Temukan ‘Passionmu’, Maka Kebahagiaan Akan Mengikuti

MEDAN, KabarMedan.com | Komika Majelis Lucu Indonesia Reza ‘Coki’ Pardede, menegaskan kesuksesan tak bisa dinilai dari materi.

Demikian dikatakannya dalam acara ‘Future Leader’s Talk: Horas Medan’ yang digagas Kantor Staf Presiden bersama anak muda Sumatera Utara, di Potret Cafe Medan, Jumat (22/3/2019).

“Tunjukkan pada orangtua bahwa apa yang kita lakukan adalah passion, yang bisa membuat kita bahagia. Jika orangtua melihat kita bahagia, pasti mereka akan bahagia, karena pada dasarnya setiap orangtua ingin anaknya bahagia,” katanya.

Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Syska Hutagalung, dalam acara tersebut membagikan jalan hidupnya sebagai anak muda kampung dari Tarutung.

“Saya kerap dirisak karena berasal dari desa. Tapi saya buktikan, ‘Si Tarutung’ ini bisa sukses,” ujarnya.

Syska mengaku, tugas Kantor Staf Presiden memantau program- program prioritas Presiden dapat tepat sampai kepada penerima manfaatnya.

Selain itu, katanya, bekerja di institusi publik seperti yang dia lakukan benar-benar sebuah ‘pengabdian’.

“Pengabdian itu kata dasarnya bukan ‘abdi’ tapi ‘pengap’. Kita kerja keras 24 jam dalam 7 hari, layaknya restoran siap saji yang tak pernah berhenti melayani,” cetusnya.

Baca Juga:  Terima Aspirasi Pendukung MBG, Bobby Nasution Siap Teruskan Petisi Masyarakat Sumut ke Presiden Prabowo

“Meski pekerjaannya nyaris tanpa henti, kita tetap harus nikmati dan berbahagia, karena yang kita perjuangkan adalah keberpihakan untuk masyarakat,” tambahnya.

Togu Simorangkir, tokoh muda inspiratif Sumatera Utara juga membagikan pengalamanannya. Ia memutuskan pulang kampung setelah enam belas tahun merantau. Master bidang konservasi primata dari Oxford Brookes University, Inggris ini terpanggil menolong anak-anak yang kesulitan akses belajar dan membaca di Pulau Samosir.

“Sebenarnya alasan saya pulang kampung karena ‘patik palimahon’, menghormati orang tua seperti ajaran agama,” akunya.

Pegiat literasi yang mendirikan kapal belajar untuk tempat membaca bagi anak-anak di sekitar Danau Toba ini menceritakan kisah awal perjuangannya.

“Saya keluar dari organisasi internasional dengan gaji sekitar 20 juta rupiah per bulan lalu membuka usaha jualan air minum. Untungnya dua ribu rupiah per galon, seribu rupiah buat saya, seribunya lagi buat yayasan,” kata pendiri Yayasan Alusi Taoutoba pada 18 Juni 2009 itu.

Saat ini sudah ada 8 rumah belajar yang ia buat agar anak-anak di sekitar Danau Toba tetap dapat membaca. Untuk menghidupkan rumah belajar itu, Togu dan rekannya Biston Hutahuruk rela berjalan kaki sejauh 305,65 kilometer mengitari Danau Toba, dalam rangka mengumpulkan donasi secara independen tanpa bantuan pemerintah.

Baca Juga:  Raih WTP ke-12 Berturut-turut, Bobby Nasution Minta Aparatur Tetap Jaga Integritas

“Saya bersyukur tersesat di jalan yang benar. Secara finansial memang terjun bebas, tapi saya menemukan happiness yang tidak bisa dinilai,” jelas peraih anugerah Kick Andy Heroes 2019 ini.

Anak desa dari Silulu, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, itu tak menyesal ketika suatu saat membatalkan undangan ‘reuni’ ke Inggris, menjadi pembicara sebuah seminar demi mendengar ajakan kepala desa untuk membuat perpustakaan di kampungnya.

Ia lebih memilih pulang dari bekerja di sebuah NGO di Kalimantan dengan uang sendiri.

“Padahal kalau berangkat ke Inggris, semuanya diongkosi, dapat uang saku pula. Tapi, jika saat itu tidak memilih pulang kampung, rumah dan kereta bacaan bagi anak-anak di Toba tidak akan pernah ada. Hidup kita harus berguna bagi orang lain,” akunya.

Togu menekankan hanya ada dua kunci menegaskan berbagai pencapaiannya selama ini komitmen dan konsistensi.

“Untuk mengubah hal-hal besar tak harus melakukan hal-hal besar. Jangan berpikir pada angka, tapi kualitas,” pungkasnya. [KM-03]