Kita dan Buku Komunis Itu

Buku dan Surplus Demografi

Dalam satu dekade ke depan, para ahli menyebutnya Indonesia menhadapi surplus demografi, di mana jumlah angkatan kerja akan bertambah banyak sedangkan jumlah usia tidak produktif akan mengecil. Usia produktif yang banyak itu kalau tidak dibarengi dengan mutu SDM yang baik, yang suka membaca dan menulis, maka masa yang dianggap peluang emas itu akan terlewati sia-sia, sebab usia produktif itu dipersiapkan setidaknya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional yang ujung-ujungnya meningkatkan kesejahteraan warga Indonesia. Di saat yang sama tingkat kompetisi dengan negara-negara lain akan lebih sengit, karena keterbukaan informasi dan pasar yang semakin bebas.

Membaca, berdiskusi, dan menulis saya anggap sebagai satu dan sekian banyak paket resep memajukan bangsa ini. Sebenarnya semua hal bisa dituliskan, termasuk menulis soal: ketidakmampuan menulis. Masalahnya kita terlampau cepat menilai tulisan yang baru saja ditulis: wah, jelek sekali! Ekspresi demikian mencerminkan karakter pesimis, bukan skeptik, karena tidak memiliki dasar logika yang baik. Ketika bersikap pesimistik, apapun itu tidak akan pernah selesai dan dengan cepat ditinggalkan.

Kemudian, tulislah yang menjadi kegemaran kita sendiri, bukan kegemaran orang lain yang tidak nyaman kita lakukan. Kalau tidak hobi sepakbola, tetapi biliar, tulislah tentang pengalaman kita bermain biliar dan teknik dasarnya, setidaknya sasaran audiensnya adalah para pemula, ketika kita merasakan pengalaman kita ada di atas mereka. Semangat berbagi lewat tulisan, bisa berupa hasil perjalanan kita ke berbagai tempat yang unik. Jikalau kiranya sulit mengingat kembali pengalaman itu, di lain kesempatan, dapat menggunakan alat perekam suara atau visualkan dengan kamera ponsel.

Bagi saya Hari Buku Nasional adalah hari raya publik Indonesia, bukan hanya hari yang dirayakan penulis, editor, penerbit, dan distributor buku demi meningkatkan nilai-nilai sosial budaya kemanusiaan, serta menyadarkan penguasa negara ini agar tidak alpa dengan keadaban literasi: lawan buku dengan buku, bukan menebar ancaman.

Berkomentarlah secara bijaksana dan hindari menyinggung SARA. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator.