JAKARTA, KabarMedan.com | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Rupiah di awal perdagangan, Kamis (16/12/2021), sedang dalam kondisi baik pasca pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed).
Namun sayangnya, setelah pengumuman Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait pasien pertama di Indonesia yang terpapar Covid-19 varian Omicron, IHSG yang sebelumnya menguat dari 0,5 persen berbalik melemah 0,48 persen.
Selain itu, rupiah yang menguat 0,14 persen dan nyaris menembus Rp 14.300/US$ di awal perdagangan berbalik melemah 0,07 persen di Rp 14.340/US$.
Sebelumnya, pasar finansial dalam negeri menghijau setelah pengumuman kebijakan moneter The Fed dini hari tadi tidak memicu gejolak di pasar finansial global yang disebut taper tantrum.
Dalam pengumuman tersebut, kebijakan yang diambil Ketua The Fed, Jerome Powell, beserta kolega semuanya sesuai prediksi pelaku pasar global.
Tidak ada kejutan, The Fed memang secara agresif mempercepat normalisasi kebijakan moneternya, tetapi semuanya sudah ditakar.
Tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) diperbesar menjadi US$ 30 miliar setiap bulannya dari saat ini US$ 15 miliar.
QE The Fed saat ini nilainya US$ 90 miliar sehingga mulai bulan Januari QE The Fed nilainya sebesar US$ 60 miliar, dan terus dikurangi setiap bulannya, hingga berakhir di bulan Maret.
Percepatan tapering tersebut persis dengan prediksi pelaku pasar, sehingga tidak ada kejutan.
Kemudian untuk suku bunga, dilihat dari Dot Plot anggota Federal Open Market Committee (FOMC), akan ada tiga kali kenaikan suku bunga di tahun depan.
Sesuai dengan perkiraan pelaku pasar, yang tercermin dari perangkat FedWatch milik CME Group.
Pasca pengumuman tersebut, yield obligasi AS (Treasury) tenor 10 tahun mengalami kenaikan 0,17 basis poin menjadi 1,4582 persen.
Kenaikan tersebut terbilang biasa saja, tidak ada lonjakan yield Treasury yang bisa memicu taper tantrum seperti di tahun 2013.
Selain itu, indeks dolar AS bukannya menguat malah turun 0,23 persen pada perdagangan Rabu.
Bank Indonesia (BI) telah menyelesaikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Desember 2021. Hasilnya, seperti dugaan, suku bunga acuan dipertahankan.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 15-16 Desember 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen,” jelas Gubernur Perry Warjiyo.
Di tahun ini, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 3 hingga 4,4 persen, sementara tahun depan bisa di atas 5 persen.
“BI perkirakan pertumbuhan ekonomi domestik 2022 tumbuh menjadi 4,7 persen sampai 5,5 persen,” tambahnya.
Sementara itu merespon kebijakan outlook kebijakan moneter The Fed, BI memprediksi hanya akan ada satu kenaikan, berbeda dengan Fed dot plot tiga kali kenaikan.
BI melihat The Fed baru akan menaikkan suku bunga di kuartal III atau IV tahun 2022. [KM-07]














