Orangutan Tapanuli Terluka, BBKSDA Sumut Dorong Solusi Trust Fund

Orangutan Tapanuli berjenis kelamin jantan mengalami luka di pelipis matanya. Foto Istimewa

MEDAN, KabarMedan.com | Akun Istagram @jakartaanimalaidnetwork Jumat tadi pagi me-repost foto orangutan yang kemudian viral.

Di foto tersebut, orangutan teesebut mengalami luka di pelipisnya. Keterangan yang ditulis dalam dua bahasa di bawahnya menjelaskan, orangutan tersebut sebagai orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) berjenis kelamin jantan.

Akun tersebut me-repost akun instagram @orangutaninformationcentre. Akun tersebut juga menautkannya ke @jokowi dan @siti.nurbayabakar dan @orangutan_tapanuli. Sejak diunggah 8 jam yang lalu, foto tersebut mendapat respon suka (like) sebanyak 3.559 dan 199 komentar.

Berikut keterangan di bawah foto tersebut (Satu individu orangutan Tapanulj jantan pada hari ini diselamatkan oleh tim yang terdiri dari BBKSDA Sumut dan OIC, dari perkebunan masyarakat yang berbatasan dengan Ekosistem Batang Toru di Desa Aek Batang Paya, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Orangutan ini diperkirakan berumur 30 tahun, sangat kurus dan mengalami luka parah akibat benda tajam di wajah dan punggung. Sekarang orangutan mengalami kondisi kritis dan mendapatkan perawatan medis. Orangutan tersebut ditemukan di wilayah perladangan masyarakat yang berpotensi sebagai koridor yang menghubungkan dua blok hutan – areal yang diidentifikasi sangat penting bagi keberlanjutan spesies sangat langka ini.

Bersama-sama dengan BBKSDA Sumatera, kami akan terus bekerja di lansekap Batang Toru untuk melindungi spesies kera besar paling terancam punah ini dari semua ancaman. #tapanuliorangutan #orangutan #SOS@jokowi @siti.nurbayabakar@orangutan_tapanuli).

Atas informasi tersebut, Camat Sipirok, Sarbin Hasibuan mengatakan, dirinya sudah menghubungi pihak BKSDA (baca ; BBKSDA Sumut) dan membenarkan bahwa ada satu orangutan yang dibawa dari Desa esa Aek Batang Paya, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan ke Medan.

“Tadi sudah saya telfon pihak BKSDA bahwa memang benar, orang itu langsung bawa ke Medan. Begini, sifat orangutan ini, kalau tak dihalau dia gak mau lari atau keluar dari pokok (pohon) durian kalau musim durian. Jadi kami tembak bius terus ke Medan, karena orangutan itu kan masih di atas pokok. Begitu katanya,” katanya, Jumat (20/9/2019).

Baca Juga:  Gubernur Bobby Nasution Dorong Penambahan Event dan Skatepark di Sumut

Dijelaskannya, di daerah tempat ditemukannya orangutan, banyak kebun durian milik masyarakat. Durian, kata dia, memang menjadi salah satu penghidupan orang “Kasus seperti ini, baru ini saya dengar. Ini tadi saya hubungi BKSDA. Kadesnya belum. Lagi rapat. Saya rasa saya rasa sama lah itu,” katanya.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam  Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Hotmauli Sianturi membenarkan adanya satu individu orangutan yang dievakuasi dari Sipirok lalu dibawa ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan di Batu Mbelin yang dikelola Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan BBKSDA Sumut dalam Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP).

“Iya betul ada dievakuasi satu orangutan dari sana sekarang lagi diobatin di karantina Batu Mbelin,” ungkapnya.

Mengenai luka yang diderita orangutan tersebut, dia enggan merincinya. Dia hanya menyebut bahwa orangutan tersebut ada luka di pelipisnya.

“Ada luka di pelipis, itu aja. Kemungkinan  orangtutan tapanuli karena terdapat dari daerah sana, dari ekosistem Batang Toru,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini di daerah tersebut saat ini sedang memasuki musim buah sehingga banyak orangutan yang turun ke kebun-kebun milik masyarakat.

“Ini masalahnya lagi musim buah di sana. Jadi memang orangutan itu banyak yang turun ke kebun-kebun makan durian, petai dan sudah cukup banyak durian yang dimakan. Kami khawatir mungkin ada aja petani yang kesal karena buah duriannya banyak yang tak bisa dipanen,” jelasnya.

Dikatakannya, selama dua bulan ini petugas BBKSDA Sumut setiap hari memonitor pergerakan satwa di sekitar ekosistem Batang Toru karena di daerah tersebut saat ini sedang memasuki musim buah.

“Ini masalahnya lagi musim buah di sana. Jadi memang orangutan itu banyak yang turun ke kebun-kebun makan durian, petai dan sudah cukup banyak durian yang dimakan. Kami khawatir mungkin ada aja petani yang kesal karena buah duriannya banyak yang tak bisa dipanen,” tambahnya.

Baca Juga:  Toba Caldera Culture Festival 2026 Hadirkan Kompetisi Paduan Suara Internasional

Supaya tidak terjadi konflik, ketika masyarakat melihat adanya orangtutan yang memakan buah di kebunnya agar menghubungi pihak BBKSDA Sumut. Sebab, orangutan merupakan satwa dilindungi.

“Walaupun dia makan durian gak usah lah diganggu atau sampai ada yang dilukai,” katanya

Namun demikian, pihaknya memiliki keterbatassan. Tidak mungkin setiap saat bisa menjangkay semua lokasi untuk diawasi terus menerus.

Pihaknya sudah melakukan penyadartahuan kepada masyarakat. Namun demikian, dia pun menyadari bahwa tidak mungkin menyalahkan sepenuhnya kepada masyarakat karena durian, misalnya, sudah sudah banyak yang dimakannya. Padahal menjadi penghidupan masyarkat.

“Teman-teman setiap hari turun karena begitu laporan, lagi di sini orangutannya, pas sampai di lokasi, memang dia lagi nongkrong di atas makanin durian, petai mereka. Kita usir pun, enggan dia berpindah dari sana karena mungkin banyak pakannya di sana,” katanya.

Trust Fund

Sebenarnya ada satu solusi yang bisa dilakukan yakni dengan merancang koridor perlintasan orangutan karena memang lokasi tersebut merupakan daerah perlintasannya. Sehingga, kata dia, penting untuk mempertimbangkannya. Mengingat di sekitarnya terdapat Cagar Alam Dolok Sibual-buali, Cagar Alam Sipirok, dan Cagar Alam Lubuk Raya.

“Memang itu sudah dirancang menjadi koridor pelintasan orangutan, ini yang akan didorong semua pihak terutama Pemda. Jadi ada semacam trust fund dari lembaga yang bergerak di ekosistem Batang Toru. Jadi mungkin kita bisa memberikan semacam kompensasi lah untuk buah yang dimakan satwa,” katanya.

Namun demikian, tetap harus ada perhatian dari semua pihak dan tak hanya dengan dana pemerintah.

“Ini yang mau kita himpun dari scheme koridor itu. Kalau semua menyepakati menjadi koridor kita akan mendorong terbentuknya semacam trust fund dari perusahaan besar, kalau ada kasus seperti ini bisa bantu masyarakat supaya bisa berbagi,” katanya. [KM-05]