Ancaman Resesi Ekonomi Global Kian Nyata dan Tidak Dapat Dihindari

Foto: Ist

MEDAN, KabarMedan.com | Kekhawatiran akan rilis data inflasi di AS menjadi momok yang menakutkan bagi pasar keuangan global. Kekhawatiran tersebut memicu terjadinya tekanan pada bursa global termasuk IHSG dan Rupiah.

Pada perdagangan hari ini IHSG ditutup melemah 1.34 persen di level 7.086,65. Rupiah melemah tajam di level 14.565 per US Dolar.

Pelemahan IHSG dan Rupiah terjadi saat mencuatnya ancaman resesi. Ancaman resesi di banyak negara besar saat ini juga turut memicu ekspektasi bahwa resesi akan merembet ke banyak negara lain tanpa terkecuali Indonesia.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan yang menjadi indikasi kuat bahwa resesi akan terjadi adalah kenaikan harga energi maupun bahan pangan, yang membuat banyak Bank Sentral di dunia menaikkan bunga acuannya.

Kondisi ini diperparah dengan inflasi yang naik belakangan ini bukan dikarenakan oleh sisi permintaan yang mencerminkan adanya pemulihan ekonomi.

Tetapi justru dipicu oleh kenaikan harga energi maupun harga pangan yang dimotori oleh masalah gangguan supply akibat perang, serta kebijakan embargo ekonomi.

Baca Juga:  Jadwal Seleksi KI Sumut 2026–2030 Disesuaikan, Tahapan Berubah Tanpa Ubah Substansi

“Kalau inflasi yang meroket tersebut lebih dikarenakan oleh faktor pemulihan ekonomi, yang mendorong demand, maka tercipta pertumbuhan ekonomi yang bisa kita nikmati bersama,” ucap Gunawan Benjamin, Jumat (10/6/2022).

Namun, menurut Gunawan, masalah inflasi saat ini bukanlah seperti itu. Pertumbuhan ekonomi baru memulai pemulihan setelah pandemi.

Angkanya baru bergerak naik dengan akselerasi yang moderat, namun justru dihantam dengan lonjakan harga kebutuhan hidup (inflasi) yang baru terjadi bahkan dalam 40 tahun terakhir.

Alhasil, bunga acuan terpaksa harus dinaikkan, dan resesipun muncul di depan mata. Gambaran resesi tersebut makin hari semakin terlihat.

Inflasi seakan tidak bisa diredam, yang bisa memicu gangguan stabilitas ekonomi di banyak negara. Bagi Indonesia, memang konsumsi rumah tangga itu mendominasi pertumbuhan ekonomi (sekitar 50%).

Akan tetapi jika terus di backup dengan bantuan sosial, sementara inflasinya tidak bisa dikendalikan. Maka tetap saja akan menimbulkan masalah dimana daya beli masyarakat berpeluang tertekan.

Baca Juga:  Pertamina Perkuat Sinergi dengan BIN, Dukung Kelancaran Distribusi Energi

“Kita bisa saja menilai bahwa resesi yang terjadi pada ekonomi global mungkin tidak akan berdampak begitu signifikan terhadap perekonomian di tanah air,” tuturnya.

“Tetapi kita tidak akan pernah bisa menghindari resesi itu sendiri. Dia (resesi) akan datang dan menghampiri kita, tinggal tergantung seberapa kuat kita berhadapan dengannya. Skenario resesi seperti masa pandemi kemarin bisa terulang kembali,” tambahnya.

Gunawan Benjamin menjelaskan, apabila berandai-andai bahwa pertumbuhan ekonomi kita (growth) bisa dipertahankan di jalur hijau saat resesi dunia melanda. Maka inflasi masih akan menjadi musuh kita bersama.

“Ilustrasinya begini, penghasilan masyarakat mampu dipertahankan atau mungkin bisa dinaikkan meskipun sedikit (growth), tetapi disisi lainnya justru terjadi penambahan pengeluaran yang melebihi penghasilan (inflasi),” jelasnya.

Gunawan memaparkan, artinya skenario paling optimis kalau kita mampu berhadapan dengan resesi sekalipun.

Bukan berarti kita bisa menghindar dari penurunan daya beli masyarakat, penambahan pengangguran atau mungkin kemiskinan parah yang disebabkan oleh inflasi. [KM-07]