81 Orang Pengungsi Rohingnya Jalani Tiba di Medan, 14 Hari Isolasi Mandiri

Satu dari 81 pengungsi Rohingnya tiba di Hotel Panembahan, Deli Serdang dari Aceh Timur. Sebelumnya mereka berangkat dari Bangladesh dan mendarat di Pulau Idaman, Aceh Timur.

MEDAN, KabarMedan.com | Sebanyak 81 orang pengungsi Rohingnya asal kamp pengungsi Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh yang baru tiba dari Aceh Timur menjalani isolasi mandiri selama 14 hari di Hotel Panembahan, di Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang sejak hari ini, Kamis (10/6/2021).

Kepala Bidang Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional, Kesatuan Bangsa dan Politik Medan, Ody Prasetyo menyatakan, saat ini total jumlah pengungsi sebanyak 1889 orang yang terbagi di 18 community house. Sejauh ini penanganannya oleh Pemko Medan dan berkolaborasi dengan UNHCR dan Rudenim berjalan dengan baik.

“Mereka akan diisolasi mandiri dulu di Panembahan ini 14 hari nantinya akan dipindahkan ketempat community house yang disiapkan IOM,” katanya.

Dijelaskannyam, dalam Perpres 126, leading sectornya pemerintah daerah dan Medan adalah salah satunya untuk di wilayah barat bersama dengan IOM. Ody tidak mengetahui berapa lama mereka akan di Medan. Hal tersebut menurutnya tergantung negara ketiga. Begitupun, kepada anak-anak pengungsi, juga tetap diberikan haknya terkait pendidikan. Nantinya mereka juga akan divaksin untuk yang kedua.

Sementara itu, Asisten I Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, Syahrizal Fauzi menuturkan, 81 orang pengungsi itu sebelumnya mendarat di Pulau Idaman, di Desa Kuala Simpang Ulim, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur pada Jumat (4/6/2021) pagi. Sebelumnya mereka juga sudah menjalani swab antigen serta screening kesehatan dan divaksin.

Baca Juga:  Listrik Padam, Cafe di Kota Medan Padat

“Kami untuk lokasi pengungsian di Aceh Timur, tak ada. Setelah koordinasi dengan badan dunia UNHCR dan IOM, mereka menyiapkan tempat dan lokasi penampungan,” katanya.

Kepada wartawan, Programme Coordinator IOM, Sonya S. Wallenta menjelaskan, para pengungsi dipindahkan dari Aceh Timur ke Medan atas hasil rekomendasi Satgas Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) Pusat dan Pemerintah Kota Medan serta Pemerintah Kabupaten Aceh Timur.

“Direkomendasikan, pengungsi itu untuk segera dipindahkan ke Medan, di bawah akomodasi yang dikelola IOM,” katanya.

Para pengungsi itu sudah dilakukan tes kesehatan untuk meyakinkan apakah mereka bisa berangkat dalam keadaan sehat dan sebagai syarat yang diberlakukan di Medan, yakni dengan tes antigen. “Seperti dilihat di sini, ini adalah daerah isolasi mandiri selama 2 minggu. Maka kita sewakan di sini, sebelum dimasukkan ke dalam akomodiasi yang dikelola IOM,” katanya.

Setelah diregistrasi, mereka nanti akan dimasukkan ke dalam daftar pengungsi yang diidentifikasi oleh UNHCR sebagai pengungsi luar negeri berbangsa Myanmar dan etnis Rohingnya. Mereka akan menerima seperti halnya pengungsi lainnya.

Baca Juga:  Program IM3 Pasti Simpel Buat Pelanggan Sumatra Bawa Pulang Motor Listrik

“(seperti) pendidikan non fromal untuk anak-anak dan orang dewasa berupa pelatihan keterampilan. Setiap bulan dapat bantuan biaya hidup di sini. Proses selanjutnya, itu tanggung jawab UNHCR,” katanya.

Setiap bulan atau dua bulan, pihaknya memberangkatkan pengungsi ke tempat asal atau negara ketiga yang sudah bersedia menampung. Proses tersebut menurutnya terus berlangsung hingga administrasinya selesai.

“Angka pastinya tak bisa ingat. Tahun ini aja lebih dari 200 orang ada yang dipulangkan, karena ingin pulang, dan ke negara ketiga,” katanya.

Muhammad Ilyasm salah satu pengungsi Rohongnya menjelaskan, dari Bangladesh jumlah pengungsi sebanyak 90 orang. Di perjalanan, 8 di antaranya meninggal dunia dan 1 orang terjun ke laut. Mereka berangkat pada bulan Februari dan tiba di Indonesia (Pulau Idaman) pada Jumat (4/6/2021).

Kapal mereka sempat mati dan rusak. Kemudian diberi (tumpangan) kapal besar oleh India untuk melakukan perjalanan dan tidak bisa masuk ke Malaysia yang sedang lockdown. Hingga akhirnya mereka diturunkan di Indonesia yakni di Pulau Idaman. Dia berbicara dengan bahasa Melayu yang terbata-bata.

Ketika ditanya kemana negara mana yang mereka tuju, dia menjawab dengan singkat. “Australia boleh, Amerika boleh, Malaysia boleh,” katanya. [KM-05]