MEDAN, KabarMedan.com | Tak hanya dari BEM Seluruh Indonesia, aliansi Cipayung Plus Kota Medan yang terdiri dari organisasi HMI, GMKI, PMII, KAMMI, IMM, GMNI, HIMMA juga memenuhi kantor DPRD Sumatera Utara.
Membawa empat poin tuntutan, ratusan mahasiswa itu menyoroti kenaikan harga minyak goreng yang dinilai menyulitkan kehidupan masyarakat.
“Kami menolak kenaikan BBM. Karena kenaikan BBM ini mempengaruhi kondisi daya beli masyarakat di bawah. Orang tua kita pasti kesusahan,” orasi massa aksi dari mobil komando.
Kedua, massa aksi juga menyuarakan penolakan terhadap kenaikan PPN yang awalnya 10 persen menjadi 11 persen.
“Ini akan menimbulkan masalah baru. BBM dinaikkan, PPN juga dinaikkan, ini semakin berpengaruh terhadap daya beli masyarakat,” katanya menyampaikan tuntutan poin kedua.
“Ketiga, kami menolak kenaikan harga pokok sembako. Kita sama-sama menyaksikan bahwa satu bulan belakang ini kota cukup sulit untuk mendapatkan yang namanya minyak makan (goreng),” sebutnya.
Massa aksi meminta agar pemerintah membuat regulasi yang sah untuk dapat memberikan perhatian yang serius terhadap kesusahan masyarakat akibat kenaikan-kenaikan yang terjadi.
Selanjutnya, para mahasiswa juga menolak tegas rencana pemindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan.
“Karena dalam masa transisi dari pandemi Covid-19, keadaan ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Ada berapa banyak biaya yang digelontorkan untuk proyek besar ini? Kita khawatir karena ini akan kurang perhatian pemerintah terhadap bantuan sosial kepada masyarakat,” tuturnya. [KM-06]














