MEDAN, KabarMedan.com | Rendahnya partisipasi warga Medan untuk memilih pada Pilkada 9 Desember 2015 lalu, dinilai karena rendahnya tingkat ketertarikan warga terhadap pasangan calon.
“Karakter calon pemimpin sangat mempengaruh minat warga untuk memilih,” kata Hendry Sitorus, Akademisi Fisip USU yang sekaligus Peneliti di Lipdem, dalam diskusi hasil survey tentang ‘Analisis Kausalitas Rendahnya Tingkat Partisipasi Pemilih Dalam Pilkada Kota Medan 2015’, di Medan, Rabu (23/3/2016).
Menurut dia, persoalan memilih dan tidak memilih merupakan hak seorang warga negara.
“Di Indonesia hak memilih dikenal dengan hak pilih aktif yaitu dalam menyumbangkan suaranya mencerminkan tingkat partisipasi politiknya yang aktif. Faktornya, kurangnya sosialisasi dan mengenalkan lebih detail pasangan calon Walikota Medan,” tambahnya.
Masih rendahnya aktivitas sosialisasi dan pendidikan politik berpengaruh signifikan bagi masyarakat Kota Medan sebagai tahapan pengenalannya pada calon pemimpin lima tahun berikutnya.
“Kondisi yang seperti ini merupakan keprihatinan tersendiri bagi kita,” tukasnya.
Dia mengungkapkan, faktor ketokohan calon pemimpin yang bertarung dalam Pilkada menjadi persentase terbesar yakni 25,3 persen. Angka ini diikuti faktor agama pasangan calon yang menempati faktor kedua sebesar 21,3 persen.
Sementara itu, faktor politik uang atau Money Politic disebut sebagai faktor utama dalam menentukan banyak atau tidaknya partisipasi pemiilih dengan urutan 12 dari 16 variabel yang disurvey.
Survey juga dilakukan kepada warga yang tidak datang ke TPS untuk mencoblos pada Pilkada Kota Medan tahun 2015. Dari pertanyaan yang diajukan, faktor ketokohan dan agama sebagai alasan utama seandainya ikut mencoblos di Pilkada Medan 2015 lalu. Hal ini terlihat dari persentase yang mencapai 49 persen dari total responden yang disurvey.
“Kesimpulannya kedua faktor ini tidak bisa pedoman sebagai hal yang sangat berpengaruh,” pungkasnya. [KM-03]














