Banjir Genangi Ribuan Hektare Lahan Sawah di Sumut

MEDAN, KabarMedan.com | Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara mencatat, seluas 1.576,6 hektare padi sawah di Sumatera Utara terkena banjir hingga periode Oktober.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Sumatera Utara, Marino mengatakan, banjir melanda di empat Kabupaten, yaitu Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Batubara, dan Deli Serdang.

Kabupaten Mandailing Natal mengalami kebanjiran paling luas, yakni 1263,5 hektare. Tiga Kabupaten lainnya, Tapanuli Selatan seluas 43,5 hektare, Batubara seluas 148 hektare, dan Deli Serdang seluas 121,5 hektare.

“Total lahan padi sawah yang terkena banjir itu seluas 1.576,6 hektare, dengan yang mengalami puso seluas 233,2 hektare,” katanya, Jumat 1/11/2019).

Ia menjelaskan, varietas padi yang ditanam petani bervariasi, yakni ciherang, inpari 32-39 mekongga. Begitu juga dengan usia tanaman, mulai dari 1 hingga 40 hari. Menurutnya, masih ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh petani yang lahan padi sawahnya terkena banjir.

Baca Juga:  Raih WTP ke-12 Berturut-turut, Bobby Nasution Minta Aparatur Tetap Jaga Integritas

Ada tiga hal yang direkomendasikan, pertama menginstruksikan kepada petugas POPT-PHP agar meningkatkan pengamatan, untuk melihat perkembangan dampak bencana alam banjir terhadap pertanaman dan melaporkannya.

Kedua, melakukan pompanisasi dan permbersihan saluran irigasi serta mengaktifkan posko-posko baik di tingkat Kecamatan maupun Kabupaten.

Ia menjelaskan, jika pertanaman padi sawah mengalami puso, petani padi masih lebih beruntung daripada petani hortikultura seperti cabai dan bawang.

“Bantuan untuk padi sawah itu ada dari Cadangan Benih Daerah (CBD),” jelasnya.

Baca Juga:  Gubernur Bobby Nasution Dorong Penambahan Event dan Skatepark di Sumut

Rahmad, seorang petani di Desa Sidodadi, Kecamatan Beringin, Deli Serdang mengatakan, curah hujan memang tinggi hingga kini sejak Oktober lalu. Namun, sebagian petani masih terbantu dengan adanya alat untuk memompa.

“Jika banjir ya dilakukan pompanisasi. Itu untuk buang airnya. Kalau tidak parah ya. Mudah-mudahan jangan banjir lah. Sayang kali kalau udah mau panen tapi harus memulai dari awal karena kebanjiran,” tambahnya.

Hal senada dikatakan petani di Desa Karanganyar, di Kecamatan yang sama, Karmin. Menurutnya, selama saluran irigasi terjaga dengan baik, maka banjir bisa dihindari.

“Banjir itu kan karena alurannya penuh atau ada sumbatan. Kalau itu beres, tak akan banjir. Untungnya di sini irigasi sudah bagus,” pungkasnya. [KM-05]