Ribuan Babi Mati di Sumut Terindikasi Kena Virus Demam Babi Afrika

Peneliti Balai Veteriner Medan sedang melakukan uji laboratorium.

MEDAN, KabarMedan.com | Selain disebabkan virus hog cholera, Balai Veteriner Medan menyebut, ribuan babi yang mati di Sumut terindikasi terkena virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika.

Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia mengatakan, pihaknya sejak September hingga Oktober telah mengambil sampel terhadap babi yang mati di beberapa Kabupaten yang dilaporkan terjadi kematian babi.

Dijelaskannya, pihaknya menerima laporan kematian babi dari dinas terkait di Kabupaten/Kota dan Provinsi. Pihaknya juga sudah turun ke lapangan dan mengambil sampel di daerah yang terjadi peningkatan ekskalasi kematian babi.

“Hasilnya, benar seperti yang kita duga sebelumnya, yakni hog cholera, pernah terjadi di tahun 1993-1996, itu wabah,” katanya, Jum’at (8/11).

Hog cholera saat itu sudah ditangani. Namun, dari segi ilmu kedokteran, virus itu tetap ada dan tidak menyerang jika ketahanan tubuh babi kuat. Namun, ketika ketahanan tubuhnya kuat namun masih muncul, maka di situ lah yang disebutnya dengan daerah endemis.

“Jadi serta merta bisa muncul. Agar tidak muncul, maka harus ada vaksinasi,” katanya.

Baca Juga:  Positif Gunakan Narkotika, 27 Orang Pengunjung Hiburan Malam di Sergai Diamankan

Namun demikian, menurutnya, penyakit babi tidak hanya hog cholera. Mengingat kematian terus terjadi, pihaknya kembali melakukan uji lab dan hasilnya menemukan indikasi suspect ASF.

“Begini, kenapa saya katakan indikasi karena selama ini tidak pernah ada dan saya katakan sampai saat ini tidak ada serangan virus ASF, tapi kalau indikasi ASF, iya. Beda antara ada dan indikasi ya,” katanya.

Dijelaskannya, untuk membuktikan adanya ASF, harus dlakukan uji lab berkali-kali dan hasilnya disampaikan oleh atasannya. Dalam hal ini, pihaknya melaporkan hasil uji lab ke Direktur Jenderal Penyakit dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

Menurutnya, virus ASF ini belum pernah ada di Indonesia. Serangannya cepat dan sistemik. Babi yang diserang tidak kelihatan sakit namun bisa tiba-tiba mati.

Virus ASF ini masuk ke dalam tubuh dan mematikan organ-organ. Dicontohkannya, di hari pertama hingga satu minggu serangan, babi tidak terlihat sakit namun selanjutnya mati.

Ada juga yang dalam seminggu serangan, namun babi tidak langsung mati. Babi tersebut, kata dia, menjadi sumber penyebar virus.

Baca Juga:  Polres Sergai Amankan 58 Orang Selama Operasi Antik 2026

“Dan ASF ini, di dunia ini belum ada obatnya. Vaksinnya belum ada. Jadi itu yang membedakannya dengan hog cholera yang vaksinnya sudah ada,” katanya.

Menurutnya, babi yang terserang virus ASF ini masih bisa dikonsumsi namun setelah dimasak dengan suhu 100 derajat celcius.

“Iya, masih bisa dikonsumsi tapi harus dimasak dulu. Kenapa masih bisa dikonsumsi karena tidak zoonosis, tidak menular kepada manusia, tapi babi ke babi,” katanya.

Agustia menambahkan, untuk menghindari penyebaran lebih luas, menurutnya ada perlakuan di lapangan juga harus mengikuti standar ASF.

Pertama, masyarakat tidak membeli ternak babi yang harganya murah.

Kedua, masyarakat juga harus menerapkan bio security, yakni tidak saling menjenguk ternak yang sakit.

Ketiga, bangkai babi tidak dibuang ke sungai atau ke hutan melainkan dikubur.

Keempat, perlu dilakukan pengetatan lalu lintas ternak dan menjaga sanitasi kandang. Kandang, kata dia, harus sesering mungkin dicuci.

“Manajemen kandang juga perlu dilakukan, untuk memastikan kandang bersih itu memang tidak mematikan, tapi cukup membantu,” pungkasnya. [KM-05]