Banjir Bandang Sungai Landak Datang di Saat Pandemi, Begini Kisah Risnawati

Risnawati menceritakan kerugian yang dialaminya karena banjir bandang di Sungai Landak di saat masa pandemi COVID-19.

MEDAN, KabarMedan.com | Risnawati tak menyangka hujan deras yang turun sejak Selasa (17/11/2020)sore akan berimbas pada hancurnya kolam, titi atau jembatan kecil, pondok dan tempat perkemahan di kawasan wisata Sungai Landak, yang berada di Desa Sampe Raya, Kecamatan Bahorok, Langkat. Di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, terjadinya bencana menambah beban ekonomi semakin berat.

Ditemui di pinggir sungai pada Kamis (19/11/2020) siang, dia masih bersama dengan warga dan keluarganya membersihkan sisa-sisa banjir bandang berupa kayu, lumpur, dan puing-puing pondok yangh terbawa arus. Di tempat itu lah selama ini dia berjualan berbagai macam makanan dan minuman. Tak jauh dari tempat itu juga lah dijadikannya sebagai tempat perkemahan.

Dia tak menyebut tarif yang diterapkannya untuk berkemah di depan pondoknya. Tarif yang dikenakannya adalah ‘sederhana’, sebagai pengganti ‘tidak mahal’. Bahkan harga-harga makanan dan minumannya pun wajar. Tapi Risna juga punya villa atau tempat penginapan di atas sehingga tidak terkena dampak banjir bandang.

“Di sini sudah kami bangun kolam, titi, bangunan-bangunan lah. Sudah ada yang kami buat di sini, lalu banjir bandang datang membawa kahyu besar, mau tak mau harus kita bersihkan,” katanya. Gensetnya yang pun lenyap akibat banjir.

Suasana di Sungai Landak, di Desa Sampe Raya, Kecamatan Bahorok, Langkat, Kamis (19/11/2020). Air masih terlihat sangat keruh dan berlumpur.

Menurutnya, dia butuh waktu sekitar 1 bulan untuk membersihkan tempatnya karena untuk meminta orang tentu saja dia harus membayar. Untuk membayar, tentu saja dibutuhkan uang. “Sementara ini rusak, bagaimana. Tapi ini tetap harus dibersihkan untuk mengejar tahun baru. Ditambah lagi ada COVID-19 gini,” ungkapnya.

Dikatakannya, sebelum terjadi banjir, biasanya setiap akhir pekan ada 40 – 50 orang yang berkemah. Kini dia tak tahu kapan orang akan kembali datang berlibur di Sungai Landak. “Tergantung orang kalau banyak anggota, untuk bayar kan tidak ada (uang), tamu tidak masuk. Untuk menginap kan masih takut-takut, jadi dikerjakan pelan-pelan lah,” ujarnya.

Perangkat Desa Sampe Raya, Dedi mengatakan, banjir bandang membawa kayu-kayu besar beserta akar-akarnya. Dia sudah mensurvei di lokasi banjir sejauh 5 km dan menemukan banyak kayu-kayu besar. Dijelaskannya, kayu-kayu itu diduga terbawa hanyut oleh air hujan lebat yang turun dari Selasa malam hingga Rabu dini hari.

Banjir itu memuncak sekitar pukul 23.00-00.00 WIB. Namun demikian, banjir banjir bandang itu tidak memakan korban jiwa. Hanya saja, kerugian material yang diderita cukup besar. Hal tersebut bisa dilihat dengan banyaknya puing-puing bangunan pondok, rumpun bambu, kayu-kayu besar, dan lain sebagainya.

Di lokasi tersebut juga terdapat beberapa kayu besar yang pada sore tadi sudah dalam keadaan terpotong-potong. Menurutnya, kayu-kayu tersebut memang sudah dipotong oleh warga setelah banjir mulai surut. Sebelumnya, kayu-kayu tersebut melintang di badan sungai kemudian dipotong bagian akarnya. “Itu tadinya pohon yang hanyut beserta akar-akarnya, dipotong-potong pagi tadi oleh masyarakat,” katanya.

Ketika ditanya apakah kayu atau pohon tersebut adalah hasil pembalakan, Dedi menyanggahnya. “Tidak ada (pembalakan). Karena di atas titik longsornya sangat banyak. Jadi longsor itu karena pertahanan tanahnya itu tak cukup kuat untuk menahan debit hujan,” katanya.

Seorang saksi mata, Derlina Perangin-angin mengatakan, banjir di Sungai Landak kali ini sangat berbeda dengan banjir sebelumnya. Jika malam hari banjir, maka pada pagi hari air sudah kembali jernih. “Banjir sebesar ini, abang saya, bapak saya yang sudah berumur 80 tahunan bilang, ini lah banjir yang paling besar, tidak pernah sebesar ini sebelumnya,” katanya.

Sebelum banjir, yakni sekitar pukul 20.00 WIB, dia bersama suaminya sempat turun ke bawah untuk mengambil beberapa barang yang bisa diselamatkan. Namun, tak lama kemudian air semakin tinggi. Sekitar pukul 22.00 WIB hingga 01.00 WIB itu lah banjir bandang terjadi membawa kayu-kayu besar beserta akar-akarnya. Menurutnya tidak terhitung berapa jumlah batang kayu besar yang sudah melintas di depannya.

“Saya mendengar suara air ini, sampai mau copot jantung saya ini. Makanya berdoa terus, barang-barang saya tidak peduli. Saya tidak ada daya lagi. Sama suami saya cuma menengok saja lah sambil berdoa sama Tuhan. Supaya jangan dideraskan airnya,” katanya.

Dia menduga kayu-kayu tersebut berasal dari hutan di Taman Nasional Gunung Leuser setelah terjadi longsor, bukan karena adanya penebangan. “Bapak lihat itu sama akar-akarnya. Kalau penebangan, itu kan ada bekas dormal. Tni tidak ada bekas dormalan. Kami yakin tidak ada penabangan liar, memang kuasa Tuhan yang sudah disampaikan sama Landak River ini lah mungkin,” katanya. [KM-05]