British Council Dukung Pengembangan Ketahanan Bencana Masyarakat Pesisir di Indonesia

BANDUNG, KabarMedan.com | Organisasi internasional asal Inggris Raya yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan British Council melalui program “Researcher Link” Newton Fund mendukung peningkatan kapasitas ketahanan bencana di Indonesia melalui penyelenggaraan lokakarya pengembangan ketahanan bencana masyarakat pesisir.

Lokakarya multi-disiplin yang berlangsung selama lima hari tersebut digagas oleh Global Disaster Resilience Centre, University of Huddersfield, Inggris Raya dan Pusat Kajian untuk Mitigasi Bencana, Institut Teknologi Bandung sebagai bagian dari program “Researcher Link” Newton Fund serta melibatkan berbagai periset dan praktisi yang memiliki keahlian di bidang ketahanan bencana.

“Tujuan penyelenggaraan lokakarya tersebut adalah untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana berbagai karakteristik masyarakatpesisir pantai dapat membangun ketahanan bencana serta mengembangkan kerangka dan mekanisme dalam menghadapi bencana,” kata Direktur Pendidikan dan Kemasyarakatan British Council, Teresa Birks, merangkum penyelenggaraan acara lokakarya yang berlangsung di Bandung, pada 28 Oktober – 1 November 2015.

Teresa Birks menambahkan lokakarya tersebut juga merupakan bagian dari upaya untuk mempererat kolaborasi antara periset dan institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan Inggris Raya.

“Dampak luar biasa dari bencana alam yang melanda wilayah pesisir Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kurangnya persiapan dan ketanggapan dalam situasi darurat, untuk itu perlu adanya sebuah wadah yang memungkinkan para pemangku kepentingan untuk membahas strategi dan mekanisme yang baik guna menghadapi tantangan tersebut,” katanya.

Baca Juga:  BPD Lubuk Dendang Laporkan Kades ke Polisi Diduga Tak Salurkan Tunjangan Selama 6 Bulan

Sementara itu, Direktur Global Disaster Resilience Centre, University of Huddersfield, Richard Haigh mengatakan, kompleksitas terkait pengembangan ketahanan bencana mengharuskan pihaknya untuk bekerja sama secara internasional dengan pendekatan keilmuan.

“ITB sangat terkenal atas kontribusinya dalam Sistem Peringatan Dini Samudra Hindia, hal itu melengkapi dengan keahlian dari Pusat Ketahanan Bencana Global Huddersfield dalam hal bangunan dan infrastruktur tahan bencana, sehingga menjadi dasar yang kuat untuk mengembangkan solusi yang inovatif guna melindungi masyarakat terhadap kerentanan bencana,” kata Prof. Haigh.

Prof. Haigh menambahkan lokakarya tersebut telah menghasilkan sebuah peta jalan bersama, yang akan dipublikasikan pada akhir tahun ini, dengan agenda 15 tahun ke depan yang dapat berkontribusi untuk pencapaian Sendai Framework for Disaster Risk Reduction.

Baca Juga:  Puluhan Emak-emak Geruduk SPBU di Dolok Masihul Akibat Langkanya BBM

Lokakarya yang juga mencakup kunjungan lapangan ke Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika dan proyek relokasi perumahan terdampak banjir di Pluit Jakarta tersebut melibatkan 34 periset dari berbagai universitas di Inggris Raya dan Indonesia. Lokakarya itu dipimpin oleh Professor Richard Haigh (University of Huddersfield, Inggris Raya) dan Dr Harkunti Rahayu (ITB) serta didukung oleh berbagai periset kenamaan seperti Professor Dilanthi Amaratunga dan Dr Kaushal Kerminiyage (University of Huddersfield), Dr Prih Harjadi dan Dr Hamzah Latief (ITB) serta Dr Nimal Wijayaratna, University of Moratuwa, Sri Lanka.

British Council mendukung program tersebut melalui mekanisme Newton Fund, yang merupakan dana sebesar 375 juta poundsterling dari pemerintah Inggris yang mendorong kemitraan di bidang ilmu pengetahuan dan inovasi dalam rangka pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang menjadi mitra pemerintah Inggris. Program Newton Fund merupakan bagian dari inisiatif UK Business, Innovation and Skills yang dilaksanakan di 15 negara berkembang termasuk Indonesia. [KM-01]