Sempat Kejang-Kejang, Dinas Kesehatan Deli Serdang Bantah Siswa SD Meninggal Akibat Vaksin

DELI SERDANG, KabarMedan.com | Kepala Dinas Kesehatan Deli Serdang, Ade Budi Krista membantah bahwa R, siswa kelas tiga SD telah meninggal akibat vaksin. Ia menyebut anak kedua dari Sarma Simbolon tersebut meninggal akibat tetanus yang dideritanya.

“Ini sudah pasti tidak ada kaitannya dengan vaksin, karena vaksin itu tidak ada kaitannya dengan tetanus. Masa inkubasi tetanus itu 10 sampai 14 hari, artinya sebelum divaksin anak itu sudah terkena tetanus dan kebetulan itu sudah di vaksin gejalanya timbul,” ujarnya, Kamisn (27/1/2022).

Kejang-kejang yang dialami oleh R dikatakan Ade juga adalah sebab tetanus. Hal itu disampaikannya sesuai dengan rekam medis yang disampaikan oleh dokter rumah sakit.

“Ini disimpulkan dari resume medis dan adanya pemeriksaan dokter spesialis anak. Gejalanya jelas, karena ada trismus dan opistotonus,” tuturnya.

Sebelumnya, Sarma Simbolon menyebut anaknya yang masih duduk dibangku kelas tiga SD tersebut mengikuti agenda vaksinasi di sekolahnya pada Rabu (19/1/2022) lalu.

Baca Juga:  Polres Sergai Musnahkan Barbut Narkoba, 100 Gram Sabu dan 19 Butir Ekstasi

R kemudian disebut mengalami demam dan jatuh sakit hingga tidak nafsu makan. Ia kemudian dibawa ke klinik untuk diperiksa pada keesokan harinya.

“Anak saya divaksin tanggal 19 Januari 2022, itu hari Rabu dan ketahuan dia sakit di Kamis malamnya. Jadi dibawa ke klinik,” ujar Sarma pada Kamis (27/1/2022).

Ia juga mengungkap, anaknya saat itu juga mengalami perut yang tiba-tiba sedikit membesar. Sesampainya di klinik, R kemudian di rujuk ke Rumah Sakit yang ada di Kota Medan.

“Kondisinya demam, perutnya agak membesar. Jadi dibawa lah ke klinik, terus dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Medika. Tapi di sana nggak ada dokter anak sama peralatannya. Jadi dirujuk lagi ke Rumah Sakit Mitra Sejati,” tuturnya.

Baca Juga:  Program IM3 Pasti Simpel Buat Pelanggan Sumatra Bawa Pulang Motor Listrik

Sekitar empat hari dirawat, R kemudian dianjurkan oleh Dokter untuk dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik karena sudah ada infeksi di otot hingga adanya gejala kejang-kejang.

“Dokter bilang anak saya infeksi otot, jadi dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik, tetanus begitu katanya. Sedangkan anak ku nggak pernah kenapa-kenapa, nggak pernah sakit,” kata Sarma.

Hari Senin (24/1/2022), Sarma Simbolon menolak membawa anaknya ke Rumah Sakit Adam Malik dan memilih untuk merawat sendiri di rumah. Hal itu dikatakannya karena tidak ada anggota keluarga yang bisa menjaga anaknya di sana, lantaran ia harus bekerja.

Tak kunjung membaik, Sarma kembali membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum di Lubuk Pakam pada Selasa (25/1/2022) dan meninggal pada Rabu (26/1/2022). [KM-06]