Sementara itu, Direktur Utama PT PSU, Darwin Nasution mengatakan, opini publik atas Laporan Keuangan PT PSU tahun 2015 adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Sedangkan kinerja perseroan berdasarkan Keputusan Mendagri masih dalam kategori sehat dengan skor 69,50, namun mengalami penurunan dari skor tahun 2014 senilai 75,36.
Kondisi tersebut, akibat PT PSU mengalami kendala selama tahun 2015 yaitu harga rata-rata CPO dan kernel yang masih berada di bawah anggaran dan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
“Disamping itu, kenaikan upah tenaga kerja tahun 2015 cukup tinggi dan harga sarana produksi meningkat. Begitu juga adanya faktor pembatas iklim yaitu curah hujan tahunan yang rendah pada tahun 2013 hingga 2015 yang menyebabkan terjadinya bulan kering serta defisit air yang berpengaruh nyata terhadap produksi,” ujar Darwin.
Lebih lanjut, Komisaris Utama Herawati dalam laporannya menyampaikan, Direksi Manajemen harus ekstra giat dalam upaya mencari TBS untuk memenuhi kapasitas olah pabrik karena ketergantungan yang tinggi terhadap TBS luar.
“PT PSU memiliki dua pabrik pengelohan CPO di Batubara yakni Pabrik Tanjung Kasau dengan kapasitas 20 TBS perjam dan di Simpang Gambir dengan kapasitas 30 TBS perjam. Di pabrik Tanjung Kasau 40% kapasitasnya dipenuhi dengan membeli TBS dari luar kebun milik PT PSU, sedangkan Tanjung Gambir 60% TBS berasal dari luar,” jelas Herawati.
Total areal kebun PT PSU 14.276,55 hektar yang terdiri atas areal bertanam 10.736,62 hektar (75,22%) dan areal tidak bertanam 291,55 hektar (2,04%) serta areal belum bertanam 3.246, 38 hektar (22,74%).
PT PSU memproduksi TBS, CPO, Palm Kernel dan karet. Untuk TBS terjadi kenaikan produksi dari 115.955 ton pada tahun 2014, naik menjadi 122,489 ton pada tahun 2015. Produksi Palm Kernel turun 5,25% dari tahun 2014 sebesar 12.437 ton menjadi 11.784 tahun 2015.Produksi karet juga menurun 12% pada tahun 2014 396 ton menjadi 450 ton pada tahun 2015. [KM-01]













