MEDAN, KabarMedan.com | PLN kembali berulah dengan melakukan pemadaman listrik di sebagian besar Kota Medan dan Deli Serdang. Pemadaman berlangsung saat masyarakat sedang melaksanakan ibadah sahur, Kamis (9/5/2019).
Pemadaman dilakukan secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Hal ini tidak sedikit pelanggan yang menyampaikan umpatan di media sosial.
“Di kawasan Mandala dan Bromo listik padam,” kata sala seorang warga bernama Umar (31).
Kemarahan masyarakat hanya dianggap remeh dan tidak dianggap menciderai hati umat muslim, karena PLN hanya mengucapkan kata maaf atas peristiwa itu.
Sekretaris Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Padian Adi S Siregar mengatakan, respon yang diberikan PLN sangat jauh dari harapan masyarakat, bahkan sengaja memancing kemarahan masyarakat dengan melakukan pemadaman pada saat momen sakral ibadah keagamaan.
“PLN paham betul bahwa masyarakat sangat ketergantungan terhadap listrik, sehingga mau tidak mau harus pasrah terhadap pemadaman yang terjadi,” katanya.
Padian mengatakan, pemadaman listrik di setiap Ramadan dinilai telah menjadi ”ritual wajib” PLN Sumatera Utara setiap tahun. Tradisi pemadaman listrik di bulan Ramadan secara sporadis saat sahur atau berbuka sepertinya kutukan bagi PLN Sumatera Utara.
“PLN kerap berjanji tidak akan melakukan pemadaman di bulan Ramadan, tetapi selalu pasti mengingkarinya dan selalu mengucapkan kata mohon maaf disertai alibi terjadi kerusakan pembangkit,” ujarnya.
“Pembangkit telah dibangun, Kapal pembangkit telah disewa yang katanya listrik Sumatera Utara telah surplus, nyatanya pemadaman tetapi terjadi. Alasan apapun yang disampaikan PLN tidak bisa diterima pelanggan, karena kenapa harus pada waktu sahur. Merujuk pada alibi PLN, kenapa pembangkit selalu rusak di bulan Ramadhan? Tentu PLN Sumatera Utara tidak punya goodwill untuk melayani pelangan dan tidak profesional yaitu tidak punya manajemen resiko yang baik terhadap perawatan pembangkit,” tambahnya.
Ia mengaku, perbaikan pembangkit yang rusak selalu menjadi alasan klasik disinyalir Petinggi PLN sedang mencari kambing terhadap kegagalan manajemen PLN Sumatera Utara.
“Sikap petinggi PLN yang tidak punya empati kepada umat muslim seharusnya mendapat perhatian serius dari Gubsu dan tokoh agama. Karena PLN diduga sengaja memancing kemarahan pelanggan dengan melakukan pemadaman pada waktu sahur,” jelasnya.
Untuk itu, kata Padian, tokoh agama diharapkan mendesak Gubsu memanggil dan menghimbau PLN tidak melakukan pemadaman pada saat umat beragama sedang beribadah. Selain itu, PLN harus menjalankan tanggungjawab sosial kepada pelanggan yaitu memberikan kompensasi.
“Selama ini PLN hanya mementingkan aspek bisnis semata, pelanggan dipaksa harus membayar tagihan tepat waktu dan apabila terlambat didenda. Tetapi, PLN tidak memberikan kompensasi tagihan atau ganti rugi apabila terjadi pemadaman secara sporadis dan berkepanjangan. Maka, PLN harus berjiwa besar mengakui kesalahan telah gagal memberikan pelayanan bagi pelanggan pada bulan Ramadhan,” pungkasnya. [KM-03]














