Perkembangan Harga di Sumatera Utara Kembali Mengalami Deflasi

Ilustrasi

MEDAN, KabarMedan.com | Perkembangan harga secara umum di Sumatera Utara kembali mengalami deflasi, yaitu -0,19% (mtm), dan merupakan level inflasi terendah untuk bulan Februari dalam 3 tahun terakhir. Kondisi tersebut sejalan dengan pola historisnya yang masih masuk periode panen. Deflasi tersebut didukung oleh deflasi pada kelompok Volatile Foods dan relatif rendahnya inflasi pada kelompok inti dan kelompok inflasi Administered Prices.

“Inflasi tahun kalender Sumatera Utara pada bulan Maret 2017 tercatat -0,32% (ytd), dibanding nasional yang mengalami inflasi (1,19%, ytd). Secara tahunan inflasi IHK Sumatera Utara menurun dari 4,98% (yoy) menjadi 3,91% (yoy), berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu sebesar 4% + 1% (yoy),” kata Kepala Grup Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Harreis Meirizal, Rabu (5/4/2017).

Kondisi cuaca relatif kondusif, menurut Harreis, mendorong kelompok Volatile Foods tercatat deflasi -1,14% (mtm), sedangkan bulan sebelumnya sebesar -3,43% (mtm). Penurunan harga terutama terjadi pada cabai merah dan sayur mayur seiring dengan masih primanya pasokan di pasaran. Aktivitas panen kembali berlangsung sesuai dengan polanya yang turut ditunjang oleh kondusifnya cuaca sehingga pasokan pangan di pasaran masih cukup baik.

“Penurunan pasokan akibat gagalnya panen bawang merah di beberapa sentra produksi, dan belum normalnya aktivitas melaut menyebabkan masing-masing kenaikan bawang merah dan ikan-ikanan. Selain itu, isu pembatasan impor jagung mempengaruhi ekspektasi pasar diperkirakan menyebabkan kenaikan harga daging ayam ras,” bebernya.

Pada kelompok inti, ekspektasi inflasi yang terkelola dengan baik yang disertai dengan belum kuatnya tekanan permintaan mendorong rendahnya tekanan inflasi. Dengan demikian, inflasi inti pada bulan Maret 2017 menurun dari 0,39% (mtm) menjadi 0,26% (mtm). Penurunan tekanan inflasi inti terutama disumbang oleh penurunan tekanan inflasi pada komoditas tarif pulsa ponsel serta gaun seiring dengan menurunnya permintaan masyarakat.

Ditengah masih berlangsungnya migrasi tarif listrik subsidi, tekanan inflasi Administered Prices masih tercatat menurun dari 0,79% (mtm) menjadi 0,17% (mtm). Penurunan tekanan inflasi juga disumbang oleh deflasi komoditas Angkutan Udara seiring dengan masih relatif rendahnya permintaan masyarakat.

Deflasi tersebut terjadi di semua Kota yang disurvei oleh BPS dan dengan disparitas yang cukup besar. Deflasi terendah terjadi di Kota Sibolga mencapai -0,70% (mtm) sementara di sisi lain Kota Pematangsiantar justru tercatat inflasi 0,17% (mtm). Dalam pada itu, kota Medan tercatat deflasi -0,20% (mtm) dan kota Padangsidimpuan tercatat deflasi -0,43% (mtm). Secara tahunan, inflasi di seluruh kota Survei Biaya Hidup (SBH) BPS di bawah 5%.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi Sumatera Utara di 2017 diperkirakan terjaga pada kisaran sasaran inflasi 4%±1% (yoy). Kondisi ini diperkuat dengan komitmen Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Provinsi Sumatera Utara untuk menjaga pasokan dan kelancaran distribusi bahan pokok khususnya dalam menghadapi musiman hari raya keagamaan. Mitigasi risiko terutama untuk mengantipasi inflasi dari penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah. [KM-01]