
MEDAN, KabarMedan.com | Kembali terjadi untuk ke sekian kalinya. Ternak sapi warga di Dusun Tualang Gepang, Desa Sampe Raya, Kecamatan Bahorok ditemukan sudah menjadi bangkai di kebun sawit dengan luka di bagian lehernya diduga akibat gigitan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Konflik harimau di Langkat sudah berulang kali terjadi.
Kepada wartawan, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Hotmauli Sianturi membenarkan telah terjadi konflik harimau. Bangkai sapi diduga akibat diterkam harimau tersebut ditemukan pada Senin (5/10/2020).
“Ya benar, kami sudah dapat laporannya. Tim masih di lapangan,” katanya ketika dikonfirmasi melalui aplikasi percakapan WhatsApp pada Rabu (7/10/2020).
Saat ditemukan harimau tersebut terdapat luka pada leher. Namun, pada foto lanjutan yang dikirimkannya, terlihat pada bangkai ternak sapi berukuran besar itu tersebut terdapat sudah robek pada bagian pinggulnya. Jejak-jejak yang ada di sekitar lokasi diduga merupakan jejak harimau. Berdasarkan kebiasaannya, harimau akan kembali memakan mangsanya setelah ditinggalkan.
Untuk mencegah kembalinya harimau ke lokasi tersebut, pihaknya membakar bangkai tersebut untuk menghilangkan jejak dan dominasi di lokasi tersebut. Begitupun, satwa liar tidak akan nyaman di lokasi pembakaran bangkai ternak sapi tersebut.

Dihalau Dengan Ledakan
Hotmauli mengatakan, berdasarkan data-data di lapangan, hasil camtrap, dan masukan dari banyak pihak, selain membakar mangsanya, juga menghalau kemunculan harimau dengan membuat suara ledakan dari senjata api, jeduman, dan juga petasan. “Bunyi-bunyian itu dilakukan pukul 17.00 sd 19.00 WIB,” katanya.
Berulangkali Terjadi
Konflik harimau di Langkat tercatat terjadi pada 2014, 2018, 2019. Bahkan, pada tahun ini, April – Mei terjadi 3 kali harimau memangsa ternak sapi warga. Pada Kamis (30/4/2020), kasus terjadi di Dusun Tanjung Naman, Desa Lau Damak, Kecamatan Bahorok. Pada Selasa (12/10/2020), terjadi di Dusun Penampen, Desa Sei Musam, Kecamatan Batang Serangan. Kemudian pada Sabtu (30/5/2020), di Dusun Selayang, Desa Lau Damak, Kecamatan Bahorok.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah V, Bahorok, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Palber Turnip mengatakan, salah satu penyebab masih terjadinya konflik harimau yang memangsa ternak warga karena masih adanya warga yang enggan mengkandangkan ternaknya serta menggembalakannya di dekat dengan hutan. [KM-05]













