MEDAN, KabarMedan.com | Hampir semua lapisan masyarakat terdampak pandemi COVID-19. Tak terkecuali para pelaku event organizer (EO). Saat ini mereka harus ‘menyepi’ karena keramaian menjadi hal ‘tabu’ sejak merebaknya virus dari Wuhan, China di Indonesia pada awal tahun. Sudah banyak di antara mereka yang dipaksa beralih bisnis kuliner, ternak ikan cupang hingga membuka usaha reparasi kipas angin dan mesin cuci. Bagaimanapun, selama sebuah perusahaan mengeluarkan produk, EO tetaplah menjadi bisnis yang menguntungkan.
Owner Satu Atap Communication, Mhd. Fadli Lupus mengatakan, jika saja tidak ada pandemi, tahun 2020 adalah tahun sibuk baginya. Dari Januari – September 2020, pihaknya sudah fully booked. Dalam 1 bulan, dia bisa menggelar 2 kali event. Sebagaimana dipahami, lanjutnya, ‘jualan’ EO adalah keramaian. Menggelar event dengan jumlah peserta ratusan hingga ribuan orang adalal hal yang biasa.
Dampak pandemi itu, lanjut Fadli, meskipun kasus COVID-19 di Indonesia pertama kali pada bulan Maret, namun EO sudah dirasakannya sejak bulan Februari. Dia mencontohkan, ada event dari sebuah bank swasta yang semestinya digelar di Lapangan Benteng pada bulan Juni. Namun karena trend kasus COVID-19 di Sumut terus bertambah, maka di bulan Mei, event tersebut ditunda. Begitu juga dengan event-event lainnya mengalami penundaan.
“Waktu itu kita mikir gimana ini. Lalu mulai lah makan dengan tabungan hingga akhirnya di bulan 9 kita jual aset. Emas sudah tergadai. Handy talkie (HT) sudah terjual untuk di pos ronda malam. Dari yang 1 set Rp 1,6 juta. Terjual Rp 500.000,” katanya menambahkan yang paling penting tidak terlalu banyak pengeluaran. Apalagi, pada bulan Agustus, istrinya melahirkan di rumah sakit dengan biaya operasi tidak lah sedikit. Dia tetap yakin akan selalu ada rezeki untuk anaknya.
Dikatakannya, dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang, di mana kerumunan adalah ‘jualan’, tidak semua dari bagian protokol kesehatan yang bisa disesuaikan. Misalnya, dalam event fun bike dengan peserta 300 – 500 orang, semestinya sudah digelar karena semua persyaratan administrasi sudah diurusnya. Begitupun sponsor sudah didapatkan. Izin keramaian, kata dia, adalah bagian sulitnya.
“Bukan gak dikasih. Tapi tidak boleh lebih dari 50 orang. Itu sulit disiasati. EO itu kan mencari kerumunan, crowd,” katanya.
Sulitnya Meminjam
Fadli menjelaskan, sebelum adanya virus yang menewaskan ribuan orang di seluruh dunia itu, untuk meminjam uang puluhan hingga ratusan juta rupiah dari sesama EO adalah hal yang mudah. Meskipun tanpa ada ikatan tertulis. Bahkan hanya dengan menghubungi via telepon sekalipun, pinjaman dapat dengan mudah mengalir ke rekening. Kemudahan itu saat ini adalah kebalikannya. Tabungan sudah ‘termakan’ dan aset pun sudah terjual. “Cepat-cepat lah cari usaha lain,” katanya.
Ragam ‘Peralihan’
Sejak aset-aset terjual, dia pun mencari peluang pemasukan yang lain. Dia melirik tas sepeda. Dia merogoh kocek jutaan rupiah untuk belanja dari China kemudian dijualnya via online. Awalnya, usaha itu cukup menjanjikan. Dia pun kembali berbelanja. Pada saat barang sampai, trend naik sepeda tak lagi seperti sebelumnya. “Modal terbenam. Tidak menutup la. Tapi daripada tidak ada. Ampun lah,” katanya.
Dikatakannya, banyak rekan-rekannya sesama EO yang kini beralih profesi. Mulai dari bekerja bersama keluarganya, menjadi kontraktor, jualan makanan dan minuman, bahkan ada juga yang membuka usaha reparasi kipas angin dan mesin cuci karena kebetulan latar belakang sekolahnya elektro. Ada juga yang beternak ikan, atau berjualan ikan cupang, membuka usaha doorsmeer dan lainnya.
“Tahun 2020 ini bertahan. Untuk cari kaya tak bisa. Kalau yang owner, yang kolaps belum ada lah. Tak ada penghasilan, banyak,” katanya.
Dengan situasi sekarang ini, dia tetap yakin bahwa masa depan dari bisnis EO tetap menjanjikan keuntungan. “Aku rasa, selama orang masih punya produk, EO masih menjadi bisnis yang menguntungkan. Mati tidak, karena pasti ada formula baru. Cara baru untuk tetap hidup. Tapi untuk saat ini belum lah,” katanya.
Beberapa waktu lalu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Penyelenggaraan dan Pelaksana Acara (APPARA) Indonesia, Hendraa Gunawan Kaban menyebut bahwa saat ini 2000-an pelaku usaha event, mulai dari band, dancer, crew, EO, MC, vendor, sound and lighting technician dan lain sebagainya sudah mantab (makan tabungan) dan manset (makan aset).
“Bukan hanya mantab atau makan tabungan lagi. Ini kita udah manset, udah makan aset. Teman-teman kan tak mungkin memberhentikan anggotanya. Kalau sampai akhir tahun begini terus, akan banyak EO yang tutup atau pindah (profesi),” katanya.
Jika mengikuti peraturan menteri kesehatan, sebenarnya sudah diperbolehkan untuk penyelenggaraan event. Namun demikian, saat ini banyak asosiasi sedang menyusun protokol sesuai cluster bisnis masing-masing. Menurutnya, ada perbedaan untuk sektor perhotelan, restoran, mall dengan penyelenggaraan event (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition/MICE).
Dijelaskannya, APPARA sudah memberikan masukan untuk protokol yang sesuai dalam penyelenggaraan MICE melalui Dinas Pariwisata. Namun saat ini, belum ada yang dikeluarkan pemrintah sesuai dengan regulasi Kemenkes, Kemenparkraf, Gugus Tugas dan lainnya. “Event ini kan pasti mengumpulkan banyak orang di waktu yang sama. Protokol kesehatannya dibutuhkan lebih massif,” katanya.
Mulai dari cuci tangan, seleksi untuk ke dalamnya. Sementara untuk hotel, restauran, dan mall, pengunjung atau tamunya keluar dan masuk. “Setiap event ada antiseptic cabin, ada thermo gun, hand sanitizer, healthy kit, masker, sarung tangan plastik dan lainnya. Pasti itu bebannya ke penyelenggara. apakah klien bersedia untuk itu, masih didiskusikan,” katanya.
Sedangkan untuk event-event yang sudah direncanakan sebelum adanya pandemi COVID-19, terpaksa harus dijadwal ulang hingga waktu yang belum ditentukan. Begitu halnya dengan event-event yang sudah mengeluarkan down payment (DP), diberi kelonggaran hingga akhir tahun. Apalagi, untuk penyelenggaraan event, memerlukan banyak perizinan.
“Izin keramaian, misalnya. Kita kan harus sesuai regulasi. Tak mungkin bikin event lalu dibubarkan. Artinya harus disetujui dulu baru dilaksanakan,” katanya.
Berkaca dari daerah lain seperti di Jakarta, Jawa Tengah dan lainnya. Menurutnya, pelaku event dan pemerintahnya di sana sudah mulai mempersiapkan diri. Bahkan di Jakarta, sudah ada kesepakatan oleh penyelenggara event, kepolisian, pemerintah dan Dinas Kesehatan.
Pada dasarnya, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, selama belum ada vaksin, maka protokol kesehatan harus dijalankan dengan ketat atau harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Bagaimana hidup berdisiplin dengan regulasi yang ada, bagi EO sudah ‘khatam’.
“Event harus aman dan nyaman. Kita sampaikan ke stakeholder, pinginnya cepat. Tapi dengan prorokol kesehatan. Kalau bisa cepat, kalau bisa iya, kenapa tidak,” ujarnya.
Menurutnya, di masa pandemi COVID-19 atau menjelang new normal saat ini, secara cost mungkin sama, secara income sudah pasti beda. Ada yang dikurangi, itu konsekuensi. Brand, kata dia, pasti membutuhkan promo. Sudah 4 bulan, aktivitas direct ke customer service sama sekali ditiadakan.
“Mungkin dikasih stimulan pemerintah, meeting kedinasan sudah diserahkan ke pihak ketiga. Karena kalau bicara opportunity, kalau vaksin sudah didapat, event, pariwisata, perhotelan pasti rebound,” katanya. [KM-05]














