Pentingnya Sertifikasi Profesi di Sektor Pariwisata

MEDAN, KabarMedan.com | Standarisasi profesi di sektor pariwisata sangat penting. Di Sumatera Utara, baru beberapa tahun terakhir mulai menyentuh aspek sumber daya manusia (SDM) melalui sertifikasi. Tahun ini ada 2.000 orang yang akan mengikuti sertifikasi profesi khususnya pekerja pariwisata di sekitar Danau Toba.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Utara, Denny S. Wardhana mengatakannya, Jumat (8/3/2019). Dijelaskannya, sertifikasi bagi 2.000 orang khusus di sekitar kawasan Danau Toba ini dibiayai oleh Bank Dunia untuk mendorong kemajuan pariwisata Danau Toba yang sudah ditetapkan sebagai kawasan pariwisata strategis nasional.

Tahun 2018, Kementrian Pariwisata juga memiliki program sertifikasi bagi 2.300 orang dan saat ini, pihaknya mengajukan untuk sertifikasi bagi 2.500-3.000 orang. Jumlah tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah seluruh pekerja di sektor pariwisata.

Program sertifikasi ini, dibiayai Kementrian Pariwisata hingga tahun 2021. Setelah itu, sertifikasi dilakukan secara mandiri. Sehingga masih ada waktu setidaknya 2 tahun lagi melalui penjaringan oleh Kementrian Pariwisata maupun secara mandiri. “Kita masih menunggu kelanjutan dari Kementrian Pariwisata berapa yang disetujui,” katanya.

Denny mengatakan, standarisasi profesi sangat penting dilakukan. Mengingat pariwisata merupakan sektor penting dalam perekonomian dan menunjang bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya di daerah potensial pengembangan pariwisata.

Pelatihan-pelatihan perlu dilakukan dalam rangka sertifikasi profesi dan harus ada sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan stakeholder yang terkait. “Jadi saya dilibatkan karena punya Lembaga Sertifikasi Profesi Hotel dan Pariwisata (LSP Hotpari). PHRI untuk menjembantani dan. yang berperan itu LSP,” katanya.

Dia menambahkan, pembenahan SDM adalah pekerjaan yang membutuhkan proses panjang, berkelanjutan dan membutuhkan sinergitas dari atas hingga bawah. Dia berharap dengan adanya pelatihan dan sertifikasi profesi, maka pelaku pariwisata memiliki standarisasi. Dan standarisasi itu, kata dia, berlaku secara internasional sehingga akan menunjang karirnya di masa mendatang.

Seorang pemandu wisata, Ridwan berulang kali membawa wisatawan mancanegara ke tempat-tempat wisata seperti Danau Toba, Bukit Lawang dan Tangkahan. Satu hal yang sering kali dikeluhkan oleh wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa adalah kecakapan berbahasa pekerja wisata di hotel dan instansi yang terkait dengan pariwisata.

“Memang ini terkait dengan jam terbang atau pengalaman. Bahasa itu komunikasi. Semakin sering berkomunikasi makan semakin fasih. Tapi bagaimana pun tetap diperlukan pendidikan khusus. Saya kira sertifikasi itu penting. Saya mau ikut kalau ada kesempatan,” katanya. [KM-05]