Pemerintah Siapkan Pengembangan Jalur Cruise dan Ferry di Pelabuhan Belawan

MEDAN, KabarMedan.com | Kemenko Bidang Kemaritiman melalui Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur bekerja sama dengan PT. Pelindo I, mengadakan Rapat Koordinasi Pengembangan Potensi Jalur Cruise dan Ferry Penang-Belawan di Terminal Penumpang Bandar Deli, pelabuhan Belawan, Medan, Senin (4/3/2019).

“Koordinasi ini jelas diperlukan karena pemanfaatan fasilitas-fasilitas di Bandar Deli yang sudah ada ini membutuhkan kerja sama lintas kementerian maupun lembaga,” kata Asisten Deputi Infrastruktur Pelayaran, Perikanan, dan Pariwisata Kemenko Bidang Kemaritiman yang juga menjabat menjadi Ketua Satuan Tugas Kapal Pesiar (Task Force Cruise) Rahman Hidayat.

Rahman memaparkan mengenai potensi dan tantangan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara melalui kapal pesiar (cruise).

“Terdapat tren industry cruise atau wisata pesiar di Asia, salah satunya 9 dari 10 penumpang Asia berwisata cruise di kawasan Asia. Ini jelas mempengaruhi jumlah kapal pesiar dengan tujuan antar Asia mengalami peningkatan yang pesat,” ujarnya.

Ia mengapresiasi pertumbuhan penumpang dengan menggunakan kapal pesiar ke Indonesia.

Baca Juga:  Bobby Nasution Hadiri Peresmian 1.151 KM Jalan Inpres, Empat Ruas di Sumut Turut Diresmikan

“Pada tahun 2018 terdapat sebanyak 353.425 orang penumpang dan tahun 2019 sebanyak 387.873 orang. Persentase peningkatannya mencapai 9.7 %,” ucapnya.

Asdep menyebutkan, telah disusun konsep wisata baru terkait dengan kapal pesiar. Sebagai contoh konsep fly and cruise dan konsep Familiriatization (Fam) Trip untuk destinasi pesiar baru.

“Kita targetkan kunjungan kapal pesiar ke Indonesia pada tahun 2019 sebanyak 500 calls,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia sendiri pada tahun 2018 lalu melalui Task Force Cruise telah melakukan sejumlah kegiatan kerja sama dengan Singapura, di antaranya Recce trip meliputi Banyuwangi, Surabaya, dan Balikpapan. Selain itu telah diadakan 3rd Joint Working Group Meeting yang membahas mengenai wisata kapal pesiar di Kota Surabaya.

Terdapat 3 faktor utama yang menjadi hambatan bisnis kunjungan kapal wisata ke Indonesia. Faktor pertama adalah infrastruktur pelabuhan yang sangat terbatas, sehingga belum memenuhi standar kapal wisata.

“Kapal wisata setidaknya membutuhkan infrastruktur terkait kedalaman alur navigasi, kolam labuh untuk kapal bersandar, area putar bagi kapal yang ingin keluar-masuk pelabuhan, tempat sandar, fasilitas di terminal pelabuhan, dan lain-lain,” tambahnya.

Baca Juga:  Bobby Nasution Bantu Penyelesaian Persoalan Retribusi Wisata Air Panas Karo dengan Dua Opsi

Faktor kedua adalah tarif pelabuhan yang relatif mahal dibandingkan negara lain, khususnya negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.

“Tarif pelabuhan pada umumnya terdiri dari biaya sandar, biaya jasa pandu laut, biaya jasa charge pelabuhan sebagai contoh terkait air bersih dan pengisian bahan bakar. Penurunan tarif pelabuhan ini jelas akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap jumlah kunjungan kapal pesiar ke Indonesia,” cetusnya.

Faktor terakhir adalah adanya regulasi yang inkonsisten dan belum sinkron di antara para pihak pengambil kebijakan terkait di bidang pelayaran untuk kapal pesiar.

“Ini menjadi perhatian dan harus segera diselesaikan demi percepatan pengembangan kapal pesiar di Indonesia. Kedepan, aturan terkait kapal pesiar diatur dalam regulasi tersendiri, terpisah dengan aturan kapal barang ataupun kapal penumpang pada umumnya,” pungkasnya. [KM-03]