MEDAN, KabarMedan.com | Setelah mengadakan konsolidasi akbar pada tanggal 11 April 2022 lalu, BEM Sumatera Utara Bersatu yang terdiri dari BEM Universitas Sumatera Utara dan belasan Universitas lainnya tak jadi turun melakukan aksi.
Padahal, berdasarkan hasil keputusan konsolidasi tersebut, aksi akan dilakukan pada Rabu (13/4/2022) hari ini di depan Gedung DPRD Sumatera Utara.
Pantauan di lapangan tadi, kelompok massa aksi dengan aliansi berbeda datang secara bergantian sejak pagi. Dibuka dengan kedatangan BEM Seluruh Indonesia, kemudian Cipayung Plus Kota Medan, BEM UINSU, BEM Universitas Panca Budi, dan Generasi Republik Indonesia Menggugat yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar.
Hingga sore, aliansi yang digadang-gadang akan membawa massa di atas 1.000 itu tak kunjung muncul. Usut punya usut, aksi tersebut ternyata batal. Presiden Mahasiswa USU, M Rizki Fadillah disebut-sebut membatalkan dan menyatakan ketidaksiapan di hari H.
Kejadian ini, ditanggapi oleh Anwar Safaat, salah satu massa aksi dari USU sendiri. Ia mengaku terkejut Presiden Mahasiswa tiba-tiba melakukan pembatalan yang ia pun menduga adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu. Sebab, dari persiapan bahkan konsolidasi yang sudah beberapa kali dilakukan, Anwar menilai tidak ada alasan lain mengapa aksi tersebut tiba-tiba dibatalkan di hari ini.
“Tanggapan mengenai mengatakan antara siap nggak siap itu, aku pikir di sini merupakan kelemahan dari konsolidasi atau kelemahan internal, terutama kelemahan mental dari presiden mahasiswa. Karena di sini kita memandang juga, bahwasanya persiapan konsolidasi dengan membawa 13 BEM dari 13 kampus aku pikir itu sudah matang, tiba-tiba kena pressure lah Presiden Mahasiswa mungkin. Kemungkinan Presiden mahasiswa terkena tekanan sehingga menyatakan tidak siap untuk turun,” ujar sosok yang kini menjabat sebagai Kabid PTKP HMI Komisariat FISIP USU itu.
Presiden Mahasiswa diungkap Anwar menyebut alasan-alasan seperti ketidaksiapan dan kemungkinan bentrok di lapangan. Padahal, kemungkinan itu bisa saja dibantah, sebab dalam manajemen aksi telah dilakukannya pembahasan manajemen konflik.
“Jadi dengan berdalih kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, kalau bicara soal kemungkinan, dalam manajemen aksi pasti ada manajemen konflik. Kalau dibicarakan oleh Presma bahwasanya kemungkinan terjadi konflik, lantas di mana kesiapan manajemen konflik? Artinya ini bukan terkait dengan manajemen, melainkan kelemahan dari Presiden Mahasiswa yang aku pikir perlu ditindaklanjuti atau diperhatikan lagi,” sebutnya.
Beberapa massa aksi, yang tidak hanya dari USU, melainkan juga dari Universitas lain disebutnya sudah sempat berkumpul dan bersiap turun ke jalan. Namun mereka harus kecewa dengan keputusan pembatalan tersebut.
“Kebingungan, tekanan mental dan ketidaksiapan dari Presiden Mahasiswa untuk menanggungjawabi sehingga massa aksi kecewa. Jadi Presiden Mahasiswa dari Panca Budi mengambil sikap sendiri untuk turun. Artinya, pembatalan ini sudah mencederai kesepakatan dari BEM aliansi tadi,” tuturnya.
Saat ditanya pertimbangan apa yang diungkap oleh Presiden Mahasiswa USU mengenai pembatalan tersebut, Anwar menyebut Rizki enggan aksi di tanggal 13 April ini menjadi eksekusi yang kurang matang. Atas hal itu, ia pun kembali membantahnya.
“Petimbangannya katanya ada mengatakan bahwasanya kita tidak mau dengan gerakan-gerakan praktis, gerakan-gerakan yang dipikir momentum atau eksekusi, secara persiapan yang kurang. Aku pikir persiapan konsolidasi sebelumnya udah siap. Kalau memang mungkin persiapan itu nggak ada, kenapa berani mengeluarkan jatuhnya tanggal? Kenapa tiba-tiba di hari H dibilang sebagainya. Itu menjadi pertanyaan bagi kawan-kawan massa aksi, bahkan dari kawan-kawan aliansi,” jelas Anwar.
“Reaksi kawan-kawan otomatis kecewa, bahkan sangat kecewa. Dan kemungkinan aliansi yang kita bangun akan melempari USU terutamanya, karena ku pikir komitmen yang awalnya dibangun dikangkangi bahkan dilupakan,” lanjutnya.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa dari Universitas Panca Budi, Ade Prasetya membenarkan kabar pembatalan tersebut. Ia yang tidak sepakat akan pernyataan mundur di hari H itu, membawa massa Universitasnya untuk turun secara tunggal di jalan.
“Tadi beberapa aliansi menyatakan tidak turun, saya tidak sepakat, jadi kami memutuskan untuk turun sendiri, Panca Budi aksi tunggal sendiri,” ujarnya.
Saat ditanyakan alasan mengapa, ia pun menjawab ada ketidaksiapan dan kekhawatiran mengenai suasana di lapangan.
“Terkait itu juga kami kan memiliki koordinator aksi. Koordinatornya ini tidak memadai juga, takut terjadi kericuhan, makanya aliansi itu tidak jadi aksi,” tuturnya.
Meskipun terkesan enggan mengomentari banyak mengenai pembatalan aksi tersebut, Ade menyebut Panca Budi tak gentar untuk turun ke jalan sebagai satu-satunya pihak yang menjalankan kesepakatan untuk menyuarakan suara rakyat.
“Kami memutuskan aksi sendiri ya karena ingin menyuarakan rakyat. Kami tidak takut, mau itu bentrok atau apapun karena ini suara rakyat,” pungkasnya.
KabarMedan.com berupaya menghubungi Rizki Fadillah, namun belum mendapatkan tanggapan hingga saat ini.
Sebelumnya, pada aksi kali ini, para mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Sumut Bersatu akan membawa 13 poin tuntutan, di antaranya:
- Evaluasi sistem pembangunan Ibu Kota Negara (IKN).
- Mewujudkan penyetaraan pendidikan di daerah tertinggal di Sumut.
- Menuntut pemerintah untuk menghapus PPN 1%.
- Menolak upaya perubahan konstitusi tentang perpanjangan tiga periode presiden.
- Mengoptimalisasi serta pengawasan ketat terhadap kinerja BUMN.
- Menolak naiknya Pertamax.
- Menolak wacana naiknya pangan.
- Meminta kepada presiden Jokowi untuk membuktikan pernyataan tentang tidak adanya 3 periode dan penundaan pemilu.
- Menuntut pemerintah Jokowi atas melonjaknya hutang negara.
- Mengecam keputusan DPR yang ikut campur mengenai pencabutan SIP Terawan.
- Menuntut kepada Presiden Jokowi agar LBP mengundurkan diri dari Kabinet.
- Menuntut pemerintah untuk penyerataan infrastruktur Jalan di Sumut.
- Menolak wacana baiknya gas elpiji 3 Kg.
11 April 2022 lalu, Muhammad Rizki Fadillah menanggapi perihal tidak ikut turunnya pada hari itu.
“Ini sebenarnya kan hasil dari kesepakatan bersama Aliansi BEM Sumatera Utara Bersatu. Nah jadi kita sudah melakukan gerakan konsolidasi dari minggu lalu juga, dan hari ini lah konsolidasi ke-empat, konsolidasi terakhir, konsolidasi akbar,” ujarnya, Senin (11/4/2022).
Menurutnya, aksi demonstrasi yang dilakukan tidak mau terkesan tergesa-gesa sehingga perlu dilakukan kajian terhadap isu-isu secara lebih dalam.
“Jadi mengapa kita tidak mengikuti tanggal 11, sebenarnya ini tergantung dari kesiapan kita. Kita nggak mau momentum 11 April ini menjadi momentum yang tergesa-gesa. Karena dari BEM Sumut kita sepakat untuk melakukan pengkajian dari setiap isu-isu yang sedang kita bahas maupun yang berkembang,” katanya.
“Sehingga masing-masing kajian ilmiah dari teman-teman kampus itu, itu lah yang direkapitulasi menjadi langkah dan sikap kita ke depan. Kita memiliki langkah khusus dari Sumatera Utara,” tambah dia. [KM-06]














