Prada Bambang Ditemukan Tewas Gantung Diri di Sel Tahanan Subdenpom Padang Sidempuan

Ilustrasi

PADANG SIDEMPUAN, KabarMedan.com | Prajurit Dua (Prada) Bambang Budiansyah Sitepu, personil TNI Yonif 123/ RW ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi sel tahanan Sub Denpom 1/2-3 Padang Sidempuan.
Korban tewas gantung diri dengan menggunakan tali sepatu PDL yang diikatkan kelehernya dan meletakkan tali tersebut ke jeruji besi kamar mandi sel tahanan tersebut.

Informasi yang dihimpun, Kamis (5/1/2015) malam menyebutkan, korban pertama kali ditemukan tak bernyawa oleh seorang PNS Subdenpom I/2-3 bernama Suluk A Siregar, yang  mengecek korban di sel tahanan.

“Saat dicek ternyata korban sudah gantung diri menggunakan tali sepatu PDL di dalam kamar mandi ruang tahanan,” ujar seorang personil TNI yang namanya enggan disebutkan.

Ia mengaku, korban diduga nekad mengakhiri hidupnya diduga lantaran mentalnya tidak siap untuk menjadi personil TNI tempur.

Baca Juga:  Kecelakaan Kerja di PT Aqua Farm Nusantara, Perusahaan Beri Dukungan Penuh kepada Korban

“Korban sudah berulang kali lari dari kesatuan dan setiap lari pasti dikembalikan ke kesatuan oleh ibunya. Terakhir pada awal tahun 2015, korban diantar oleh orang tuanya ke Subdenpom Padang Sidempuan,” ujarnya.

Dikatakannya, korban juga kerap diberi julukan “anak mama”, karena selalu dimanja.

“Orang tuanya memang berpangkat Kopral, namun kekayaannya melebihi Jenderal. Pada tahun sembilan puluhan, orang tuanya merupakan raja kayu di daerah Tapanuli Selatan,” katanya.

Selanjutnya, jasad korban dibawa ke Rumah Sakit TNI Losungbatu, Padang Sidempuan guna dilakukannya otopsi yang disaksikan Dandim 0212/TS Letkol Inf Uyat S.I.P, dan Wadan Yonif 123/RW Kapten Inf Andika Suseno.
Orang tua korban,  Ermina Wati (46) mengaku kematian anaknya sangat mencurigakan, karena  di sekujur tubuh korban terdapat sejumlah luka lebam seperti, perut, zakar dan di kepala.?

Baca Juga:  33 Tersangka Diamankan Selama Operasi Antik Toba di Sergai Bersama Sabu 46,82 Gram dan Ganja 2,6 Kg Lebih

“Sebelum anak saya meninggal, dia pernah disuruh atasannya langsung untuk menyerahkan uang senilai Rp 3 juta, tapi karena uang itu tidak sesuai dengan permintaan atasannya uang itu dilemparkan ke wajah saya,” jelasnya.
Ia juga mengaku, anaknya pernah disuruh untuk mengambil kayu di daerahnya namun ditolak oleh korban.?

“Saya sempat berkomunikasi dengan anakku melalui telepon seluler setelah pergi dari rumah.? Saya meminta kepada Pangdam I/BB untuk dapat menyelidiki kasus ini,” katanya. [KM-03]

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.