Prajurit TNI Ikuti Lomba Kaligrafi di MTQ Nasional XXVII

MEDAN, KabarMedan.com | Seorang prajurit TNI berpakaian dinas asal Kalimantan Barat (Kalbar) ikut dalam perlombaan cabang/golongan Hiasan Mushaf dan Kontemporer di MTQ Nasional XXVII, di Medan. Prajurit TNI dari Brigip 19 Khatulistiwa, Kodam 12 Kalimantan Barat bernama Praka Hendro Budi.

Ia mengaku, ingin terlibat dalam kegiatan syiar Islam. Sehingga, katanya, TNI sebagai lembaga yang menaunginya, bisa berpartisipasi di bidang Agama.  Dalam dua event MTQN di Kepri dan NTB sebelumnya, ia selalu menjadi peserta yang diutus atas nama provinsi maupun atas nama kesatuan.

Meskipun diakuinya tingkat kesulitan dalam mengerjakan kaligrafi untuk hiasan mushaf Alquran, cukup tinggi. Namun dia meyakini dengan sikap istiqomah dan latihan keras menghadapi lomba tingkat Nasional, mereka akan mampu meraih prestasi.

Baca Juga:  Toba Caldera Culture Festival 2026 Hadirkan Kompetisi Paduan Suara Internasional

“Ini kan tingkat nasional, berbeda dengan di kecamatan, kabupaten dan provinsi,” katanya, Senin (8/10/2018).

Dengan kompetisi ini, ia erharap bisa tampil maksimal dan meraih juara. Jikapun belum juara, Hendro mengaku sudah senang bisa memberikan yang terbaik untuk provinsi dan lembaganya. “Kalau pakai seragam ini memang pesan komandan satuan,” ujarnya.

Begitu juga pertemuan di sini bersama rekan-rekannya di MTQ memberikan kesan luar biasa.

“Di sini saya bisa bertemu bersama rekan-rekan MTQ dan teman-teman, jadi kayak reuni. Kalau biasanya melalui media sosial, sekarang langsung bertemu serta berbagi ilmu,” sebutnya.

Dewa Hakim, Didin Sirojuddin mengatakan sebanyak 64 orang putra dan putri ikut berpartisipasi dalam dua cabang atau golongan tersebut. Pada hiasan mushaf, ada tiga kelompok penilaian yakni tentang kebenaran kaidah huruf, keindahan dan hiasan. Sedangkan untuk kontemporer, unsur kaligrafi yang dikoreksi adalah kebenaran penulisan, gaya, seni rupa dan penyelesaian akhir.

Baca Juga:  Terima Aspirasi Pendukung MBG, Bobby Nasution Siap Teruskan Petisi Masyarakat Sumut ke Presiden Prabowo

“Jadi kalau hiasan mushaf itu cenderung mempertahankan pola tradisional. Sedangkan gaya kontemporer itu menampilkan pola yang lebih modern dan ekspresif,” jelasnya.

Khusus untuk kontemporer lanjut Sirojudin, keunggulan karya lukis berdasarkan kedekatan antara ayat Alquran dengan latar belakang lukisan.

“Jadi antara lukisan dengan ayat itu harus sedekat mungkin. Maka itu faktor penilaian, mana yang paling dekat, itu yang unggul,” pungkasnya. [KM-03]