PRT Yang Tewas Dianiaya Diduga di Mutilasi Sebelum Dikubur

KABAR MEDAN | Para pembantu rumah tangga yang tewas dianiaya dan dibunuh oleh tersangka Syamsul dan Randika dikediamannya di Jalan Beo simpang Jalan Angsa, Kecamatan Medan Timur diduga dimutilasi sebelum dikubur.

Hal ini terlihat dari potongan tulang yang ditemukan oleh tim gabungan Polresta Medan, DVI, Dokpol dan Dinas Bina Marga Kota Medan dalam penggalian yang dilakukan.

Potongan tulang, baju, dan celana dalam itu ditemukan di dua lokasi berbeda, yaitu di teras dan di tempat menjemur pakaian di samping rumah tersangka.

“Kita duga jasad PRT sebelum dikubur terlebih dahulu dimutilasi. Biasanya, jasad jika dikuburkan selama bertahun tahun tulangnya tidak akan hancur. Tapi ini kita temukan tulang-tulang tersebut sudah hancur di dua lokasi. Bisa saja proses alami, tapi bisa juga ada dibantu untuk dihancurkan,” kata Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Wahyu Bram, Kamis (11/12/2014) sore.

Baca Juga:  Rektor UMTS Dukung Usia Pensiun Polisi Jadi 60 Tahun

Namun, katanya, pihaknya belum berani memastikan terkait temuan tulang-tulang tersebut apakah dimutilasi atau tidak. “Belum bisa kita pastikan, tunggu keterangan resmi dari tim DVI dan Dokpol Poldasu. Saat ini masih dilakukan penyidikan,” katanya.

Seperti diberitakan, polisi mulai membongkar bagian lantai rumah Syamsul Anwar, Senin (8/10/2014) sore. Tindakan itu dilakukan untuk memastikan informasi mengenai adanya korban tewas lain yang dikuburkan di lokasi itu.

Pembongkaran lantai rumah Syamsul ini dilakukan setelah mendapat informasi dari seorang saksi yang mengaku pernah mendengar adanya penguburan di lantai rumah. Informasi itu muncul setelah polisi mengungkap penganiayaan terhadap PRT, menyusul penggerebekan rumah  penyalur tenaga kerja CV Maju Jaya, di Jalan Beo simpang Jalan Angsa, kawasan Madong Lubis, Kamis (27/11/2014) sore.

Baca Juga:  Dosen USI: Penambahan Usia Pensiun Polisi 60 Tahun Wujudkan Polisi Humanis

Dari rumah milik Syamsul Anwar itu diselamatkan tiga PRT perempuan, yaitu Endang Murdaningsih (55) asal Madura, Anis Rahayu (25) asal Malang, dan Rukmiani (43) asal Demak.

Kondisi ketiga perempuan itu memprihatinkan. Mereka  mengaku kerap dianiaya. Di antara korban mengaku tidak digaji selama bertahun-tahun bekerja. [KM-03]

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.