Asal-Usul, Arti Istilah dan Aksi Kejahatan Jalanan Klitih

Foto: Ist

JAKARTA, KabarMedan.com | Salah seorang pelajar berinisial D (18) asal Kebumen, Jawa Tengah, tewas usai terkena sabetan benda tajam yang dilakukan oleh terduga pelaku klitih di Jalan Gedongkuning, Yogyakarta pada Minggu (3/4/2022) dini hari.

Bagaimana sebenarnya sejarah klitih ini dimulai?

Istilah klitih kekinian dikenal sebagai fenomena penyerangan dengan menggunakan senjata tajam oleh sekelompok orang yang mengendarai motor.

Namun, tahukah bahwa sejarah klitih justru tidak seperti itu.

Aksi ini biasanya dilakukan secara bergerombol dengan menggunakan senjata tajam berjenis pedang, golok maupun gir sepeda motor yang telah dimodifikasi.

Aksi klitih di Yogyakarta ini marak terjadi hingga masyarakat geram.

Klitih pada umumnya terjadi di malam hari dengan menyusuri jalanan sepi. Pelaku langsung menyabet korbannya secara bergerombol hingga menimbulkan luka parah dan tak jarang menyebabkan kematian.

Baca Juga:  Pegadaian Kembali Raih Best Company to Work For in Asia 2026 untuk Kedelapan Kalinya

Arti klitih ini berasal dari bahasa Jawa yang diartikan sebuah aktivitas untuk mencari angin di luar rumah. Sementara itu, ada juga yang menyebutkan klitih dari sebutan ‘Pasar Klitikan’ di Yogyakarta yang mana merupakan aktivitas santai sambil mencari barang bekas atau dalam bahasa Jawanya “klitikan”.

Awalnya, istilah klitih memiliki makna positif yang menggambarkan seseorang mengisi waktu luangnya. Namun seiring berjalannya waktu, istilah klitih ini berubah menjadi sebuah tindak kejahatan dengan menyerang seseorang dengan acak.

Fenomena klitih ini sudah dimulai sejak awal tahun 1990-an ketika kepolisian mengelompokkan geng remaja di Yogyakarta.

Baca Juga:  Pegadaian Kembali Raih Best Company to Work For in Asia 2026 untuk Kedelapan Kalinya

Kepolisian diketahui telah memiliki informasi seputar geng remaja dan kelompok anak muda yang melakukan kejahatan.

Setelah orde baru, Wali Kota Herry Zudianto mengancam para pelajar yang terlibat tawuran akan dikeluarkan dari sekolah.

Dari hal tersebut, para pelajar kemudian berkeliling dan mencari musuh dengan cara berkeliling kota untuk melakukan aksi klitih.

Alasan dari anak muda melakukan aksi ini dikarenakan ingin mendapatkan pengakuan dari teman-temannya. Anak muda yang melakukan klitih mengklaim dirinya mendapatkan reputasi ‘bagus’ di lingkungannya.

Selain itu, anak muda juga memiliki permasalahan pribadi maupun keluarga yang cenderung dapat menjadi seorang pelaku klitih. [KM-07]