Medan merupakan Kota penghubung yang strategis, serta penyumbang inflasi terbesar kedua setelah Jakarta, dengan pola konsumsi dan kemampuan daya beli masyarakat yang tinggi. Untuk itu, partisipasi dari para dosen, professional dan pelaku UMKM pada program ini juga diharapkan dapat berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.
“Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas mumpuni dengan jumlah yang mencukupi di bidang perbankan merupakan tantangan yang harus segera direspon, terutama untuk mengatasi persoalan-persoalan yang kerap didorong oleh kesenjangan pengetahuan dan referensi, serta literasi keuangan yang belum mencapai tingkat yang diharapkan. Professional Development Program dan Training of Trainers yang kami selenggarakan merupakan bagian dari mata rantai yang utuh dan saling berkaitan dari upaya kami dalam meningkatkan literasi keuangan di Indonesia,” kata Ari Kunwidodo, selaku Director of Fundraising, Putera Sampoerna Foundation, Rabu (1/6/2016).
Sementara itu, Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas VM Tarihoran mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan oleh OJK pada tahun 2013, jumlah penduduk dengan tingkat literasi keuangan baik baru mencapai 21,84%. Untuk itu, kami selalu menyambut baik dan mendukung program-program edukatif yang bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia, seperti program yang diselenggarakan secara intensif oleh kerjasama antaraHSBC dan PSF melalui Sampoerna University ini.
“Program ini kami harapkan dapat meningkatkan literasi keuangan masyarakat sehingga mereka akan semakin memahami manfaat dan risiko produk dan layanan jasa keuangan, mengetahui hak dan kewajiban serta meyakini bahwa produk dan layanan jasa keuangan yang dipilih dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya,” sebut Horas.
Program literasi keuangan yang diselenggarakan Sampoerna University ini juga berkorelasi dengan rencana pemberlakuan integrasi keuangan dan perbankan di ASEAN pada tahun 2020 yang tentunya menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi Indonesia untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin perbankan dan keuangan yang handal serta kompetitif dalam tataran yang lebih luas dan tinggi.
Ini tentunya hanya dapat terwujud jika masyarakat melalui ujung tombak institusi pendidikan dan pelaku ekonomi yang berada di garis depan memiliki pemahaman yang baik dan tinggi atas pemanfaatan dan penggunaan instrumen perbankan dan keuangan yang ada dan berkembang dalam perekonomian secara luas.
Pada kesempatan yang sama, Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko mengungkapkan, HSBC senantiasa mendorong bisnis yang berkesinambungan yang berarti membangun masyarakat dari segi sosial, lingkungan, dan ekonomi.
“Kami ingin terlibat dalam pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, dan karenanya kami yakin dukungan terhadap tingkat literasi dan inklusi keuangan akan turut membangun masyarakat meningkatkan taraf perekonomian mereka. Kami percaya dengan semakin baiknya tingkat literasi keuangan akan membantu mewujudkan cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan pada khususnya, sekaligus membantu percepatan pembangunan ekonomi bangsa pada umumnya,” pungkas Nuni. [KM-01]













