendukung inisiatif tersebut agar sungai dapat pulih dan perekonomian warga dapat tumbuh tanpa merusak ekosistem,” ujarnya.

Ketua DPP Warga Peduli Sekitar (Wa Pesek), Muhammad Adlin Ginting, mengatakan organisasinya lahir dari kepedulian masyarakat terhadap persoalan lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi.

Sejak berdiri, Wa Pesek telah menjalankan berbagai kegiatan sosial, seperti membantu korban banjir dan kebakaran, donor darah, khitanan massal, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pemberdayaan masyarakat di kawasan bantaran Sungai Deli.

“Yang dibutuhkan masyarakat di sini sebenarnya sederhana, yaitu rasa kepedulian. Bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga dari pemerintah dan semua pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap kondisi lingkungan ini,” ujarnya. [KM-09]