MEDAN, KabarMedan.com | Bank Indonesia menilai prospek pertumbuhan ekonomi Sumut tahun 2019 akan menguat. Hal ini didukung dengan berlanjutnya proyek-proyek strategis multi years di Sumut serta perbaikan daya beli masyarakat.
Tercatat pertumbuhan ekonomi Sumut mencapai 5,25 persen (yoy), tumbuh sedikit lebih rendah dari triwulan I 2019 (5,30%,yoy). Pencapaian lebih tinggi dari nasional (5,05%,yoy) dan Sumatera (4,62%,yoy), dengan pangsa pasar ekonomi Sumut 23,18 persen.
Demikian dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumut, Wiwiek Sisto Widayat pada Pelatihan Wartawan Kota Medan di Taman Simalem Resort, Merek, Kabupaten Karo, Kamis (26/09/2019).
Wiwiek menilai, perlambatan disebabkan kontraksi dari sisi ekspor sejalan dengan perlambatan ekonomi global, serta penurunan harga komoditas kelapa sawit di pasar internasional.
“Namun, perekonomian masih ditopang perbaikan konsumsi rumah tangga didukung realisasi THR menjelang HBKN Ramadan dan Idulfitri,” katanya.
Sementara investasi meningkat terutama dari komponen bangunan, seiring dengan realisasi belanja modal pemerintah yang sudah mulai berjalan.
Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi disebabkan sektor industri pengolahan terutama pada subsektor industri makanan dan minuman serta tembakau.
“Secara historis pertumbuhan ekonomi masih cukup stabil jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara spasial, pertumbuhan Sumut merupakan yang tertinggi ketiga di antara 10 provinsi di Sumatera,” ungkapnya.
Neraca perdagangan Sumut tercatat surplus di tengah tekanan eksternal mencapai US$1,91 miliar, dengan komoditas ekspor utama yakni, lemak dan minyak nabati (US$1,58 miliar), karet dan barang dari karet (US$0,59 miliar) dan produk kimia (US$0,50 miliar).
Untuk komoditas impor utama, yaitu mesin dan pesawat mekanik (US$0,15 miliar), ampas/sisa industri makanan (US$0,07 miliar) serta plastik dan barang dari plastik (US$0,08 miliar).
Ia mengatakan, ekonomi Sumut di tahun 2019 diperkirakan dapat tumbuh lebih tinggi dari tahun 2018 di kisaran 5,1-5,5 persen (yoy). Hal ini didorong dari peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah serta perbaikan net ekspor yang cukup signifikan.
“Meskipun diprakirakan dapat tumbuh lebih tinggi, ekonomi Sumut tetap memiliki resiko yakni resiko upside dan downside,” jelasnya.
Resiko upside berupa rencana percepatan penerapan program Biodiesel 30 dan intensitas pembangunan dari proyek infrastruktur pemerintahan baru yang lebih tinggi melebihi perkiraan awal khususnya di semester II 2019.
“Untuk resiko downside berupa penurunan WTV akibat perlambatan ekonomi global yang lebih dalam dari perkiraan semula, perlambatan harga CPO internasional akibat peningkatan produksi minyak nabati, dampak black campaign serta tren peningkatan harga pangan, tiket pesawat yang dapat menahan konsumsi dan aktivitas pariwisata,” pungkasnya. [KM-03]














