[CEK FAKTA] Angka Covid di Jakarta Turun Pasca Unjuk Rasa, Benarkah?

KabarMedan.com | Aksi unjuk rasa penolakan undang-undang Omnibus Law terus digelar meski ditengah pandemi Covid-19.

Tak hanya buruh, seluruh kalangan dari mahasiswa, masyarakat, hingga pelajar ikut menyuarakan aksi protes mereka.

Sementara itu, ditengah situasi yang memprihatinkan ini, beredar luas informasi yang menyatakan angka Covid-19 di Jakarta menurun setelah aksi unjuk rasa yang melibatkan perkumpulan orang ramai digelar. Informasi itu pun beredar luas di sosial media.

Satu diantaranya, akun Twitter milik @adriCB8 yang memposting sebuah tautan berisikan artikel berjudul “Patahkan Kecemasan Klaster Baru, Covid-19 Jakarta Justru Menurun Pasca Unjuk Rasa”. Ia pun menyertakan narasi didalam postingan itu.

Berikut narasi lengkapnya :

DEMO tnyta meningkatkan Imun sseorg,terbukti unjuk rasa yg diikuti ribuan buruh dan mahasiswa bbrp hr kmrn tdk membuat klaster baru Covid19 malah justru menurun,berarti Demo Omnibuslaw kmrn skligus mengusir virus corona?
https://t.co/5AJ1hTgpJS

Artikel ini pun semakin viral dan mengundang banyak reaksi netizen. Akun lain pun ikut membagikan tautan yang sama. Seperti akun @_Mr__J03n4______ yang menyertakan narasi sebagai berikut :

Waduh, Jadi Makin Rajin Demo Nih Biar Corona Cepat Minggat… Mbuhlah, RUWET ??? https://t.co/vCKZtveSIm

Postingan itu pun menuai 312 tanggapan.

Benarkah angka Covid-19 di Jakarta menurun pasca aksi unjuk rasa digelar?

Dilansir dari tempo.co tidak adanya lonjakan jumlah kasus Covid-19 pasca demonstrasi Omnibus Law UU Cipta Kerja bukan berarti Covid-19 hanyalah konspirasi. World0meters mencatat SARS-CoV-2, virus Corona baru penyebab Covid-19, telah menginfeksi lebih dari 43 juta orang di seluruh dunia hingga 27 Oktober 2020. Sementara jumlah kasus Covid-19 di Indonesia telah mencapai 396.454 kasus dengan 13.512 kematian.

Pada awal Oktober 2020, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi memperkirakan Indonesia akan mencatatkan lonjakan masif jumlah kasus Covid-19 dalam 1-2 pekan.

Penyebabnya, klaster penularan baru lewat rangkaian demonstrasi besar di berbagai daerah yang dipicu oleh pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Namun, menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, seperti dikutip dari Kompas.com pada 26 Oktober 2020, tidak terdapat peningkatan kasus yang signifikan selama perpanjangan PSBB transisi sejak 12 Oktober.

Rata-rata persentase kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir adalah 9,9 persen dengan rasio tes 5,8 per 1.000 penduduk. Angka keterisian tempat tidur isolasi di 98 rumah sakit rujukan dalam dua pekan terakhir juga menurun.

Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan belum adanya lonjakan jumlah kasus Covid-19 di Jakarta bisa disebabkan oleh kombinasi dari dua faktor utama. Pertama, penerapan PSBB jilid II pada 14 September-11 Oktober 2020 dan PSBB transisi pada 12-25 Oktober 2020.

Kedua, jumlah tes dan tracing di Jakarta masih kalah dibandingkan dengan New York misalnya yang punya standar tracing minimal 30 orang.

Selain itu, belum adanya laporan yang menunjukkan lonjakan kasus Covid-19 yang disumbang oleh demonstran bisa disebabkan oleh beberapa hal.

Dari aspek lingkungan, kerumunan yang berada di ruangan terbuka memiliki risiko penularan yang lebih rendah, karena sirkulasi udara lebih baik, meski tetap ada peluang terjadinya penularan apabila tidak disertai dengan penerapan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Menurut Ahmad, risiko lebih tinggi justru ada di dalam rumah dan perkantoran, karena berada di ruangan tertutup dalam jangka waktu yang lama, apalagi jika sirkulasi udaranya yang buruk. “Karena itu, klaster keluarga dan perkantoran lebih banyak muncul,” kata Ahmad pada 27 Oktober 2020.

Dari aspek manusia, dalam hal ini demonstran, didominasi oleh kelompok usia muda yang secara umum kondisi kesehatannya lebih baik, meskipun ada sejumlah pasien Covid-19 yang berusia muda dengan gejala berat.

Namun, Ahmad mengingatkan kelompok usia muda tetap berisiko menjadi orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menularkan Covid-19 ke orang tua di rumah yang lebih rentan terinfeksi karena faktor usia atau memiliki penyakit penyerta. Sehingga, menurut Ahmad, demo justru berpeluang menambah kasus dari klaster keluarga.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kabar informasi tentang angka Covid-19 di Jakarta menurun pasca aksi unjuk rasa digelar merupakan disinformasi alias hoaks. Bahkan melakukan unjuk rasa dikeramaian justru berpeluang menambah kasus dari klaster keluarga. [Tim Fact Checker]