Tingkat Inflasi Indeks Harga Konsumen Sumut Menurun

MEDAN, KabarMedan.com | Berbeda dengan perekonomian nasional yang mengalami inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,23% (mtm), Deflasi yang terjadi di Sumatera Utara pada Februari 2017 tercatat sebesar -0,59% (mtm).

Realisasi ini sangat positif dan memberikan keyakinan bahwa inflasi dapat dijaga pada kisaran sasaran inflasinya. Deflasi sejalan dengan pola musimannya. Bahkan, pada level yang lebih rendah dibandingkan historisnya (rata-rata inflasi Februari 7 tahun terakhir tercatat -0,29%).

“Dengan perkembangan inflasi bulan sebelumnya (0,45% mtm) yang juga lebih rendah dari pola historisnya, hingga Februari Sumatera Utara masih mengalami deflasi 0,13% (ytd), sementara nasional tercatat inflasi 1,21% (ytd),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara, Arief Budi Santoso, Rabu (1/3/2017).

Secara tahunan inflasi IHK Sumatera Utara menurun dari 5,89% menjadi 4,98% (yoy), berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu sebesar 4%±1% (yoy). Pasokan yang membaik mendorong deflasi kelompok volatile food sebagai faktor utama deflasi di Februari 2017.

“Kelompok volatile food (VF) pada Februari 2017 kembali mengalami deflasi sebesar -3,43% (mtm), jauh lebih dalam dari deflasi yang terjadi pada bulan sebelumnya (-0,57%, mtm).Realisasi ini sejalan dengan rata-rata historisnya selama 7 tahun terakhir yang mengalami deflasi sebesar -1,26% (mtm),” ujarnya.

Penurunan harga terutama terjadi pada cabai merah (-0,79%), seiring dengan masuknya musim panen di beberapa sentra produksi seperti Karo, Batubara, Mandailing dan Tapanuli Utara.

Namun, harga ikan mengalami kenaikan karena berkurangnya pasokan akibat cuaca buruk, yang menjadi penahan deflasi yang lebih dalam. Secara tahunan, inflasi kelompok VF turun tajam menjadi 5,46% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya (10,05%).

“Tekanan inflasi di Februari bersumber dari kelompok Administered Prices (AP) tercatat sebesar 0,79%(mtm) dengan intensitas lebih rendah dibanding bulan sebelumnya (1,72% mtm),” ungkapnya.

Selain harga rokok, inflasi bersumber dari dampak kenaikan tarif listrik daya 900 VA masih tercatat di bulan Februari sebesar 0,14%. Di sisi lain, tarif angkutan udara mengalami deflasi 11,79%, yang menjadi faktor penahan kenaikan harga pada kelompok ini. Secara tahunan, inflasi kelompok ini masih rendah (4,46% yoy).

“Kelompok inti juga mengalami inflasi sebesar 0,39% (mtm) atau 4,83% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,57% (mtm) dan 5,42% (yoy). Inflasi inti terutama disumbang oleh kenaikan harga komoditas mobil yang diduga karena kenaikan biaya pengurusan STNK dan BPKB, kenaikan biaya operasional tahunan, serta kenaikan harga sewa rumah,” ucapnya.

Secara spasial, keempat kota IHK di Sumatera Utara mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga -1,34% (mtm), tertinggi kedua di Sumatera setelah Jambi yang deflasi sebesar -1,40% (mtm).

Secara tahunan (yoy), seluruh kota IHK mencatat inflasi di bawah 5%, kecuali Pematangsiantar (5,22%). “Dengan perkembangan tersebut, inflasi Sumatera Utara di 2017 diperkirakan terkendali pada sasaran inflasi 4%±1% (yoy),” jelasnya.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Provinsi Sumatera Utara akan berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga dengan melakukan berbagai kebijakan untuk tetap menjaga pasokan dan dan kelancaran distribusi bahan pokok, serta mengantipasi risiko inflasi terutama penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah.

“Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Provinsi Sumatera Utara akan konsisten menjalankan program-program sesuai road map pengendalian inflasi,” pungkasnya. [KM-03]