MEDAN, KabarMedan.com | Agenda pertemuan yang sudah direncanakan sebelum Idul Fitri 1442 H akhirnya disepakati untuk dilaksanakan pada Rabu 19 Mei 2021. Agenda itu adalah agenda rapat panitia Kongres ke IV PA GMNI, Nasional dan Daerah.
Agenda yang dibahas di DPP PA GMNI itu disepakati dengan DPD PA GMNI Jawa Barat selaku Panitia Daerah. Dalam diskusi awal antara DPP dan yang mewakili DPD Jawa Barat di rumah dinas Pimpinan MPR RI disepakati bahwa rapat itu nanti sekaligus audiensi, yang lebih tepat disebut kulonuwun ke pimpinan Daerah Jawa Barat, Gubernur Ridwan Kamil. Dari diskusi itu ditambahkan jadwalnya oleh pengurus DPD PA GMNI Jawa Barat untuk bersilahturahim dengan alumni GMNI di Bandung di saung, Alam Sentosa milik senior alumni GMNI Bandung, Kang Eka Santosa.
Rombongan DPP PA GMNI dan Panitia Nasional Kongres ke IV PA GMNI, sepakat berkumpul dan berangkat bersama dari rumah dinas pimpinan MPR RI. Kami semua sudah berkumpul sesuai waktu yang disepakti. Berselang beberapa menit kemudian, Ketua Umum DPP PA GMNI mengabarkan bahwa susunan agenda yang sudah dibagikan sehari sebelumnya akan berubah, karena jam 05 pagi kami dikabari oleh Bung Abdi Yuhana, Ketua DPD PA GMNI Jawa Barat, bahwa pak Ridwan Kamil hari itu masih berada di Jakarta melakukan pertemuan dengan Presiden dan beberapa orang menteri cabinet. Karena itu, agenda audiensi dengan Gubernur digeser dari jadwal semula pukul 10 pagi menjadi malam hari menunggu kedatangan Gubernur dari Jakarta.
Karena perubahan agenda itu, rencana awal rombongan yang akan berangkat jam 07 pagi, punya keleluasaan waktu dan akhirnya berangkat jam 08 lewat. Kami berangkat dengan 4 mobil langsung ke lokasi Kongres yaitu Hotel Trans Luxury Bandung. Rombongan dari Jakarta sudah ditunggu oleh pengurus DPD Jawa Barat, Bung Abdi, The Ineu dan kawan-kawan serta pengurus DPP yaitu Prof. Nanang dan Budi Aji Barata yang sudah tiba lebih dulu di Bandung.
Setelah cek Ballroom dan mendapatkan penjelasan mengenai layout acara, rombongan singgah untuk makan siang. Dari restoran kami bergerak ke Saung Jiwa Sentosa nya Kang Eka Santosa di Pasir Impun. Rombongan ternyata sudah ditunggu juga dengan hidangan pangan lokal yang disiapkan sendiri oleh Kang Eka. Jadilah kami makan double double, “kenyang perut senanglah hati”, kata pepatah bijak.
Setelah mencicipi hidangan special dari tuan rumah, rapat panitia pun dimulai. Rapat di ruangan terbuka dalam suasana santai, membuat suasana rapat sangat cair dan santai. Acara dibuka dengan sekapur sirih dari tuan rumah, Kang Eka Santosa. Beliau menyampaikan selamat dating dalam sapaan khas Sunda. Dilanjutkan dengan memberi penjelasan bagaimana saungnya yang beridi di atas lahan 5 hekar itu, awalnya adalah bukit tandus. Bang Taufik Kiemas lah yang punya andil ide awal dibangunnya saung itu. Senior alumni GMNI yang biasa disapa Bang TK itu ikut menyumbangkan puluhan ribu bibit kayu yang sudah tumbuh besar seperti pohon di hutan di atas bukit yang dulunya gersang itu.
Dipandu oleh ketua DPD PA GMNI Jawa Barat, acara selanjutnya sambutan dari Ketua Umum DPP dan penjelasan teknis dari Panitia Nasional terkait rangkaian kegiatan dan persiapan Kongres. Berhubung gerimis, acara dilanjutkan di saung.
Suasana rapat di saung menjadi lebih rileks dan cair karena semua yang hadir duduk lesehan melingkar. Nuansa rapat seperti musyawarah keluarga besar. Bicara dari hati ke hati sebagai keluarga besar. Senior alumni GMNI di Jawa Barat yang hadir diberi kesempatan untuk menyampaikan usul, saran dan pandangannya terkait Kongres.
Dr. Andi Talman, Prof. Nanang, Kang Eka, Kang Hendra, Teh Erni, Kang Cucu dan Bung Pamriadi menyampaikan gagasan dan ide dengan harapan Kongres Alumni kali ini adalah kongres yang menghasilkan ide-ide, gagasan dan pemikiran serta rekomendasi yang bisa menjadi acuan para pengambil keputusan di negeri tercinta ini. Kongres yang bisa menjadi legasi bagi alumni ke depan, bukan sekadar ritual pergantian pengurus.
Dr. Ahmad Basarah didaulat untuk memberikan Kultum sebagai penutup menjelang Maghrib. Tausiah penutup dari Ketua Umum mengamini semua ide, harapan dari semua yang hadir. Bung Baskara menyampaikan bahwa kongres kali ini memang didisain untuk menjadi Kongres Gagasan. Semua kegiatan pra kongres seperti webinar, FGD dengan pembentukan POKJA Rekomendasi, Organisasi dan Program adalah bagian dari ide itu. Bung Baskara juga menyampaikan, bahwa seharusnya semua dinamika dalam berorganisasi untuk kebaikan dan memperkuat barisan.
PA GMNI adalah wadah bersama dari semua spektrum latar belakang aktifitas alumni di berbagai lini kehidupan. Beliau mencontohkan bagaimana dirinya sebagai Sekjen GMNI Periode 1996-1999 yang melaksanakan Kongres GMNI XIII di Kupang, namun di saat yang bersamaan Bung Sonny Tri Danaparamita menginisiasi KLB. Tapi ketika sudah jadi alumni, mereka berdua malah bisa duduk bareng untuk saling memperkuat eksistensi di lapangan pengabdian.
Malam pun tiba, sambil menunggu agenda pertemuan dengan Gubernur Jawa Barat, rombongan diajak Kang Eka untuk berkeliling melihat lokasi Saung Jiwa Sentosa. Tepat jam 9 malam, rombongan bergerak menuju Pakuan, rumah dinas Gubernur Jawa Barat. Rombongan diterima Gubernur di ruang rapat. Ketua Umum DPP PA GMNI yang mengawali pembicaraan setelah memperkenalkan rombongan, secara singkat memberikan deskripsi soal sejarah GMNI dan kiprah alumni GMNI dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pak Ridwal Kamil menyampaikan bahwa banyak kesamaan antara sejarah kehidupan keluarganya yang tegas mendukung kemerdekaan Indonesia dan Pancasila dengan sejarah perjalanan keluarga besar nasionalis Soekarnois. Kakeknya menjadi korban dari penjajah Belanda dan DI/TII, om nya menjadi korban PKI. Karena kesamaan itu, Ridwan Kamil berterima kasih karena DPP PA GMNI memilih Bandung sebagai lokasi pelaksanaan Kongres Alumni GMNI.
Ridwan Kamil banyak bicara soal kecintaannya pada Bung Karno. Sejak menjadi Walikota Bandung, banyak situs yang menjadi jejak sejarah Bung Karno di Bandung yang dipugar dan diperbaiki. Penjarah Banceuy yang citranya melekat sebagai penjarah copet dan pejahat jalanan diperbaikinya. Ia merasa seperti penghinaan ketika Bung Karno dipenjara oleh Belanda disana. Jalan Cikapundung Timur oleh Pemkot pada masanya di tahun 2015 diubah menjadi Jalan Soekarno.
Kekaguman RK kepada Bung Karno tidak berhenti disitu. Di kediamannya juga ditunjukkan lukisan dengan konsep kontemporer yang tersusun dari garis-garis membentuk wajah Bung Karno dan patung Bung Karno dengan jari telunjuk yang menunjuk ke atas. Beliau mengaku lukisan dan patung itu sengaja ditaruh di ruang gantinya. Agar setiap pagi sebelum berangkat kemanapun ia diingatkan oleh Bung Karno akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.
Ridwan Kamil juga bercerita soal pengaruh dan nama besar Bung Karno bagi negara-negara di Asia dan Afrika yang berjuang memerdekakan dirinya dari belenggu kolonialisme berkat Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digagas Bung Karno. Pengaruh KAA di masa itu dirasakan oleh Ridwan Kamil hingga hari ini. Sebagai seorang arsitek, Ridwan Kamil bercerita bahwa ia diminta oleh pemerintah Aljazair untuk mendisain dan membuat Taman Soekarno di Aljazair, yang saat ini sudah selesai dibangun dan sedang menunggu finalisasi lokasi untuk membangun Taman Soekarno di Ekuador, sebuah negara di benua Amerika.
Di akhir penyampaiannya, Ridwan Kami menitipkan harapan agar Kongres Alumni GMNI menjadi kongres gagasan sehingga bisa menghasilkan rekomendasi bagaimana bangsa ini bisa menjawab tantangan terutama peradaban pasca pandemi Covid 19.
Setelah mencicipi hidangan khas Sunda yang disiapkan oleh Gubernur Jawa Barat, rombongan pun pulang kembali ke Jakarta dan tiba pada pukul 01 dinihari. [KM 06]














