MEDAN, KabarMedan.com | Kondisi Junaidi Purba (37) yang ditembak polisi akibat keributan dalam penangkapan tiga pelaku begal di Jalan Karya VII, Senin (20/7/2015), terus membaik.
Dia bahkan sudah mampu menceritakan kronologi peristiwa yang dialaminya. Meski bernapas masih dibantu dengan selang oksigen dan masih diinfus, Junaidi yang masih dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumut, Jalan KH Wahid Hasyim, Medan, sudah mampu berbicara dengan lancar tapi pelan.
Junaidi mengatakan, penembakan itu terjadi saat keributan antara warga dengan polisi yang menangkap tiga keponakannya, Agus, Hermanto, dan Firdaus.
“Awalnya aku tanya sama polisi mana surat penangkapan kalian, tapi mereka tidak dapat menunjukkan. Mereka malah bilang ‘kok kau (Junaidi) pula yang ribut’,” jelas Junaidi menirukan suara oknum polisi yang melakukan penangkapan itu, Selasa (21/7/2015).
Saat perdebatan antara dirinya dengan petugas polisi, masa yang sudah ramai menarik satu dari lima petugas kepolisian hingga terjatuh.
“Mungkin aku dikira yang menarik, padahal aku mau menolong polisi yang jatuh itu. Pas balik badan, tiba-tiba aku ditembak dari belakang tembus ke dada. Ditembak dari jarak sekitar 2 meter. Rasanya panas dan pedih. Pelurunya kemudian kena ke muka keponakanku si April,” sebutnya.
Junaidi menjelaskan, penembakan itu tidak diawali tembakan peringatan. “Cuma dua kali tembakan. Setelah menembakku, baru ada tembakan peringatan, karena si Firdaus lari,” ujarnya.
Junaidi lalu memberitahukan dirinya tertembak ke polisi. Petugas kemudian membawanya masuk ke mobil dan melarikannya ke RS Sari Mutiara dan dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan.
Adik Junaidi bernama Jonradiman Purba membantah bahwa mobil Toyota Avanza milik polisi telah dirusak massa hingga kacanya pecah.
“Sampai di Rumah Sakit Sari Mutiara mobil itu bagus-bagus saja. Hanya kaca depannya retak. Tapi pas dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara kok jadi hancur begitu. Kami ada bukti fotonya,” tukasnya.
Hingga kini, belum ada permintaan maaf dari pelaku penembakan itu. Namun, Kapolsek Helvetia Kompol Ronni Bonic telah datang menjenguk. “Katanya semua pembiayaan perobatan menjadi tanggungjawabnya,” ucapnya.
Mengenai laporan ke Propam, Jonradiman dan Junaidi menyerahkan proses itu ke kakak mereka, Rosmadiman boru Purba. “Yang buat laporan kakak saya. Sekarang dia sedang di Polresta Medan,” lanjutnya.
Sementara itu, Kapolsek Helvetia Kompol Ronni Bonic ketika dikonfirmasi mengenai biaya perobatan warga korban penembakan mengaku, masih melakukan koordinasi.”Masih kita lakukan upaya koordinasi,” katanya. [KM-03]














