Gunung Sitoli Masih Zona Merah, Siapapun yang Masuk ke Nias Harus Swab

Ilustrasi swab COVID-19

MEDAN, KabarMedan.com | Laporan Satuan Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Sumatera Utara (Sumut) pada Selasa (17/11/2020) menunjukkan angka kumulatif konfirmasi positif COVID-19 di Sumut sebanyak 14.512 orang penderita. Dari 33 kabupaten/kota di Sumut, tinggal Kota Gunung Sitoli yang masih zona merah. Karenanya, siapapun yang masuk ke Pulau Nias, harus menjalani tes swab.

Terlihat dari data tersebut, Kota Medan masih merupakan penyumbang angka terbesar yakni sebanyak 7.331 orang. Jumlah yang sembuh sebanyak 6.259 orang dan meninggal dunia 297 orang. Disusul Deli Serdang dengan konfirmasi positif sebanyak 1.743 orang dan sembuh 1.445 orang dan meninggal dunia 83 orang.

Kemudian peta zonasi risiko di laman covid19.go.id, terlihat hanya tinggal Kota Gunung Sitoli yang masih merah atau risiko tinggi. Kemudian, 1 kabupaten merupakan zona kuning atau risiko rendah dan 31 kabupaten lainnya zona orange atau risiko sedang.

Diketahui, untuk Kota Gunung Sitoli, konfirmasi positif COVID-19 sebanyak 278 orang, sembuh 170 orang dan meninggal dunia 10 orang. Sedangkan Kabupaten Asahan yang sudah menjadi zona kuning, jumlah konfirmasi positif COVID-19 sebanyak 220, sembuh 183 dan meninggal dunia 13 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Alwi Mujahit Hasibuan ketika dikonfirmasi melalui telepon pada Selasa (17/11/2020) menjelaskan, mengenai kasus COVID-19 di Gunung Sitoli yang masih zona merah, sejak beberapa hari yang lalu sudah ditugaskan beberapa orang dari Satgas Penanganan COVID-19.

“Jadi dilakukan untuk memutus rantai penularan, semua orang yang masuk ke Nias kita swab, kontak erat kita swab. Semuanya sepulau Nias. Yang positif diisolasi di hotel sampai sembuh,” katanya.

Di Pulau Nias, lanjut Alwi, jika memiliki gejala ringan maka dikarantina secara mandiri. Sedangkan yang bergejala berat harus masuk ke rumah sakit sampai sembuh. Alwi menambahkan, penanganan COVID-19 di Gunung Sitoli sudah terkendali. Hanya saja yang positif banyak yang belum sembuh.

“Tapi sudah terisolasi, mudah-mudahan seiring waktu cepat selesai. Kita tidak terlau urus dengan warna itu. Yang penting kita bisa kendalikan semuanya, putus rantai penularan,” ujarnya.

Alwi menambahkan, saat ini pihaknya mendorong target swab tercapai sehingga bisa memutus rantai penularan, yakni 1 per mil per minggu. “Misal penduduk Labuhanbatu 500.000, maka per minggu ada 500 yang harus diswab. Dari itu, nanti akan ada yang positif negatif. Angka positivity rate, kita kan sekarang 9 persen, kalau ada 500 maka kemungkinan positif itu 45,” katanya. [KM-05]