Volodymyr Zelensky, Mantan Aktor Komedi yang Kini Menjadi Presiden Ukraina

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. (Foto: Ist)

MEDAN, KabarMedan.com | Tiga tahun lalu, Volodymyr Zelenskiy memangku jabatan presiden dengan janji untuk mengakhiri perang dengan kelompok separatis yang didukung Rusia di wilayah timur Ukraina.

Kini, ia menghadapi invasi Rusia yang bisa menggulingkan pemerintahannya dan mengakhiri demokrasi di Ukraina.

Ketika Rusia menembakan rudal ke kota-kota di Ukraina, termasuk Kiev pada Kamis lalu, Zelenskiy menyerukan semua warga negara untuk membela Ukraina.

Ia mengatakan, senjata akan diberikan kepada mereka yang menginginkannya.

“Rusia dengan berkhianat menyerang negara kita pagi ini, seperti yang dilakukan Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua,” kata Zelenskiy dalam pidato yang disiarkan secara nasional, dilansir dari Suara.com, Sabtu (26/2/2022).

“Rusia telah memulai jalan kejahatan, namun Ukraina membela dirinya sendiri dan tidak akan menyerahkan kebebasannya tak peduli apa yang Moskow pikirkan.”

Invasi Rusia menjadi bencana bagi Zelenskiy, mantan aktor komedi berusia 44 tahun yang selama dua tahun meminta NATO menerima lamaran Ukraina, negara bekas Uni Soviet.

Langkahnya tersebut telah membuat berang Presiden Rusia Vladimir Putin.

Moskow telah menuntut janji NATO untuk tidak pernah menerima keanggotaan Ukraina, negara yang memiliki kedekatan geopolitik, sejarah dan budaya dengan Rusia. Tuntutan itu ditolak Barat.

Putin pada Senin lalu menolak keberadaan Ukraina sebagai negara bebas, dengan mengatakan bahwa Ukraina adalah bagian dari Rusia.

Dalam beberapa pekan terakhir, Zelenskiy dipuji oleh para pemimpin Barat atas ketenangan dan seruannya kepada rakyat Ukraina untuk tidak panik saat Rusia mengerahkan 150 ribu tentara di dekat perbatasan mereka.

Ia juga mengkritik kedutaan asing dan pelaku bisnis Ukraina yang hengkang dari negara itu karena faktor keamanan.

Dia mengulangi seruannya agar mereka tidak pergi, karena tindakan itu menurutnya malah membantu upaya Putin menciptakan ketidakstabilan di Ukraina.

Namun, Zelenskiy bukanlah tipe pemimpin di masa perang. Ia menjadi terkenal lewat serial televisi populer “Servant of the People” (Pelayan Rakyat), yang berperan sebagai seorang guru sekolah yang terpilih jadi presiden.

Saat memenangkan kontestasi dan menjabat sebagai presiden secara telak pada April 2019, ia berjanji akan memerangi korupsi yang telah merusak transisi Ukraina dari negara komunis menjadi negara demokrasi.

Namun, Rusia selalu menjadi penentang terbesarnya dalam membangun negara modern dan stabil di Eropa.

Partainya, Servant of People (diambil dari judul serial televisinya), meraih kursi terbanyak dalam pemilihan parlemen pada Juli 2019.

Awalnya, ia mengambil langkah-langkah untuk membangun kepercayaan dengan Rusia di Ukraina timur, termasuk pertukaran tawanan.

Namun “keharmonisan kecil” itu tidak berlangsung lama. Rusia yang mencaplok semenanjung Krimea pada 2014, terus mendukung separatis bersenjata untuk memerangi Kiev di wilayah Donbass, Ukraina timur, yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia.

Konflik tersebut telah menelan sedikitnya 15 ribu korban jiwa.

Mengambil risiko lebih dimusuhi oleh Moskow, Zelenskiy mendekati pemimpin Barat, termasuk Presiden AS Joe Biden lewat kunjungannya ke Gedung Putih pada 1 September 2021.

“Setiap orang harus mengerti bahwa kami sedang berperang, bahwa kami sedang membela demokrasi di Eropa dan mempertahankan negara kami, jadi Anda tak bisa hanya berbicara dengan ungkapan tentang reformasi,” tegas Zelenskiy dalam sebuah wawancara pada Juni 2021.

“Setiap hari kami buktikan bahwa kami siap menjadi bagian dari aliansi (NATO) lebih siap dari banyak negara lain di Uni Eropa.”

Zelenskiy memanfaakan gelombang ketidakpuasan publik terhadap elite politik Ukraina yang korup untuk mengalahkan pebisnis kaya Petro Poroshenko pada 2019.

Ketika ditanya oleh Reuters menjelang pemilihan bagaimana dia membedakan dirinya dengan kandidat presiden lain, Zelenskiy menunjuk wajahnya dan mengatakan, “ini wajah baru. Saya belum pernah terjun ke politik.”

“Ssaya tak pernah menipu rakyat. Mereka mengidentifikasi diri mereka dengan saya karena saya terbuka, saya tersakiti, saya marah, saya kecewa. Jika saya tak punya pengalaman,, saya memang tak berpengalaman. Jika saya tidak tahu sesuatu, dengan jujur saya mengakuinya.”

Terlepas dari janjinya untuk mengekang pengaruh bisnis dalam politik, Zelenskiy harus menangkis kecurigaan bahwa ia adalah bone Ihor Kolomoisky, seorang oligarki pemilik stasiun TV yang menyiarkan “Servant of the People”.

Ze;enskiy tanpa sadar juga terseret ke dalam politik AS setelah Presiden AS saat itu, Donald Trump, berusaha memaksanya untuk menyelidiki kesepakatan bisnis pesaingnya dari Demokrat, Joe Biden di Ukraina.

DPR AS yang dikuasai Demokrat memakzulkan Trump setelah penyelidikan menyimpulkan bahwa dia telah menahan bantuan militer ke Ukraina untuk mempengaruhi Kiev.

Trump mengaku tidak bersalah dan senat AS yang dikuasai Republik lalu membebaskannya. [KM-07]