SoMan Tawarkan Solusi Untuk Penderita Diabetes

MEDAN, KabarMedan.com |  World Health Organization (WHO) merilis jumlah penderita diabetes dunia, yang naik menjadi 422 juta penderita. Sementara di Indonesia penderita diabetes diprediksi mencapai 21,3 juta pada tahun 2030.

Staf Divisi Endoktrin Metabolik RSUP H Adam Malik Medan, Dr Santi Syafril mengatakan, berdasarkan data Internasional Diabetes Federation (IDF) 2015, satu dari sebelas orang di dunia mengidap penyakit Diabetes Melitus (DM). Pada tahun 2040, diperkirakan kondisinya berubah menjadi satu dari sepuluh orang di dunia.

“Indonesia berada di urutan ke-7 sebagai negara dengan jumlah penderita Diabetes Melitus (DM) di dunia pada usia 20 – 79 tahun. Pada tahun 2040 angka itu akan merangkak ke posisi enam setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brasil dan Meksiko,” katanya dalam Seminar Kesehatan dengan tema “Peranan Complementary dan Alternative Medicine Dalam Manajemen Pengobatan Diabetes Mellitus Tipe”, yang digelar SoMan di Adimulia Hotel, Medan, Sabtu (25/2/2017).

Sementara itu, Direktur Utama PT Hervest Gorontalo Indonesia, M Yamin Lahay mengatakan, ongkos ekonomi akibat diabetes di Indonesia yang ditanggung pemerintah pada tahun 2005 hingga 2015 mencapai Rp800 triliun.

“Dari data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tercatat, pasien Diabetes Melitus (DM) mencapai 30 persen dari seluruh klaim atau mencapai Rp20 triliun pada tahun 2016. Diabetes dapat dikatakan penyakit dengan biaya mahal,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Triwulan II 2026 Tidak Naik

Diabetes Melitus (DM) disebabkan adanya penurunan hormon insulin yang di produksi oleh kelenjar pankreas. Penurunan insulin mengakibatkan gula darah yang di konsumsi tubuh tidak dapat di proses.

“Diabetes Melitus (DM) tipe 2 kebanyakan diakibatkan oleh obesitas, gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, pengelolaan Diabetes Melitus (DM) sendiri memerlukan penangangan secara multi disiplin yang mencakup terapi non obat dan terapi obat.

“Penggunaan obat herbal sebagai alternatif sebagai penyembuhan penyakit semakin meningkat di Indonesia. Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa obat herbal tidak mempunyai efek samping,” sebutnya.

Lebih lanjut, Guru Besar Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. H Aznan Leo berpendapat, obat herbal banyak digunakan masyarakat, namun kurang diterima oleh dokter. Hal itu disebabkan oleh adanya keterbatasan dalam penulisan resep.

“Kebebasan masyarakat dalam mengkonsumsi obat herbal perlu di waspadai, karena obat herbal tidak luput dengan efek yang merugikan. Belum lagi interaksinya bila diberikan bersamaan dengan obat modern,” jelasnya.

Untuk itu, penggunaan produk kesehatan khususnya obat herbal yang berkualitas dan teruji mutlak diperlukan agar konsumen merasakan khasiat dari obat herbal.

“Saat ini banyak obat herbal dipasaran mengklaim mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit secara instan, tanpa diketahui bahan baku, proses pengobatan dan uji ilmiah,” tambahnya.

Baca Juga:  Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Triwulan II 2026 Tidak Naik

Tim Ketua Peneliti SoMan dari Fakultas Farmasi Unversitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dr. Zullies Ikawati menjelaskan, Sozo Formula Manggata 1 (SoMan) merupakan produk kesehatan yang masuk ketegori jamu. Dimana, SoMan menggunakan 39 bahan alam pilihan yang direkomendasikan untuk meningkatkan sistem imun dan membantu pemulihan kesehatan masyarakat.

“SoMan telah melewati pengujian di Rumah Sakit Gadjah Mada, Yogyakarta mulai Desember 2015 hingga Mei 2016. Dalam pengujian, tim peneliti melibatkan pasien DM 2 (yang tidak tergantung insulin). Metode penelitiannya berupa randomized controlled trial, double blind, consecutive sampling, dan random allocation,” katanya.

Dia menjelaskan, penggunaan jamu tetes SoMan dengan dosis 10 tetes 3 kali sehari selama tiga bulan yang dikombinasikan dengan metformin menunjukkan penurunan FPG yang signifikan, dibandingkan dengan kombinasi plasebo dan metformin.

“Dalam pengujian didapatkan hasil sampel penelitian merasakan perbaikan penyakit menyerta. Misalnya, tidak mudah lelah, tidak mudah kesemutan, BAB lancar, nyeri tumit berangsur kurang, merasa fit dan daya tahan tubuh membaik, dan tidak mudah merasa kantukk,” ungkapnya.

Konsultan medis PT SoMan Indonesia, Dr I Ketut Widana mengungkapkan, kebanyakan pasien DM yang dijumpai telah mengalami stadium lanjut atau komplikasi, sehingga membutuhkan penanganan yang kompleks.

“Untuk menghindari resiko yang lebih parah, pasien harus konsisten dalam mengubah gaya hidup, terutama pola makan,” pungkasnya. [KM-03]