JAKARTA, KabarMedan.com – Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Misi AS untuk ASEAN menyambut Dr. Kelle Barfield, pakar komunikasi dan pelibatan publik di bidang nuklir dari Amerika Serikat, dalam kunjungannya ke Indonesia pada 22–24 Juni 2026 sebagai bagian dari serangkaian keterlibatan tingkat tinggi di beberapa negara, meliputi Indonesia, Singapura, dan Filipina.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Freedom 250: American Leadership in Energy Security (Kepemimpinan AS dalam Ketahanan Energi) yang mendorong dialog konstruktif mengenai energi nuklir sipil—yang menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, memperkuat ketahanan energi, dan menjaga kualitas udara.
Program ini mencerminkan komitmen Pemerintah Amerika Serikat dalam mendukung masa depan energi Asia Tenggara serta mempererat kemitraan bilateral dan multilateral yang lebih aman, lebih kuat, dan lebih sejahtera dengan Indonesia, Singapura, Filipina, dan ASEAN.
Program diawali di Bandung, Jawa Barat, pada 22 Juni, di mana Dr. Barfield bertemu dengan para dosen dan peneliti di Institut Teknologi Bandung (ITB) serta para peneliti nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia juga mendiskusikan lanskap sumber daya energi Indonesia bersama pejabat dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Pada 23 Juni, Dr. Barfield melanjutkan program di Kedutaan Besar AS di Jakarta, dengan memimpin diskusi mengenai reaktor modular kecil (small modular reactor/SMR) bersama perusahaan-perusahaan energi Indonesia dan pejabat senior pemerintah Indonesia, termasuk anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha.
Hari tersebut ditutup dengan diskusi panel bertajuk “Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy“, yang diselenggarakan di @america, Pusat Kebudayaan AS di Pacific Place Mall. Selain Dr. Barfield, panel ini juga menampilkan anggota DEN Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani dan Pejabat Senior ASEAN Centre for Energy (ACE) Rully Hidayatullah.
Program ini mendorong dialog mengenai energi nuklir sipil sebagai masa depan ketahanan energi di hadapan lebih dari 100 pemangku kepentingan dari Amerika Serikat, Indonesia, dan ASEAN, termasuk perwakilan pemerintah Indonesia, pemimpin opini dan suara-suara muda dari perusahaan energi milik negara, organisasi manajemen energi, sektor SMR, dan akademisi.
“Indonesia tidak memulai dari nol. Negara ini memiliki pengalaman puluhan tahun dengan reaktor riset, serta sumber daya manusia dan keahlian untuk terus mengembangkannya,” ujar Dr. Barfield. “Dalam hal nuklir, bukan hanya soal apakah teknologinya berhasil atau berapa biayanya—tetapi apakah masyarakat mendukungnya. Disinilah kerja sama dengan Amerika Serikat memberikan perbedaan nyata: rekam jejak yang panjang dan berhasil dalam bersikap transparan kepada publik serta melibatkan komunitas lokal mengenai manfaat energi nuklir.”
Pada 24 Juni, Dr. Barfield mengadakan diskusi bersama awak media regional yang berbasis di Jakarta mengenai bagaimana negara-negara anggota ASEAN dapat membangun kepercayaan publik dalam mengembangkan energi nuklir canggih guna memperkuat ketahanan energi dan memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat.
Dr. Barfield juga menjajaki perspektif regional dalam mendukung ketahanan energi ASEAN melalui teknologi SMR yang aman dan andal, dalam pertemuan dengan pejabat dari Sekretariat ASEAN, ACE, jaringan sub-sektor Energi Nuklir ASEAN, dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia.
“Amerika Serikat bangga bermitra dengan Indonesia dan ASEAN dalam memajukan solusi energi nuklir yang aman, transparan, dan berstandar tinggi. SMR merupakan peluang nyata untuk memperkuat ketahanan energi di seluruh kawasan—dan Amerika Serikat siap mendukung masa depan tersebut,” ujar Juru Bicara Kedutaan Besar AS Jamie Ravetz.
Program ini menegaskan komitmen kuat Amerika Serikat dalam mendukung pengembangan energi nuklir yang bertanggung jawab di Asia Tenggara serta memperdalam kerja sama energi bilateral dan regional.
Melalui berbagai kegiatan ini, Amerika Serikat, Indonesia, Singapura, Filipina, dan ASEAN terus memajukan tujuan bersama demi peningkatan kemakmuran dan kemitraan yang lebih kuat di kawasan Indo-Pasifik.














