Mengapa Harga Pertamax Naik? Ini Kata Pertamina

Foto: Ist

JAKARTA, KabarMedan.com | Mulai 1 April 2022, harga Pertamax naik dari Rp9.000 menjadi Rp12.500 per liternya. Menekan beban keuangan perseroan, menjadi alasan utama Pertamina menaikkan harga Pertamax.

Kenaikan harga dilakukan secara selektif, hanya berlaku BBM Non Subsifi yang dikonsumsi oleh 17 persen masyarakat, dengan rincian 14 persen konsumen Pertamax, 3 persen Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex.

Irto Ginting, Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga mengatakan beban keuangan perseroan terdampak tingginya harga minyak dunia yang kini berada di atas 100 dolar AS per barel.

“Penyesuaian harga bahan bakar minyak tidak terelakkan. Namun dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, dilansir dari Suara.com, Kamis (31/3/2022).

Baca Juga:  Pegadaian Kembali Raih Best Company to Work For in Asia 2026 untuk Kedelapan Kalinya

Irto menuturkan, Perseroan telah mempertimbangkan daya beli masyarakat. Sehingga penyesuaian harga itu masih jauh di bawah nilai keekonomian dan masih lebih murah dibandingkan BBM sejenis yang dijual oleh perusahaan penyalur lain.

“Pertamina selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga Pertamax ini tetap lebih kompetitif di pasar atau dibandingkan harga BBM sejenis dari operator SPBU lainnya,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan nilai keekonomian Pertamax adalah Rp16.000 per liter pada April 2022.

Baca Juga:  Pegadaian Kembali Raih Best Company to Work For in Asia 2026 untuk Kedelapan Kalinya

Harga minyak mentah pada Maret yang jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, membuat harga keekonomian Pertamax melambung tinggi.

Pemerintah juga menilai krisis geopolitik saat ini mengakibatkan harga minyak dunia melambung hingga di atas 100 dolar AS per barel.

Situasi ini mendorong harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Palm Oil (CPO) per 24 Maret 2022 tercatat sebesar 114,55 dolar AS per barel atau melonjak hingga 56 persen dari periode Desember 2021 yang sebesar 73.36 dolar AS per barel. [KM-07]