MEDAN, KabarMedan.com | Hari raya Idul Fitri yang harusnya dilalui dengan suka cita nyatanya harus dihadapkan pada banjir di beberapa titik di Kota Medan. Hingga Sabtu, (15/5/2021) kemarin warga di Kalurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun pasrah dengan rumah mereka yang digenangi air.
Ketinggian banjir yang sempat mencapai dada orang dewasa tersebut disinyalir berasal dari luapan Sungai Deli. Pengamat Lingkungan Jaya Arjuna mengatakan bahwa hal tersebut akibat adanya kerusakan yang terjadi dari hulu sungai.
“Banjir ini kan banjir dari hulu ni kan, banjir dari sungai. Artinya di bagian hulu sungai itu udah rusak. Itu kan hulu sungai itu ada yang dari Karo sama dari Deli Serdang. Harusnya itu ditangani oleh PDAM Tirtanadi karena itukan sumber air Tirtanadi,” ujarnya, Minggu (16/5/2021).
Ia juga mengatakan bahwa harus diadakannya pengelolaan keuangan termasuk APBD untuk pemerintah lebih serius dalam menanggulangi permasalahan luapan sungai yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun.
“Jadi bagaimana caranya, itu PDAM Tirtanadi itu seserahan ke Medan. Jadi Medan itu membayar air ke Karo sama Deli Serdang. Uang pembayaran itulah yang digunakan oleh Deli Serdang sama Karo untuk memperbaiki kualitas lingkungan di DAS Deli. Itu yang harus dilakukan, jadi nanti kan dihitung berapa pembayaran Medan ke Karo, berapa yang masuk ke APBD mereka, berapa yang harus mereka untuk memperbaiki hutan dan lain-lain,” katanya.
Jaya Arjuna juga menuturkan tindakan perbaikan harus dilakukan secepatnya untuk menghindari kerusakan dan dampak yang lebih parah. Begitupun dengan kondisi tempat tinggal masyarakat Kampung Aur yang harus diperhatikan agar tidak selalu menjadi korban saat banjir melanda. Ia juga mengkritik Langkah pemerintah yang dianggap tidak serius dalam menyelesaikan permasalahan ini.
“Kalau untuk di Kampung Aur, itu harus dibangunkan perumahan untuk masyarakat di sana yang nyaman, aman, asri dan terhindar dari banjir. Tapi ini kan pemerintah tidak berusaha untuk itu. Rencananya, rencananya, tapi tidak jadi-jadi. Dengan teknologi sekarang udah gampangnya itu, sekarang mau atau tidak,” tegasnya.
Saat ditanya hal yang menyebabkan banjir ini terjadi berulang kali, Jaya Arjuna mengatakan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena adanya kerusakan hutan, seperti penebangan kayu, pembukaan lahan untuk lading, dan tindakan-tindakan yang merusak unsur hara lainnya.
“Mereka juga yang tinggal di pinggir sungai itu juga menimbulkan kerusakan lingkungan, sampah mereka dibuang ke sungai, kenapa dibuang ke sungai, karena nggak ada yang ngutip. Dikumpulkan pun sampah mereka, tapi nggak ada yang ngutip akhirnya ya dibuang ke sungai. Jadi itu ada proses berantai,” tuturnya.
Menurutnya, baik Pemerintah Kota Medan, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dan Pemerintah Kabupaten Karo harus bersinergi dengan Balai Wilayah Sungai dan PUPR. “Masa selama ini tidak ada perbaikan, sudah bertahun-tahun. Kita sudah meneliti tahun 2008 dulu, sudah diusulkan seperti itu pada PDAM tapi PDAM lebih banyak bergerak di bidang politik,” tuturnya. [KM-06]














