Menggagas Pengembangan Ekonomi dan Manajemen SDA Melalui Koalisi untuk Kesejahteraan Berkelanjutan

MEDAN, KabarMedan.com | Sekitar 100 orang dari berbagai pihak terkait berkumpul di Medan dalam lokakarya dua hari membahas pengembangan ekonomi dan manajemen sumber daya alam di provinsi Sumatera Utara dan Aceh.

Lokakarya ini merupakan inisiatif dari Koalisi untuk Kesejahteraan Berkelanjutan, sekelompok organisasi masyarakat, dan sektor swasta yang bekerja sama untuk memajukan pembangunan berkelanjutan di kawasan ini.

Acara yang dibuka Rabu pagi (30/10/2019)tadi oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah atau Ijeck di Hotel Santika Dyandra Medan itu berlangsung hingga Kamis, besok.

Dalam kesempatan tersebut, Ijeck menyebut pentingnya hidup berdampingan dengan alam dan mencintai serta menjaga flora dan fauna agar dimasukkan ke dalam materi pelajaran sekolah.

Vice President Conservation International, Ketut Sarjana Putra, mengatakan, kegiatan dalam dua hari ini untuk membangun ide dan solusi konservasi serta peningkatan kapasitas masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.

Menurutnya, Koalisi untuk Kesejahteraan Berkelanjutan adalah platform untuk para pihak, baik itu petani sawit, karet, coklat dan lainnya, pelaku industri, pemerintah dan lainnya bahwa hutannya harus dikonservasi.

“Bagaimana kontribusi mereka untuk strategi konservasi. kita melihat tantangan besar itu adalah perambahan. Masyarakat sering menjadi korban dalam perambahan. Jangan-jangan (karena) masyarkat tak punya opsi,” katanya.

Baca Juga:  Bobby Nasution Hadiri Peresmian 1.151 KM Jalan Inpres, Empat Ruas di Sumut Turut Diresmikan

Menurutnya, kemampuan berproduksi masyarakat masih di kisaran 30% padahal sebenarnya masih bisa ditingkatkan lagi. Bisa jadi, lanjut dia, itu disebabkan kapasitas, akses ke pasar yang tidak dimiliki banyak petani.

“Kalau dilihat saat ini mereka kan mencari solusi sendiri-sendiri atau masyarakat mungkin butuh land tiltle. Tidak hanya produksi yang dikejar tapi legal standingnya,” katanya.

Ketut menambahkan, beberapa perusahaan sudah mengarah pada green investment scheme seiring dengan kecenderungan pasar menginginkan jaminan keberlanjutan dari sisi lingkungan dan juga kesejahteraan masyarakatnya.

Hal tersebut menurutnya dipicu kesadaran akan lingkungan di masyarakat di Eropa maupun Amerika sehingga pelaku industri juga beranjak agar lebih baik. Mengenai regulasi yang dibutuhkan itu apakah diperlukan sanksi, menurutnya sudah ada.

“Aturan sudah ada, tapi sering penaltinya tidak ada. Apa penalti kalau perusahaan tidak melakukan green investment scheme. Mungkin itu yang harus dipertegas., sehingga perusahaan bisa mengadopsi itu,” katanya.

Director of Sustainability Musim Mas, Olivier Tichit mengatakan, saat ini kerjasama para pihak semakin baik. Kelompok tani tidak hanya fokus pada budidaya tapi pemakaian dan penggunaan dengan pestisida aman untuk mereka sendiri dan lingkungan.

“Dengan inisatif CSL (Coalition of Sustainability Livelihood), soal perubahan pasar, kepentingan kita sebagai perusahaan adalah pasar lokal dan luar negeri. Kita selalu bilang pasar luar negeri, tapi lupa dengan pasar lokal,” katanya.

Baca Juga:  Bobby Nasution Dukung Penataan Kota dan Penguatan Pelayanan Publik di Tanjungbalai

Dia menduga, ada kaitan yang belum sempurna antara masyarakat di kota dengan petani. Menurutnya, sudah semestinya petani lebih dekat dengan pasar. Kalau petani lebih dekat dengan pasar dan pasar dimengerti petani, maka kebutuhan pasar bisa terjawab.

“Kenapa pasar butuh ini dan petani bisa begini, ini yang penting. Kita tak ingin ada perambahan hutan. Bagaimana petani sejahtera, jangan sampai pasar buta terhadap kondisi petani. Produsen (petani) juga jangan buta dengan pasar. Dengan CSL kita bisa bertukar pikiran,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Maju Bersama, Kab. Tapanuli Selatan, Julhadi Siregar mengatakan, pertemuan ini memberikan peluang penting bagi petani untuk berbicara tentang apa yang terjadi di kampung dan kebun.

Menurutnya, bantuan yang dibutuhkan dari pemerintah dan perusahaan adalah untuk meningkatkan kehidupan yang lebih layak.

“Kami mempunyai kebun tapi kami membutuhkan tanah dan alam untuk menghasilkan produksi yang terbaik,” katanya.

Diketahui, pengembangan Koalisi dan organisasi lokakarya telah didukung oleh Barry Calllebaut, Conservation International, Danone, Earthworm Foundation, IDH, Dana Penghidupan, Mars, Internasional Mondel?z, PepsiCo, UNDP, Unilever, dan Walmart Foundation. [KM-05]