“Di kelompok inti, sejalan dengan ekspektasi inflasi dan tren penguatan nilai tukar, inflasi inti meningkat dari 5,04% (yoy) menjadi 5,23% (yoy). Peningkatan inflasi inti terutama disumbang oleh kenaikan harga komoditas mobil yang diduga karena penyesuaian Pajak Kendaraan Bermotor dan kenaikan biaya operasional,” terang Subiantoro.
Secara spasial, infasi Maret 2016 terutama didorong oleh inflasi di Kota Medan yang berperan sekitar 80% terhadap pembentukan inflasi di Sumatera Utara. Kota Medan yang tercatat sebagai kota IHK dengan inflasi tertinggi se-Indonesia (0,88% mtm). Kota-kota lainnya di Sumatera Utara yang disurvei oleh BPS juga mengalami inflasi cukup tinggi, dengan yang terendah terjadi di Kota Padangsidempuan (0,54%). Sampai dengan triwulan I 2016 inflasinya tercatat 2,18% (ytd), terendah di Pematangsiantar (0,77% ytd).
Ke depan, dengan tekanan inflasi Sumatera Utara di April 2016 yang diperkirakan mereda, berbagai upaya akan dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara untuk membawa inflasi pada kisaran sasaran inflasi 4%±1%. Meningkatnya tekanan inflasi seiring dengan telah berakhirnya masa panen padi akan diimbangi oleh penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2016.
“Berkaitan dengan hal tersebut, TPID Provinsi Sumatera Utara akan meningkatkan koordinasi pengelolaan pasokan dan kelancaran distribusi antara lain dengan mengimplementasikan 60 Toko Tani Indonesia di Kota Medan, Deli Serdang dan Langkat,” pungkas Subintoro. [KM-01]













