
MEDAN, KabarMedan.com | Suasana begitu berbeda di kawasan wisata Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Langkat, Sumatera Utara, Jumat (13/11/2020) yang lalu. Sepinya pengunjung menjadi pemandangan sehari-hari sejak merebaknya pandemi COVID-19 sejak awal tahun. Pengelola usaha merasakan dampak dengan pembatalan 100 persen tamu asing yang harusnya datang pada bulan Maret – Desember.
Warga Kota Binjai, Fadly baru tiba di Bukit Lawang pada Rabu pagi. Dia datang mengendarai sepeda motor bersama 5 orang kawannya. Kedatangannya ke tempat wisata yang dikenal dengan ikon orangutan sumatera (Pongo abelii) dan Sungai Bahorok itu, adalah yang pertama kali setelah setahun yang lalu. Pandemi COVID-19 membuatnya terpaksa menunda kunjungan.
“Ya, baru ini lah datang. Ada COVID pula kan. Tapi sepi kali ya. Beda dari tahun-tahun lalu, tak cuma hari libur, hari biasa pun rame,” katanya.
Pantauan di lokasi, hanya ada beberapa orang saja yang bermain tubing, yakni meluncur di sungai menggunakan ban dalam mobil berukuran besar. Suara musik keyboard yang biasanya terdengar nyaring di beberapa pondok, hanya terdengar beberapa saat saja dan dari satu tempat penginapan.
General Manager Ecolodge Bukit Lawang, Boby Chandra mengatakan, sebelum masa pandemi COVID-19 jumlah tamu rata-rata belasan kamar per hari. Ramainya pengunjung terjadi hampir tiap hari. Saat ini, kata dia, pengunjung hampir tidak ada. Tamu hanya datang pada Sabtu, Minggu dan publik holiday.
“Sementara untuk tamu internasional, sudah ada pembatalan 100 persen dari Maret hingga Desember. Jadi sangat sepi,” katanya.

Dijelaskannya, Ecolodge memiliki 59 kamar dengan fasilitas basic. Tidak dilengkapi peralatan elektronis seperti aie conditioner (AC) maupun televisi. Hal tersebut dilakukan karena Ecolodge Bukit Lawang tidak mau terlibat dalam penggunaan energi berlebih. Biar pun demikian kamar tidak panas karena didesain banyak vektilasi untuk sirkulasi udara.
2020 sebagai Tahun Harapan
Dijelaskannya, dia menyaksikan bagaimana pariwisata begitu hidup pada tahun-tahun lalu. Bobi yang sudah sempat bekerja di hotel-hotel besar di Kota Medan ini mengaku masuk ke Ecolodge Bukit Lawang pada 2015. Tingkat hunian hotel sangat terbantu dengan promosi di online travel agent. Menurutnya, kondisi pariwisata tahun 2016 – awal 2019 sangat baik. “Kita masih makan kue pariwisata lah,” katanya.
Pukulan terhadap dunia pariwisata terjadi pada 2019 dengan banyaknya peristiwa penting di tanah air, mulai dari gempa, tsunami di Lombok, erupsi Gunung Merapi, dan juga isu politik di tanah air. “Ditambah keputusan pemerintah yang menaikkan harga tikat pesawat dari bagasi dan lainnya yang sangat mahal. Sehingga kunjungan di tahun 2019 menurun. Kita berharap di 2020 ini,” ungkapnya.
Namun apa daya. Tahun 2020 yang diharapkan sebagai awal kebangkitan pariwisata setelah terpuruk di tahun 2019 justru tertunda dengan adanya pandemi COVID-19. Hantaman pandemi COVID-19 membuat 100 persen kunjungan turis asing baik dari Jerman, Belanda, Perancis, Austria, Swiss dan lainnya periode pada Maret – Desember dibatalkan.

Tak Ada Yang Dirumahkan
Menurutnya, pada saat masa pandemi pihaknya masih mampu bertahan biarpun tamu sedikit. Di saat tidak ada tamu asing, maka yang diharapkan adalah turis lokal. PIhaknya sampai saat ini tidak menaikkan harga. Kemudian terus mengundang kawan-kawan atau tamu-tamu untuk beracara di tempat tersebut.
“Kita juga menerapkan konsep sustainable tourism, yakni mengajak masyarakat di sini untuk punya penghasilan. Dari 47 orang pekerjam, 3 dari Medan termasuk saya. Lainnya masyarakat lokal. Kesulitan sekarang ini, belum ada rencana lakukan PHK atau merumahkan karyawan, belum ada pemotongan gaji dan sebagainya. Masih running dengan Sabtu Minggu menungggu tamu datang, masih bisa,” katanya.
Disukai Karena Konsep Ekologis
Dijelaskannya, mayoritas turis yang menginap di Ecolodge Bukit Lawang adalah turis asing. Hal yang disukasi turis asing adalah karena konsep ekologis yang diterapkan. Berbeda dengan hotel dan restoran lainnya. Konsep ekologis itu diterapkan untuk menunjukkan kepada banyak orang bahwa bisnis dapat berjalan seiring dengan konservasi.
“Ecolodge tidak membuang air kotor ke sungai. Semua air limbah dari kamar restoran melewati proses, septic tanc, bio baru ke sungai. Dua kali setahun kami bawa ke lab bawa ke laboratorium Sucofindo dan hasilnya bagus, tidak bebau dan tidak berminyak.
“Jadi yang keluar air bersih. Di kamar kita memang tak sediakan air minum botol biar tidak memproduksui sampah plastik. Tapi kita sediakan air refill,” ujarnya.
Bambu dan Dinding Tanpa Semen
Bangunan Ecolodge Bukit Lawang identik dengan bambu. Karenanya lobby dan tempat pertemuan diberi nama Kapal Bamboo. Pandangan mata akan akan ‘dimanjakan’ dengan uniknya desain tiang, kursi, lantai, dan ornamen yang terbuat dari bambu. Bahkan di kamar-kamarnya, bambu adalah bahan yang paling banyak digunakan.

“Dinding (di Kapal Bamboo) tidak menggunakan semen. Tapi campuran dari fermentasi kotoran sapi, kulit kelapa dan pasir yang diplaster rata. Tak pakai semen. Lebih bisa menyesuaikan diri, kalau cuaca panas di sini tidak. Lebih cocok dengan lingkungan,” katanya.
Protokol Kesehatan Dijalankan
Menurutnya, Ecolodge Bukit Lawang sendiri baru mulai dibuka kembali pada akhir Juni setelah diperbolehkan dari pemerintah setempat. “Tentu saja dengan penerapan protokol kesehatan. Setiap tamu check-out, (kamarnya) disemprot desinfektan. Karyawan terapkan standar new normal, pakai masker, hand sanitizer dan jaga jarak dijalankan semaksimal mungkin,” katanya. [KM-05]













