Psikolog: Pentingnya Mengelola Stress di Masa Pandemi COVID-19

Psikolog, Juliana Irmayanti Saragih(Foto: KabarMedan.com)

MEDAN, KabarMedan.com | Pentingnya mematuhi protokol kesehatan juga sama pentingnya dalam mengelola stress selama pandemi Covid-19.

Virus Corona menjadi momok ketakutan bagi orang-orang akibat cepatnya laju angka infeksi di masyarakat, khususnya di Indonesia.

Psikolog Juliana Irmayanti Saragih menilai banyak kecemasan yang timbul akibat ketakutan berlebihan.

“Memang pandemic ini disinyalir membuat banyak kasus-kasus kesehatan muncul, di antaranya yaitu kecemasan yang paling banyak. Orang mengalami ketakutan, kekhawatiran berlebihan,” ujarnya.

Stress pada masa pandemi, kata Juliana, merupakan hal yang normal asalkan tidak berlarut-larut. Baginya adalah sebuah hal yang penting untuk seseorang mampu beradaptasi dengan kondisi.

“Adanya pandemic, ini adalah perubahan yang cukup drastis. Secara teritoris dan praktis, perubahan memang akan menghasilkan stress. Itu sangat normal. Akan menjadi tidak normal ketika efek negatif dari perubahan ini berlangsung lama, artinya orangnya tidak berhasil untuk adaptif,” katanya.

Rasa khawatir dan cemas sebenarnya adalah bentuk reaksi normal dan merupakan sebuah bentuk fluktuasi emosi. Akan tetapi, menurut Juliana, jika hal tersebut terjadi dalam rentang waktu yang lama, maka dapat mengganggu kesehatan mental.

“Kalau sampai memakan waktu dua minggu atau sampai sebulan tetap begitu, ini menjadi tidak normal dan bisa menjadi masalah kesehatan mental,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa mengatur pikiran merupakan hal mendasar yang harus dilakukan oleh orang-orang. Selain itu, tetap bekali diri dengan pengetahuan yang cukup soal Covid -19.

“Pertama sekali yang dilakukan adalah ubah mindset, cari tahu sebenarnya Covid seperti apa, gimana cara menghindarinya,” ucap Juliana.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara tersebut juga memberikan saran tentang cara memastikan diri telah mengikuti protokol kesehatan.

“Kalau memang harus beraktivitas di luar, buat checklist. Buat list memakai masker, jaga jarak atau menghindari kerumunan, cuci tangan,” ujarnya.

Stress yang dapat mengakibatkan timbulnya gejala psikosomatik juga pernah dialami oleh Juliana sendiri. Untuk itu, ia mengatakan bahwa relaksasi dan menenangkan pikiran adalah hal yang tak kalah penting.

“Relaksasi. Di awal-awal dulu banyak yang mengalami psikosomatik, termasuk saya sendiri. Kalau saya ke luar rumah, saya balik trus tiba-tiba batuk. Langsung overthinking,” ucapnya.

Pembuatan list ceklis protokol kesehatan menurut Juliana dapat membantunya dalam mengelola kekhawatiran dan ketakutan yang ia miliki.

“Itukan salah satu gejala, kan. Saya coba tarik nafas, oh tidak sesak. Lalu saya lihat ceklis saya tadi, semuanya sudah saya lakukan. Maka rasio saya akan mengambil alih, saya sudah melakukan semuanya berarti ini batuk aja bukan Covid,” jelasnya.

Mengenali babak kehidupan normal gaya baru juga perlu dilakukan menurutnya. Hal tersebut akan mempermudah menemukan strategi menjalani hidup sehari-hari.

“Buat set baru, normalnya kita disituasi yang sekarang itu seperti apa. Dibuat semacam strategi hidup yang baru, misalnya jarak satu kegiatan daring dengan kegiatan lainnya, bagaimana istirahatnya,” terang Juliana.

Mengisi hari dengan hal-hal positif seperti mengerjakan hobi dan menghindari toxic positivity serta istirahat yang cukup harus dilakukan pada masa pandemi ini.

“Kerjakan hobi. Hobi yang ringan, dan hindari toxic positivity. Karena ada orang yang berpikir karena dia nggak mau dianggap nggak produktif dimasa pandemic, jadi memaksakan diri harus produktif. Padahal logikanya kita juga butuh istirahat,” tutupnya. [KM-06]