Jelang Ramadhan 1438 H, Inflasi Terkendali

MEDAN, KabarMedan.com | Inflasi di Sumatera Utara terkendali memasuki Ramadhan 1438 H. Setelah tiga bulan berturut-turut mengalami deflasi, pada bulan Mei 2017, perkembangan harga secara umum yang diukur dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Utara hanya mengalami inflasi sebesar 0,07% (mtm) sehingga secara tahunan mencapai 4,28% (yoy).

Inflasi itu lebih rendah dari Inflasi nasional yang mencapai 0,39% (mtm) dan rata-rata historis 5 tahun terakhir yang mencapai 0,44%. Secara tahun kalender di tahun 2017, IHK Sumatera Utara sampai dengan periode laporan masih tercatat deflasi sebesar -0,69% (ytd).

Kondisi inflasi tersebut menunjukkan masih terjaganya pasokan. Hal tersebut terlihat pada kelompok Volatile Food (VF) yang masih mengalami deflasi yakni sebesar -0,52% (mtm) atau secara tahunan mencapai 2,06% (yoy). Deflasi tersebut terutama didorong beberapa komoditas seperti daging ayam, bawang merah, cabai rawit dan ikan dencis yang secara historis menjadi komoditas penyumbang inflasi pada bulan puasa/lebaran.

Kondisi tersebut disebabkan masih melimpahnya stok di beberapa sentra produksi. Selain itu, masih berlangsungnya musim panen di kawasan Jawa, baik untuk komoditas bawang merah maupun sayur mayur juga mendorong deflasi di komoditas VF. Sementara itu, kenaikan harga cabai merah terkait dengan masuknya musim tanam di tengah peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadhan.

“Inflasi Mei 2017 menunjukkan ekspektasi inflasi yang terjaga. Harga barang dan jasa lainnya dalam keranjang IHK relatif stabil menjelang puasa. Kondisi tersebut tercermin pada inflasi kelompok inti yang relatif stabil, yang didukung juga oleh stabilitas nilai tukar,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Arief Budi Santoso, Jumat (2/6/2017).

Secara bulanan, inflasi inti di bulan Mei 2017 tercatat sebesar 0,10% (mtm), sedikit meningkat dari 0,04% (mtm) di bulan sebelumnya, sehingga secara tahunan mencapai 3,21% (yoy). Namun, realisasi inflasi inti tersebut masih jauh lebih rendah dari historisnya selama 5 tahun terakhir yang mencapai 0,22%.

“Berdasarkan komoditasnya, stabilnya tekanan inflasi inti tersebut didorong oleh penurunan harga gula pasir seiring dengan penetapan harga eceran tertinggi (HET) dari Pemerintah sebesar Rp12.500 per kg. Selain itu, penurunan tarif pulsa ponsel juga diperkirakan menahan laju tekanan inflasi inti,” ujarnya.

Tekanan inflasi di bulan Mei 2017 terutama bersumber dari kelompok Administered Prices (AP) yang tercatat sebesar 0,52% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya (1,11% mtm). Namun, secara tahunan inflasi AP mengalami peningkatan dari 6,53% (yoy) menjadi 7,18% (yoy). inflasi terutama bersumber dari dampak kenaikan tarif listrik pra bayar daya 900 VA yang tercatat mengalami inflasi sebesar 1,01% (mtm).

Selain itu, dampak peningkatan penumpang udara di awal bulan Ramadhan terhadap tarif angkutan udara masih terbatas dengan inflasi sebesar 4,36% (mtm). Inflasi kelompok ini juga disumbang oleh kenaikan harga bensin non subsidi (Pertamax dan Pertamax Plus) sebesar 0,97% seiring dengan harga minyak dunia yang meningkat.

“Secara spasial, disparitas inflasi masih terlihat. Di satu sisi, inflasi terjadi di kota Medan 0,08% (mtm) dan Kota Sibolga 0,39% (mtm). Sementara, Kota Pematangsiantar dan Padangsidimpuan mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,01% (mtm) dan -0,09% (mtm),” jelasnya.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi Sumatera Utara di 2017 diperkirakan terkendali pada sasaran inflasi 4%±1% (yoy). Dalam kaitan ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Provinsi Sumatera Utara tetap berkomitmen untuk menjaga pasokan dan kelancaran distribusi bahan pokok terutama sepanjang bulan puasa dan lebaran. “Stabilitas harga diharapkan dapat dijaga dengan dibentuknya Satgas Pangan terutama untuk mengatasi permasalahan penimbunan pasokan bahan pokok,” pungkasnya. [KM-03]