MEDAN, KabarMedan.com | Para ilmuwan di Jepang sedang mengembangkan sebuah alat yang dapat membaca pikiran seseorang dengan mendeteksi gelombang otak tengah.
Hal tersebut memungkinkan orang yang menderita Locked in Syndrome (LIS) –yang membuat penderitanya tidak bisa bergerak dapat berkomunikasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Toyohashi University of Technology di Jepang mengungkapkan, instrumen tersebut akan menjadi alat yang efektif untuk membaca pikiran seseorang dan dapat digunakan dalam waktu dekat.
Para peneliti memperkirakan, alat tersebut juga dapat dioperasikan dengan mudah melalui aplikasi ponsel dalam lima tahun ke depan.
Instrumen tersebut didasarkan pada electroencephalogram (EEG), yakni alat untuk memonitor gelombang otak seseorang ketika mereka berbicara.
Gelombang otak kemudian dicocokkan dengan suku kata dan angka menggunakan ‘machine learning’, yakni proses yang digunakan untuk mengembangkan artificial intelligence (AI) atau kecerdaan buatan.
Berdasarkan pernyataan Toyohashi Univeristy of Technology, para peneliti telah mengembangkan teknologi yang dapat mengenali angka nol hingga sembilan dari gelombang otak dengan kekauratan 90 persen.
Di saat yang sama, pengenalan 18 suku kata tunggal memiliki keakuratan 61 persen, mengalahkan kinerja dalam penelitian sebelumnya. Namun peneliti menemui sejumlah kesulitan dalam mengembangkan alat tersebut.
Hingga sekarang, penerjemahan sinyal EEG mengalami kesulitan dalam mengumpulkan cukup data untuk mengizinkan penggunaan alogaritma berdasarkan ‘deep learning’ atau jenis mesin belajar lain.
Kelompok peneliti saat ini telah mengembangkan kerangka penelitian berbeda, yang dapat meraih performa tinggi dengan sekumpulan data pelatihan kecil.
Saat ini para peneliti juga berencana mengembangkan “brain-computer interface” yang dapat mengenali kata-kata yang dipikirkan.
Teknologi ini memungkinkan orang cacat, yang kehilangan kemampuan bersuara atau berkomunikasi, memperoleh kemampuannya sekali lagi. Lebih jauh lagi, kelompok peneliti berencana mengembangkan alat yang dapat dioperasikan dengan mudah dengan menggunakan elektroda yang lebih sedikit dan dihubungkan dengan ponsel dalam lima tahun ke depan.
Dalam studi terpisah yang dilakukan pada awal tahun ini, diketahui bahwa aktivitas otak masih akan berlanjut sekitar 10 menit setelah seseorang dinyatakan meninggal. [KM-01]














