Begini Kisah Pasangan Dokter di Medan yang Sembuh dari COVID-19

Aktifitas di rumah pasangan dr. Fauziah dan dr. Arief Fadhillah kembali seperti semula. Keduanya sempat positif COVID-19 lalu negatif COVID -19 setelah diisiolasi di RSUP Haji Adam Malik selama 15 hari.

MEDAN, KabarMedan.com | Menerapkan protokol kesehatan dalam rutinitas sehari-hari dan selalu berusaha tetap bahagia adalah kata kunci yang diucapkan oleh pasangan suami istri yang berprofesi sebagai dokter di Medan. Mereka adalah dr. Arief Fadhillah dan dr Fauziah. Keduanya menjalani isolasi selama 15 hari di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada 13 Agustus yang lalu dan dilanjutkan isolasi mandiri di rumahnya selama 14 hari.

Kepada wartawan yang menemuinya di rumah yang juga dijadikan tempat praktik di Kelurahan Kota Matsum, Kecamatan Medan Kota pada akhir pekan lalu, dr. Fauziah yang saat itu usai melayani seorang pasien mengatakan, awalnya dirinya tidak terlalu ‘ngeh’ bahwa sakit yang dirasakannya pada awal Agustus itu mengarah pada COVID-19. Saat itu, suaminya yang sempat demam, masih tetap bekerja dan rapid test hasilnya non reaktif.

“Jadi waktu itu saya betul-betul kurang fit. Capek. Pertama kali kena bapak. Selesai bapak demam. Saya belum demam tapi udah ngerasa kurang penciuman, kok gak ada wanginya yang masak. Sempat bercanda juga sama asisten. Tapi saya nggak ngeh ke sana,” katanya.

dr. Fauziah mengatakan, upaya agar tidak terpapar COVID-19 adalah menjalankan protokol kesehatan 3 M dan selalu bahagia sehingga imun dapat terjaga.

Selain itu, dia juga merasakan sakit tenggorokan, batuk yang sangat mengganggu hingga untuk berbicara pun susah. Karena suaminya dinyatakan positif pada saat sudah tidak demam, sedangkan saat itu dirinya sedang merasakan sakit, dia pun memaklumi dirinya juga positif COVID-19. “Berarti saya juga kena. Kemudian dilakukan perawatan. Sehari sebelum diisolasi di rumah sakit, anak-anak tak boleh keluar lagi, pintu pagar digembok. Asisten rumah tangga, saya suruh istirahat. Anak-anak juga isolasi di mandiri. pintu pagar digembok. keperluan di luar rumah, belanja, kebetulan ada adik dari suami yang membantu itu,” katanya.

3 M dan Selalu Bahagia
Dikatakannya, selain menjalankan protokol kesehatan, ada hal lain yang menurutnya juga harus dilakukan. Yakni, harus selalu bahagia. “Saya rasa sederhana. Kita jalankan protokol kesehatan. Satu hal lagi, tidak perlu takut berlebihan karena itu akan menurunkan imunitas kita. Faktor psikologis yang terganggu itu juga bisa menurunkan imunitas. Dan harus berusaha untuk tetap bahagia, happy dalam menjalankan apa aja,” katanya.

Dia menambahkan, setelah dinyatakan negatif COVID-19, mereka tetap menjalankan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. “Setelah isolasi mandiri memang tak buka praktik. Saya tak tahu apakah warga takut atau tidak. Cuman pasien atau warga yang tahu nomor telepon saja, mereka nelfon, dok apak saya sudah boleh berobat. Ada yang tetap datang kemari untuk berobat,” katanya.

Sementara itu, dr. Arief sebelum dinyatakan positif COVID-19, tanggal 28 Juli dia merasa demam namun tetap bekerja. Dari beberapa kali rapid test, hanya saja dari hasil foto thorax terdapat gambaran pneumonia bilateral. Kemudian pada tanggal 6 Agustus, dia test swab yang mana hasilnya keluar 4 hari kemudian, dia dinyatakan positif COVID-19.

Saat itu, lanjutnya, dia tidak lagi merasa demam. Sesuai dengan anjuran dari pihak rumah sakit agar dirinya diisolasi, dia pun dijemput ambulans dari RS Malahayati ke rumahnya menuju RSUP Haji Adam Malik pada 13 Agustus, bersama dengan istrinya yang sat itu mengalami gejala batuk dan demam. “Awalnya saya bilang, saya sudah tidak ada apa-apa. Saya sehat, tapi istri saya yang ada gejala sakit, akhirnya kami dua isolasi di rumah sakit,” katanya.

Yakin Pernah Terkena Sebelumnya
dr. Arief meyakini sebelumnya dia sudah pernah terkena sehingga ketika hasil swab-nya keluar dan dinyatakan positif COVID-19 saat itu, tidak berakibat fatal. Padahal, dia memiliki sakit bawaan berupa jantung (sudah dipasang ring), hipertensi, dan obesitas. “Saya kerja di rumah sakit, pake alat pelindung diri (APD) tetap, APD-nya sederhana, tetap terpapar sedikit-sedikit sehingga kenal tubuh ini. Jadi imun bisa ngelawan saat virus masuk,” katanya.

Menurutnya, terhadap virus ini, tidak boleh disikapi dengan ketakutan dan asa khawatir secara berlebihan. Karena, ketakutan atau kekhawatiran berlebihan bisa berakibat pada menurunnya imunitas. Jika khawatir berlebihan pada Covid-19, maka harus melihat penyakit lainnya seperti kalau kharatir, TBC, serangn jantung, rokok, seringnya minum alkohol, dan lainnya karena angka kematian yang diakibatkan juga tidak sedikit.

dr. Arief Fadhillah mencuci tangannya dengan hand sanitizer saat akan berangkat bertugas di RSUP Haji Adam Malik.

Dia mengibaratkan tubuh yang terkena COVID-19 dengan sebuah kampung yang disantroni maling. “Ibarat kampung dimasuki 5 orang maling. Pada tubuh yang sehat, normal, maka datang polisi imun itu menghadapi maling-maling itu. Tapi pada tubuh yang bermasalah, dia akan menghancurkan maling itu dengan bom atom. Berlebihan,” katanya.

Padahal, sebenarnya virus ini adalah virus yang sederhana yang bisa mati jika terkena sabun, ultra violet, dan tak mampu hidup di tempat kering serta akan mati dengan sendirinya setelah 14 hari. Hanya saja, yang perlu ditangani adalah proses dampak ‘serangan’ virus, mulai dari pembekuan darah, penyumbatan darah dan lainnya. “Virusnya, 14 hari mati sendiri. Tapi proses kerusakan itu, penyumbatan sana sini itu yang berlanjut dan harus ditangani. Makanya salah satu obatnya adalah pengencer darah,” katanya.

Kuncinya 3 M
Menurutnya, untuk mencegah penyebaran COVID-19, protokol kesehatan harus dijalankan. Setiap orang, kata dia, harus rajin mencuci tangan, khususnya ketika akan menyentuh bagian wajah, menjaga jarak dan memakai masker. “Itu saja. Dan kalau demam atau batuk ya istirahat. Soalnya, waktu diisolasi dulu, yang kita makan pun hanya makanan rebusan, ikan, tahu, tempe, daging sesekali, telur selalu ada, jus dan susu,” katanya. [KM-05]