78 Hektare Tanaman Cabai Merah Gagal Panen

MEDAN, KabarMedan.com | Sebanyak 78 hektare tanaman cabai merah di Batubara, Sumatera Utara mengalami gagal panen (puso), akibat terendam banjir. Sebagai penggantinya, para petani menginginkan adanya bantuan kacang hijau.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara (UPT PTPH Sumut) Marino mengatakan, banjir terjadi di Desa Gambus Laut (26 hektare), Titi Merah (20 hektare), Lubuk Cuik (15 hektare), Bulan-bulan (10 hektare) dan Perupuk (30 hektare).

“Dari 101 hektare tanaman cabai di Batubara, yang mengalami gagal panen (puso) ada 78 hektare,” katanya, Kamis (7/11/2019).

Ia menjelaskan, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut Dahler Lubis sudah turun ke lokasi untuk melihat langsung peristiwa itu. Saat itu, petani meminta bantuan untuk diberikan benih kacang hijau. Tanaman kacang hijau dipilih karena petani tidak memungkinkan lagi menanam cabai merah di lokasi tersebut.

Baca Juga:  Bobby Nasution Hadiri Peresmian 1.151 KM Jalan Inpres, Empat Ruas di Sumut Turut Diresmikan

“Petani ingin menanam kacang hijau karena di situ tidak mungkin lagi ditanam cabai. Pak Kadis juga telah menyanggupinya,” ungkapnya.

Benih yang akan diberikan kepada petani itu, katanya, diambil dari UPT Palawija Tanjung Selamat. “Di sana mereka ada benih kacang hijau, jadi dari situ diambil. Berapa banyak persisnya kurang tahu,” jelasnya.

Pada laporan per 25 Oktober 2019, tanaman cabai merah seluas 21 hektare di Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal juga mengalami gagal panen.

“Di sana juga gagal panen. 21 hektare mengalami puso semua,” cetusnya.

Baca Juga:  Bobby Nasution Dukung Penataan Kota dan Penguatan Pelayanan Publik di Tanjungbalai

Selain cabai merah, di Desa Lubuk Cuik dan Gambus Laut juga terdapat tanaman bawang merah seluas 10 hektare yang terrendam banjir. Hal ini disebabkan curah hujan masih tinggi dan airnya tanaman masih terendam membuat petani memanen lebih cepat.

“Usia panennya kan 2 bulan, nah ini baru 1,5 bulan dipanen. Kalau tidak dipanen bisa puso. Itu yang kita khawatirkan,” ungkapnya.

Meski demikian, bawang merah yang dipanen lebih awal sudah bisa dikonsumsi. Petani menjualnya ke pengumpul dengan harga Rp15.000 hingga Rp 17.000 per kg.

“Sekarang sudah habis dipanen semua. Alasannya daripada busuk, karena kondisinya terendam air,” pungkasnya. [KM-05]