
JAKARTA, KabarMedan.com | Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman meminta kepada pemerintah untuk mengkaji ulang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen disaat covid-19 varian Omicron merebak di Indonesia.
Hal ini dimintanya karena melihat banyaknya anak-anak yang terpapar Omicron dibandingkan saat gelombang varian Delta menyerang.
Dicky memberikan contoh di Afrika Selatan dimana jumlah kematian anak pasca merebaknya Omicron naik dua kali lipat. Dihitung mulai 4 Desember 2021 hingga awal Januari 2022.
“Biasanya, sebelum Omicron kematian anak-anak 35 anak sebulan. Setelah Omicron jadi 61 padahal ini belum selesai Januari,” ujar Dicky, dalam diskusi bertajuk “Omicron Ancam PTM 100 Persen?”, yang dilakukan secara virtual, dikutip dari Suara.com, Selasa (18/1/2022).
Dicky mengungkapkan kondisi serupa terjadi di Australia. Menurutnya tidak ada satupun kematian anak terjadi saat gelombang Delta menyerang.
Namun, saat Omicron hadir, setiap harinya ada laporan terkait kematian anak.
“Di Australia 2 tahun kami hampir pandemi ini tidak ada kematian anak, Delta yang disebut luar biasa tidak ada kematian anak. Tapi Omicron datang di awal Desember 2021 banyak kematian anak. Setiap hari ada kematian anak,” terangnya.
Menurut Dicky, hal itu terjadi karena masih ada anak-anak yang belum bisa divaksinasi.
Selain itu, ruangan ICU di rumah sakit juga disebutnya meningkat karena banyaknya anak-anak yang terpapar.
Dicky mengungkapkan adanya potensi peningkatan pasien covid-19 di rumah sakit dari anak-anak pada awal Februari karena penyebaran Omicron.
Oleh karena itu, ia meminta kepada pemerintah untuk mengkaji kembali kebijakan PTM 100 persen.
Menurutnya, lebih baik Indonesia melakukan mitigasi, karena meskipun penyebaran Omicron tidak selama Delta, tapi kalau tidak ada pencegahan sejak dini maka dampaknya bisa melebihi Delta.
“Lebih baik PTM stop dulu, setidaknya sampai awal Maret ini karena saya melihat kecenderungan, saya tidak mau ada kasus kematian baru kita melakukan ini. Karena bagaimana pun anak-anak kita harus dilindungi,” tandasnya. [KM-07]













