MEDAN, KabarMedan.com | Masyarakat dunia kembali dikejutkan dengan munculnya sebuah dokumen hasil investigasi yang berisi bocoran data finansial dari 14 agen perusahaan cangkang di negara suaka pajak.
Konsorsium Internasional Jurnalis Investigatif atau International Consortium of Investigate Journalists (ICIJ) memperoleh bocoran data berukuran hampir tiga terabyte dari sumber anonim.
Pandora papers merupakan hasil kerjasama sebanyak 600 lebih jurnalis dari 150 media di 117 negara.
Sejumlah nama pesohor di Indonesia tercantum dalam Pandora Papers. Misalnya Luhut Binsar Pandjaitan dan Airlangga Hartarto.
Dalam Pandora Papers, Airlangga disebut mendirikan perusahaan cangkang sebagai kendaraan investasi serta untuk mengurus dana perwalian dan asuransi.
Airlangga tercatat memiliki dua perusahaan cangkang di British Virgin Islands, yurisdiksi bebas pajak di Kawasan Karibia.
Dua perusahaan itu antara lain Buckley Development Corporation dan Smart Property Holdings Limited.
Dalam Pandora Papers, Buckley Development diberi warga merah. Perusahaan ini disebut perlu melengkapi informasi jumlah dan nilai aset yang dimiliki serta tujuan pendirian perusahaan.
Dalam lampiran surat elektronik dokumen Oktober 2016, anggota staf Trident menyebutkan perusahaan yang berlabel merah dinyatakan sudah tutup lapak.
Terkait temuan itu, Airlangga mengklaim tidak mengetahui pendirian Buckley Development dan Smart Property.
Ia dengan tegas membantah jika dikatakan berniat mencairkan polis asuransi melalui dua korporasi tersebut.
“Tidak ada transaksi itu,” tegas Airlangga beberapa waktu lalu.
Luhut Binsar Pandjaitan, tercatat menghadiri rapat direksi perusahaan bernama Petrocapital SA, yang terdaftar di Republik Panama.
Periode 2007 hingga 2010, Luhut tercatat hadir langsung dalam beberapa rapat.
Luhut ditunjuk menjadi Presiden Direktur pada 19 Maret 2007. Ia berkantor di Guayaquil, Ekuador.
Selain menetapkan Luhut, dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai perubahan nama perusahaan dari Petrostar International SA menjadi Petrostar-Pertamina International SA.
Juru bicara Luhut, Jodi Mahardi mengkonfirmasi kabar bahwa Petrocapital dibentuk di Republik Panama. Ketika perusahaan minyak dan gas itu didirikan pada 2006, modal awal yang disetor sebesar 5 juta US Dollar atau setara dengan 71.5 miliar rupiah menggunakan kurs saat ini.
Perusahaan itu dibuat untuk mengembangkan bisnis di luar negeri, khususnya di wilayah Amerika Tengah dan Selatan.
Menurutnya, pendirian perusahaan di negara suaka pajak belum tentu mengindikasikan pelanggaran. Banyak pebisnis menggunakannya untuk urusan legal.
Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Suryo Utomo menerangkan, perusahaan cangkang dapat dipakai untuk menghindari pajak dalam bisnis yang sah.
“Terjadi praktik base erosion and profit shifting yang dapat mengurangi penerimaan negara dari sektor pajak,” tutur Suryo, Senin (4/10/2021).
Terkait Pandora Papers, Suryo mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan kerjasama internasional untuk menghambat pendirian perusahaan di negara suaka pajak.
Kemenkeu telah menjadi anggota Joint International Task Force on Shared Intelligence and Collaboration yang membagikan informasi tentang modus penyelewengan dalam skema perpajakann internasional.
“Kami tak segan mengambil langkah hukum terhadap perusahaan yang sengaja mengalihkan laba melalui perusahaan cangkang,” tegas Suryo. [KM-07]














